Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Pical Gadi

Kepala Bidang Pemberdayaan Credit Union Mekar Kasih Makassar| Phlegmatis-Damai| Sedang memperjuangan Pendidikan Financial Literacy untuk selengkapnya

200 Pengacara Tanpa Bayaran Siap Bela Rizal Ramli

REP | 27 January 2014 | 17:13 Dibaca: 165   Komentar: 29   9

1390817477914200636

Rizal Ramli. Gambar dari id.wikipedia.org

Hari Gini Gratis? Hellow??!!

Dear Kompasianer, pasti sudah sering dengar selentingan seperti itu. Masuk akal sih. Di zaman penuh intrik dan hitung-hitungan seperti ini mana ada orang yang mau kerja tanpa imbalan.  Apalagi untuk kerjaan yang rada-rada high risk.

Tapi inilah realitanya. Tidak kurang dari 200 pengacara yang tergabung dalam Tim hukum pengawal Demokrasi dan kebebasan bersatu padu membela perkara Rizal Ramli yang mendapat somasi dari Presiden SBY. Pengacara-pengacara itu berada di bawah koordinasi Otto Hasibuan, seorang pengacara yang sudah cukup senior. Menariknya, mereka tidak dibayar satu sen pun. Mantan menko perkonomian era Alm. Gus Dur itu, sebagaimana ditulis tribunnews.com mengatakan dia tak sanggup membayar pengacara sebanyak itu.

Baru-baru ini, Rizal Ramli memang mendapat somasi dari Presiden SBY. Somasi tersebut dikeluarkan melalui pengacara keluarga Palmer Situmorang akibat pernyataannya yang memang bisa membuat pihak-pihak terkait merah telinganya. Ramli menghubungkan kasus Century dengan Wapres Boediono. Dia membuat pernyataan mengenai posisi Wapres yang menurutnya adalah gratifikasi dari cairnya Dana Talangan bank Century. Tajam dan menohok. Tak ayal, senjata khas presiden akhir-akhir ini pun dijatuhkan.

Merasa tak sreg dengan dengan somasi tersebut, sejumlah pengacara pun memberi perhatian khusus dan merapatkan barisan. Saat dikonfirmasi oleh tribunnews.com, Otto Hasibuan mengatakan latar belakang pihaknya dan kawan-kawan mau membela Rizal Ramli karena prihatin dengan cara SBY membungkam kebebasan menyatakan pendapat masyarakatnya. “Sebagai advokat kita prihatin dengan adanya somasi ini. Lonceng kematian demokrasi dan kebebasan berpendapat sudah berbunyi,” tutur Otto saat diwawancarai media di Gedung Juang Jakarta Pusat hari ini.

Bebearapa waktu lalu Otto juga masuk ke dalam tim hukum yang membela kasus Akil Mochtar. Tapi karena dia merasa ada miss-communication antara dia dan kliennya itu, dia memilih untuk mundur.

Mendapat dukungan dari sekian banyak pengacara yang dikomandani seorang Otto, membuat Rizal Ramli tak gentar. Dia malah berencana merangkul pihak-pihak lain yang juga pernah mendapat somasi, seperti Sri Mulyono dan Fahri Hamzah.

Biaya menggunakan jasa seorang pengacara bervariasi. Angkanya mulai dari beberapa juta sampai ratusan juta rupiah bahkan lebih, tergantung kasus yang ditangani, jam terbang dan prestasi pengacaranya. Tapi angka beberapa juta pun bukan duit sedikit. Itu untuk hitungan satu orang, bagaimana membayar 200 orang sekaligus? Apalagi diantaranya ada nama sekaliber Otto Hasibuan.

Saya berkawan dengan beberapa volunteer yang bekerja untuk NGO yang bergerak di bidang penanganan bencana. Walaupun volunteer, jam kerja mereka kadang hampir sama dengan jam kerja profesional, bahkan lebih. Saat saya bertanya apa sih yang membuat mereka betah, mereka menjawab, ada “nilai-nilai” yang mereka temukan di tempat itu. Nilai itu mereka temukan dalam senyuman tulus dari orang-orang tertimpa bencana saat bantuan tiba. Nilai itu mereka temukan saat mereka berhasil membangkitkan kembali semangat para korban bencana. Nilai-nilai itu tidak bisa diukur dengan materi dan hitung-hitungan gaji belaka.

Para pengacara itu kalau dipikir-pikir bisa disamakan dengan volunteer yang saya kisahkan barusan. Tapi pertanyaannya, apakah mereka juga tergerak karena “nilai-nilai” seperti itu, ataukah ada hal lainnya? Kita tunggu kelanjutan dramanya.

Referensi:

Tribunnews.com

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Menjelajah Pulau Karang Terbesar di …

Dizzman | | 31 October 2014 | 22:32

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | | 31 October 2014 | 08:42

Hati Bersih dan Niat Lurus Awal Kesuksesan …

Agung Soni | | 01 November 2014 | 00:03

Rayakan Ultah Ke-24 JNE bersama Kompasiana …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 12:53


TRENDING ARTICLES

Susi Mania! …

Indria Salim | 5 jam lalu

Gadis-Gadis berlagak ‘Murahan’ di Panah …

Sahroha Lumbanraja | 7 jam lalu

Pramugari Cantik Pesawat Presiden Theresia …

Febrialdi | 9 jam lalu

Kerusakan Demokrasi di DPR, MK Harus Ikut …

Daniel H.t. | 10 jam lalu

Dari Pepih Nugraha Untuk Seneng Utami …

Seneng | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Sengkuni dan Nilai Keikhlasan Berpolitik …

Efendi Rustam | 8 jam lalu

Wakatobi, Potongan Surga yang Jatuh ke Bumi …

Arif Rahman | 8 jam lalu

Danau Poso, Keelokannya Melahirkan Rindu …

Jafar G Bua | 9 jam lalu

Politik Saling Sandera …

Salman Darwis | 10 jam lalu

Bank Papua, Sponsor Tunggal ISL Musim Depan …

Djarwopapua | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: