Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Dr. Andi Khomeini Takdir Haruni

seorang dokter, yang berminat dan juga berbakat politik. bukan yang kotor. twitter : @dokterkoko

Kasus Dokter Ayu Perlu Solusi Hukum Baru

OPINI | 25 November 2013 | 20:37 Dibaca: 963   Komentar: 12   2

Masyarakat kita sedang hangat memperbincangkan beberapa masalah, mulai dari penyadapan Australia dan Amerika, kasus korupsi megaproyek Hambalang dan bailout Century, dan kini bertambah satu topik lagi, yaitu mengenai tiga orang dokter ahli kandungan yang dipidana penjara karena tuduhan melakukan tindakan malpraktik.

Sebagai seorang dokter, topik terakhir ini mendatangkan kekhawatiran tertentu. Minimal bisa dibagi dalam 3 alasan yaitu :

1. Dokter Indonesia akan melakukan praktik berlandaskan “defensive medicine”

“Defensive medicine” dilakukan dokter untuk menghindari tuntutan hukum di kemudian hari dari pasien yang tidak puas terhadap hasil atas upaya berobat yang dilakukan. Praktik ini menjadi momok di banyak negara maju. Beban terhadap jaminan kesehatan yang dijalankan pemerintah maupun pihak swasta meningkat dari waktu ke waktu, karena dokter akan meminta prosedur dan pemeriksaan yang sebenarnya kurang perlu. Prediksi penulis? “Defensive medicine” ini akan menghabiskan anggaran BPJS sebelum 1 tahun berjalan. Apa yang terjadi setelah itu?

2. Dokter yang mendapat pidana kurungan penjara bisa dicontoh negara lain

Hukuman berupa pidana penjara untuk dokter tidak lazim terjadi di belahan Bumi manapun sebelum ini. Kecuali memang pada pelanggaran berat etika profesi, misalnya pada kasus dokter yang membuka klinik aborsi yang dengan sengaja menghilangkan nyawa pasiennya. Jika vonis pidana atas sebuah risiko tindakan medis ini nyata ada dalam sistem peradilan kita, maka bukan tidak mungkin vonis tersebut diambil sebagai contoh oleh negara lain dengan sistem peradilan yang mirip dengan peradilan di Indonesia.

3. Peminat profesi dokter akan berkurang

Makin beratnya tantangan yang dialami oleh seorang dokter dalam menjalankan profesi ini akan menurunkan animo masyarakat untuk memilihnya sebagai profesi. Di banyak negara yang menjalani “defensive medicine”, mereka sudah mengalami bagaimana menurunnya jumlah pendaftar untuk jurusan pendidikan kedokteran. Kedokteran dianggap sebagai profesi yang tidak lagi menjanjikan. Masuknya susah, masa pendidikan lama, berbiaya tinggi, dan tingkat kesejahteraannya hanya pada level menengah, dengan kekhawatiran atas ancaman hilangnya aset mereka (yang bukan dari tindak korupsi) namun bisa lenyap tak berbekas ketika ada 1-2 pihak yang tidak puas.

Satukan ketiga alasan tersebut : dokter yang defensif, dokter yang dipenjara, dan dokter yang makin sedikit untuk melayani ratusan juta rakyat. Hasilnya? Indonesia Sehat bisa makin jauh untuk terwujud dan hanya menjadi pepesan kosong belaka.

Situasi dan kondisi yang menjerat dr. Ayu dkk yang juga dirasakan oleh puluhan ribu dokter lain di seluruh Indonesia tidak bisa dipecahkan dengan sistem dan perangkat hukum yang kita miliki saat ini. Advokasi yang dilakukan oleh Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB-IDI) dan Kementerian Kesehatan berkoordinasi dengan Perkumpulan Obstetri Ginekologi Indonesia (POGI) dan IDI Wilayah Sulawesi Utara membuahkan hasil dr. Ayu menjadi tahanan kota. Namun itu belum cukup, karena dua sejawat lain yang ikut membantu operasi cito-sectio cesarean waktu itu juga menjadi DPO dan ditangkap satu per satu.

Dokter se-Indonesia sudah menyatakan sikap keprihatinan bersama atas kondisi ini melalui doa bersama, pernyataan sikap dari masing-masing cabang dan wilayah, serta pemakaian pita hitam sebagai lambangnya. Bahkan ada aksi mogok pelayanan beberapa jam di beberapa pos pelayanan tertentu, hingga aksi teatrikal yang melakonkan penolakan terhadap kriminalisasi dokter. Faktanya? Belum juga ada solusi yang signifikan terhadap dokter-dokter yang dijatuhi hukuman itu. Mereka masih diburu seperti kriminal dan jelas makin membuat gusar dokter-dokter lainnya. Ini jelas kondisi “extra-ordinary” dan mengganggu pelayanan kesehatan untuk rakyat kita sejak hari ini hingga di masa depan nanti.

Melalui tulisan ini, penulis ingin menyampaikan kepada segenap perangkat hukum agar menyadari situasi dan kondisi secara keseluruhan dan kepentingan masyarakat luas di masa yang akan datang. Benar bahwa upaya Peninjauan Kemballi (PK) yang saat ini ditempuh merupakan tatacara hukum formil kita, namun secara bersama-sama kita harus memperhatikan kepentingan yang lebih besar, dalam hal ini pelayanan kesehatan terhadap rakyat yang berjalan lancar tanpa gangguan.
Majelis Hakim dan Jaksa Penuntut yang dilibatkan dalam upaya PK hendaknya memperhatikan 3 poin ini:
1. Vonis bebas kepada 3 orang dokter yang sebelumnya telah diputuskan oleh Pengadilan Negeri Manado
2. Menyadari niat baik dari pribadi dokter yang bersangkutan untuk menyelamatkan nyawa pasien dan atau janin yang dikandungnya, meskipun pada akhirnya menuai kegagalan (tanpa kesengajaan)
3. Memperhitungkan efek bola salju penerapan “defensive medicine” secara luas setelah preseden buruk peradilan terhadap ketiga dokter ini.
Preseden buruk yang menguras energi dokter Indonesia ini harus berhenti sampai disini. Kedepannya tak boleh ada lagi dr. Ayu-dr. Ayu yang lain, dokter yang dipidana karena kegagalan upayanya. Kita harus memiliki sistem peradilan yang lebih holistik dalam menilai keunikan dan sifat sektor pelayanan medis yang memiliki banyak faktor yang sulit ditebak. Sistem hukum yang baru juga harus mengakomodasi pandangan etika kedokteran dan mampu memilah antara risiko tindakan medis dengan malpraktik.
Sistem Peradilan dan Sengketa Medik. Sebuah solusi hukum baru untuk kebebasan dr. Ayu, dkk. Sebuah sistem peradilan yang holistik dalam memahami dan mengayomi para pelayan kesehatan. -Lex specialis derogate legi generalis- Demi Indonesia sehat. Demi kebaikan seru sekalian rakyat.
Makassar, 25/11/2013

(dr. Andi Khomeini Takdir Haruni)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Batik 3005 Meter Karya Masyarakat Yogyakarta …

Hendra Wardhana | | 02 October 2014 | 12:27

Antara Yangon, Iraq, ISIS dan si Doel …

Rahmat Hadi | | 02 October 2014 | 14:09

Kopi Tambora Warisan Belanda …

Ahyar Rosyidi Ros | | 02 October 2014 | 14:18

Membuat Photo Story …

Rizqa Lahuddin | | 02 October 2014 | 13:28

[DAFTAR ONLINE] Nangkring bersama Bank …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:52


TRENDING ARTICLES

“Saya Iptu Chandra Kurniawan, Anak Ibu …

Mba Adhe Retno Hudo... | 4 jam lalu

KMP: Lahirnya “Diktator …

Jimmy Haryanto | 5 jam lalu

Liverpool Dipecundangi Basel …

Mike Reyssent | 10 jam lalu

Merananya Fasilitas Bersama …

Agung Han | 10 jam lalu

Ceu Popong Jadi Trending Topic Dunia …

Samandayu | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Kios Borobudur Terbakar, Pencuri Ambil …

Maulana Ahmad Nuren... | 7 jam lalu

Kemacetan di Kota Batam …

Cucum Suminar | 7 jam lalu

“Amarah Nar Membumihanguskan …

Usman Kusmana | 7 jam lalu

Pembunuh (4) …

S-widjaja | 7 jam lalu

Penghujat SBY, Ayo Tanggung Jawab…!! …

Sowi Muhammad | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: