Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Indo Dutch

Keep studying for better understanding

Islam, Dakwah dan Bercopas Ria

REP | 06 September 2013 | 03:12 Dibaca: 292   Komentar: 7   2

Setelah membaca tulisan yang cukup menarikm ini(http://kangaswad.wordpress.com/2012/04/26/muslimah-mantan-aktifis-demo-membeberkan-fakta/) perhatian saya tertuju terhadap beberapa point. Sebenarnya secara pribadi, saya termasuk orang yang suka menahan menahan diri dan enggan membahas tulisan yang hanya berdasarkan Copy Paste. Meskipun demikan, di tengah-tengah kesibukan dan juga mungkin dengan kemampuan menulis dalam bahasa Indonesia yang cukup terbatas (maklum, sudah 23 tahun tidak pernah menulis dlm bahasa Indonesia, tapi kalu lisan tentunya masih lancar), saya mencoba memberi tanggapan terhadap tulisan CoPas di atas dan mungkin tulisan2 sebelumnya.

Pertama-tama penulis dan juga PENJIPLAK (baik penjiplak atau COPY-PASTER pertama dan seterusnya) rupanya kurang mengerti akan essensi demokrasi. Penulis mengatakan: “dalam demokrasi yang benar adalah suara terbanyak meskipun salah” . Ini jelas suatu PENDAPAT YANG SALAH. Demokrasi yang benar adalah demokrasi yang menghargai THE RULE OF LAW!!! Jadi suara terbanyak pun tidak ada harganya jika THE RULE OF LAW tidak diperhatikan, dihormati dan dilaksanakan dengan baik. Bukankah ADOLH HITLER pun dulu dipilih secara demokratis??? Tetap saja demokrasi di jaman Hitler tidak bisa dibenarkan. Demokrasi yang benar dengan The Rule of Law MENGHORMATI dan MENGHARGAI HAK2 KAUM MINORITAS. Inilah salah satu prinsip The Rule OF Law. Memang benar, demokrasi muncul di jaman ARISTOTELES (kurang lebih 384 – 322 sebelum masehi) yang dia sendiri pernah menimba ilmu kepada PLATO di Plato Academy di Athena. Tetapi Aristoteles juga dalam kehidupan berdemokrasi mengajarkan MODERATION and MODESTY (bahasa Indonesianya apa ya?). Aritoteles kemudian diundang oleh King Phillip II of Macedon untuk menjadi dosen di ”Royal Academy” dan menjadi guru pribadi anaknya yang akhirnya menjadi King Alexander The Great (Megas Alexandros 336 – 332 sebelum masehi). Setelah menaklukan Raja Darius III dari Persian Empire (Alexander kemudian di kenal di Persia dgn nama Sikander dan dlm bahasa Arab menjadi Iskandar) dan juga memperluas wilayah kekuasaannya sampai India Utara sampai, ke batas Sungai Indus, Aleaxander masih menerapkan ajaran “MODERATION and MODESTY“ dgn menghargai hak2 kaum minoritas. Untuk menyatukan wilyahnya “Under One Royal Family“ dia juga menikahi banyak perempuan dari kepala suku/raja yang sudah ditaklukinya

Saya jadi bertanya-tanya, apakah penulis menyembunyikan informasi ini atau memang penulis tidak tahu? Padahal penulis MENG-CLAIM: “ana juga pernah belajar politik di SMU“ . But this is not the issue here. The issue here is about RESPECTING THE MINORITY. Jadi bukan yg seperti penulis paparkan karena SALAH KAPRAH dan mengartikan demokrasi secara sempit.

Demokrasi dgn The Rule of Law tetap diterapkan di Eropa. Dengan konsep inilah KAUM MINORITAS dalam kehidupan berbangsa dan bernegara mempunyai hak2 dan kewajiban yang dilindungi. Umat Islam di Eropa sebagai kaum minoritas bisa membangun masjid, bisa menduduki posisi yang cukup tinggi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Ini yang Umat Islam pada umumnya dan di Indonesia khususnya, sering lupa jikalau posisi mereka ada di MAYORITAS secara KUANTITAS. Apakah umat agama lain bisa dengan mudah membangun misalkan gereja di Saudi Arabia, Mesir??? Kenyataannya, umat Kristen Koptik pun menjadi golangan yang tertindas di Mesir. Baru kalau gereja dibangun di Indonesia saja, Umat Islam karena merasa posisi dirinya ada di mayoritas, sudah berkoar-koar dan yang muncul akhirnya CONSPIRACY THEORY kristenisasi dengan dalil karena gereja dibangun di daerah pemukiman yang berpenduduk muslim. Kalau dalil ini diterapkan di Eropa, maka hanya ada dua kemungkinan: Pertama, tidak akan pernah masjid dibangun karena di mana masjid di bangun, penduduknya di mana-mana pun bukan mayoritas islam. Kedua, supaya masjid bisa dibangun di daerah mayoritas muslim, umat islam di Eropa harus dipindahkan secara masal, dialokalisasi dan yang terjadi adalah EXODUS.

Bukan suatu hal yang aneh, jika anda tiba di Bandara Internasional London Heathrow, petugas immigrasi mengenakan jilbab. Bukan suatu hal yang aneh, jika anda pergi ke Kementrian Imigrasi dan Naturalisasi di Kerajaan Belanda dilayani oleh perempuan yang berjilbab. Bukan suatu hal yang aneh, jika anda mendengar anggota Parlemen Belanda seorang muslimah bernama Khadijah Arib (http://en.wikipedia.org/wiki/Khadija_Arib dan http://www.tweedekamer.nl/kamerleden/alle_kamerleden/arib_khadija/index.jsp) atau seorang muslim bernama Tofik Dibi (http://en.wikipedia.org/wiki/Tofik_Dibi dan http://www.tweedekamer.nl/kamerleden/alle_kamerleden/dibi_tovek/index.jsp). Bukan suatu hal yang aneh kiha Wali Kota Rotterdam (Mayor of Rotterdam) seorang muslim bernama Ahmed Aboutaleb ( http://en.wikipedia.org/wiki/Ahmed_Aboutaleb ). Dan seterusnya….dan seterusnya….. Apakah kalau situasi sebaliknya, non-muslim tinggal di negara2 seperti Mesir, Saudi Arabia…..sebutlah satu per satu….. bisa mencapai dan menduduki posisi tersebut?

Tentu saja tidak ada The Rule of Law tanpa batas. Tidak ada hak2 asasi tanpa batas. Batasan inilah yang sudah kita sepakati bersama dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Sebagai contoh, dilarang para hakim untuk menggunakan atribut2 keagamaan tertentu. Dan ini pun berlaku bagi umat semua agama, bukan hanya untuk umat Islam minoritas saja yang ada di Mayoritas non-Islam. Bagaimana perasaan anda, seandainya anda diadili di ruang sidang, sang HAKIM menggunakan KALUNG SALIB yang sangat menyolok mata??? Tentunya perasaan kita sebagai muslim kurang sreg! Itulah sebabnya mengapa para hakim sebagai REPRESENTANT NEGARA yang multicultural dan multireligious dilarang mengenakan atribut2 keagamaan. Lebih extreme lagi, para hakim di Kerajaan Inggris mengenakan WIG (bisa diketik di google foto English Judges Wig).

Sudah menjadi kesepakatan bersama dalam kehidupan bermasyarakat dan bertatanegara di Eropa, bahwasanya negara dan pemerintah bersikap NETRAL terhadap seluruh agama. Hal ini pun terbukti bahwasanya di sekolah2 pemerintah (baca; sekolah negri) juga tidak ada atribut2 keagamaan seperti salib semua kelas2 sekolah pemerintah, meskipun Kristen adalah mayoritas. Dengan demikian Umat Islam di Eropa pun merasa lebih “sreg” untuk menyekolahkan anaknya di sekolah negri. Apakah Umat Islam di Indonesia sudah mengerti hal ini? Lain halnya kalau di Sekolah Islam Swasta (Islamic School), Sekolah Kristen Swasta (Christian School), Jewish School di Eropa. Sekolah2 ini bukan sekolah negri dan tidak dibiayai dari sistem pajak. Bahkan di negara Kristen katolik sekali pun, European Court of Human Right (http://www.echr.coe.int/ECHR/Homepage_En/) memerintahkan negara harus bersikap netral dan mengekuarkan salib2 dari seluruh sekolah negri (public school). Secara pribadi, tentu saja keputusan ini saya sambut dengan baik karena ini suatu bukti DEMOKRASI yang menerapkan The Rule Of Law, yang berarti MAYORITAS bukanlah segala-galanya. Orang tua muslim tentunya akan lebih “sreg” untuk menyekolahkan anak2 mereka di sekolah negri yg dibiayai dari system pajak pemerintah. Secara pribadi, saya merasa sangat kaget, setelah 20 tahun kembali ke SMA saya dulu, melihat perubahan bagaikan sekolah “Al Azhar“. Dari segi islami, tentu saja saya menyambut kemajuan ini secara positif. Tetapi dari segi kehidupan bermasyarakat dan bernegara, dan juga ditinjau dari segi “FAIRNEES and JUSTICE“ terhadap penganut agama lainnya, saya kurang “sreg“ karena sekolah ini adalah sekolah pemerintah yang masih mendapat subsidi dari pemerintah Indonesia. Di dalam hati kecil saya merasa umat islam di SMA saya dulu “Menjajah“ dan MENG-CLAIM dominansi mereka hanya atas dasar MAYORITAS tanpa memperhatikan hak2 kaum minoritas dan juga tanpa memperhatikan KUALITAS .

Pengalaman saya pribadi, Umat Islam di Indonesia khususnya, mungkin karena merasa dirinya ada di mayoritas, sering berkelakuan seenaknya sendiri. Kelihatan paradox dan bertentangan sekali tulisan di atas, apalagi dengan ajaran Islam. Di satu pihak menyatakan suara terbanyak tidak selalu benar. Di lain pihak Umat Islam kurang menghargai kaum minoritas di Indonesia karena merasa dirinya di seluruh Indonesia mayoritas, sekalipun mereka sebagai kaum minoritas yg berada ditengah-tengah mayoritas. Sebagai contoh: sewaktu saya berlibur di Bali dan menginap di hotel di daerah mayoritas Hindu, subuh2 terdengar bunyi adzan, yang meskipun merdu dengan tajwidnya, tetapi cukup memekakkan telinga. Selidik punya selidik dan setelah saya berinteraksi dengan masyarakat di kampung, saya tahu bahwa MUSLIM PENDATANG ke Tanah Hindu ini berada di kaum minoritas sekali (mungkin hanya ada 10 keluarga muslim di kampung). Tetapi meskipun demikian para penduduk Hindu tetap tenang2 saja dan tidak ribut2. Pertanyaan saya pribadi, apakah Umat Islam akan tenang2 saja, seandainya Lonceng Gereja berdengung pada hari minggu pagi di kampung yang mayoritas muslim? Yang keluar biasanya adalah KONSPIRASI TEORI dan KRISTENISASI dan lain sebagainya. Umat Islam kurang mengintrospeksi dan mengevaluasi diri. Padahal introspeksi dan evaluasi adalah kunci kemajuan. Kadang-kadang saya bertanya-tanya: kalau pastor atau pendeta Kristen bisa mengirim missi “dakwah” mereka sampai ke pelosok2 pedalaman amzonas di Brasil atau Kalimantan atau Irian jaya, kenapa para du’aat Islam tidak bisa??? Secara “sinis” saya menduga-duga: “oooohhh…..mungkinkah para du’aat sudah memikirkan perut mereka terlebih dahulu sebelum berangkat??? Di sana ada makanan halal nggak yah?”

Umat Islam di Indonesia sekarang, dalam dakwahnya, selalu SIBUK dan bahkan TERLALU SIBUK dengan urusan2 Siyyasah (politik). Menegakkan Daulah…..menegakkan Syariah….dsb….dsb… Teman2 mantan SMA saya yang orang Jakarta suka memberikan julukan DAKWAH UUP (ujung-ujungnya power). Bahkan lebih parah lagi, demi politik dan golongannya, Umat Islam saling mengkufurkan satu sama lainnya. Mungkinkah ini karena PERASAAN KETAKUTAN dan PERASAAN TIDAK TENANG di dalam hati Umat Islam itu sendiri, takut kalau posisi mereka sebagai mayoritas goyah dan goncang??? Saya melihat umat Hindu Bali, rasanya tenang2 saja, meskipun para PENDATANG MUSLIM ke Pulau Dewata ini sering berperilaku tidak baik. Mereka tidak merasa khawatir dengan kehidupan keagamaan mereka meskipun ada adzan keras-keras 5 kali sehari. Tetap saja pada umumnya mereka mempertahankan kepercayaan mereka dan tetap tenang dan tentram di hati. Teringat kembali juga saya pelajaran sejarah di German High School (Gymnasium) di mana di masa pemerintahan Queen Elizabeth I (REIGN: 1558 – 1603) terjadi perang antara Kristen Katolik dan Kristen Protestan. Setelah lolos dari “aksi pembunuhan teroris” ratu kriten protestan ini menolak menjatuhkan hukuman hanya atas dasar agama (katolik) tanpa perbuatan “teroris” terbukti. She said to her privy council: FEAR CREATES ONLY FEAR (rasa ketakutan hanya akan menimbulkan rasa ketakutan), my Lords! I am not ignorant of the danger on my person, my Lords. But I WILL NOT punish my people for their BELIEVES!!! ONLY for their DEEDS!!! I am sure that the people of England love their queen. And my constant endeavor is to EARN that love!” Mungkin rasa ketakutan (Fear Creates Only Fear) inilah yang membuat kebanyakan umat Islam pada umumnya tanpa “Family Planning” berbondong-bondong “mencetak anak” sebanyak mungkin, kalau perlu dari istri yang berlainan, tanpa memperhatikan biaya pendidikan dan tingkat standard kehidupan anak. Untuk apa menjadi mayoritas tetapi kalau kebanyakan orangnya tidak berilmu? Bukankah Quality lebih utama daripada Quantity? Memang benar Innar Rizka MinAllah…..tetapi bukankah Allah juga memberikan kita otak untuk berpikir dan memberikan kebebasan untuk mengambil keputusan berdasarkan GOOD REASONING???

Karena TERLALU SIBUK dengan Siyyasah (politik) dan Daulah nya, Umat Islam di Indonesia lupa akan ESSENSI DAKWAH yang paling UTAMA: menegakkan TAUHID dan menghancurkan SYIRIK. Padahal Syrik dan “Praktek Perdukunan” masih tumbuh subur di Nusantara. Kalau TAUHID tidak ditegakkan terlebih dahulu, maka apa gunanya ISLAM dan DAKWAH ISLAM??? Padahal, TAUHID adalah essensi yang paling penting dalam Islam. Saking pentingnya sehingga kewajiban Tauhid tidak boleh lepas dari diri seorang muslim meskipun satu detik sekalipun! Meskipun MULUT seorang MUSLIM berkata lain karena mungkin dipaksa untuk mengatakan yang lain karena ancaman dsb, HATI nya harus tetap ber-TAUHID dan Tuma’niinah dengan Tauhid. Dakwah para Nabi (Al Anbiyaa wal mursaliim) pun di tengah-tengah penguasa tiran adalah menegakkan TAUHID. Di sini, bukannya saya bermaksud ingin mengurangkan arti kepentingan daulah itu sendiri, tetapi saya hanya ingin menekankan bahwa daulah itu bukanlah segala-galanya dan tujuan dari dakwah itu sendiri. Jadi mereka yg HANYA MEMFOKUSKAN daulah adalah orang2 yg MELAMPAUI BATAS. Juga melampaui batas mereka yg mengatakan segala-galanya tegaknya ISLAM hanya dengan DAULAH, padahal kita tidak diperintahkan kecuali hanya utk beribadah dan MENEGAKKAN TAUHID.

Memang betul dan saya setuju dengan penulis, dan para penjiplak (copy paster) seterusnya, bahwasanya bahwasanya Rasulullah tidak pernah membawa-bawa SPANDUK dan BERDEMO sambil meneriakkan slogan2 dan yel2 tertentu utk menjatuhkan Abu Jahal dan Abu Lahhab. Tetapi kenyataan ini bukan berarti bahwasanya semua hal yg tidak ada di jaman RasulAllah s.a.w. abad ke 6 masehi dan sekarang ada di abad 21, atau sebaliknya semua hal yang ada dan sekarang tidak ada, itu adalah BID’AH dan TASYABBUH (menyerupai org kafir). Apakah menghapuskan dan bahkan MELARANG perbudakan itu berarti Bid’ah? Apakah pria memakai celana panjang itu berarti Tasyabbuh jadi para lelaki harus mengenakan JALABI? Apakah mengenakan PECI (asal muasalnya budaya HINDU NEPAL) itu berarti Tasyabbuh?? Mana ada di Jawa atau di seleuruh Nusantara/Indonesia di jaman dulu dan di Kesultanan Melayu di Melakka sekalipun, orang mengenakan peci yg sering org Indonesia, presiden dan mentri2 pakai sekarang!!! Anehnya, di Indonesia sekarang, menteri yg beragama Islam kalo foto resmi mengenakan peci, dan mentri yg beragama kristen tidak. Orang pun berbondong-bondong ke mesjid memakai PECI. Bahkan kalau perlu, sholat sendirian di rumah pun memakai peci di kepalanya. Tetapi buat saya hal ini BUKAN Tasayabbuh menyerupai orang Hindu Nepal!!! Transisi dan pertukaran budaya itu adalah hal biasa. Apalagi di jaman GLOBALISASI sekarang ini.

Dan Indonesia sebagai negara muda yang MultiCultural dari berbagai macam suku, memang perlu attribut2 dan simbol2 tertentu untuk menyatukan Bangsa dan membuat “Symbol Nasional” seperti mamakai peci. Tetapi bukannya berarti orang Muslim Indonesia harus MELEPASKAN seluruh budayanya dan meniru-niru dan MENJPLAK pula budaya Arab yang sering diasosiasikan dengan Islam, dengan mengenakan pakaian atau atribut2 tertentu, misalkan anggota DPR pakai SORBAN (http://www.youtube.com/watch?v=yoCbmIKh1zI&feature=related).

Sebaliknya, Konsep “UNA IN DIVERSITATE” atau EST PLURIBUS UNUM (bahasa latin yang di jaman Romawi dan juga jaman sepeninggal Aristoteles, sudah diterapkan yang oleh King Alexander The Great atau and the Roman Empire lebih dari 2000 tahun lalu) dan di masa kebangkitan nasionalisme di Indonesia oleh Sekarno “DIJIPLAK dan DISULAP” menjadi “BHINNEKA TUNGGAL IKA” (biar kedengarannya lebih asri di telinga nusantara), juga diakui oleh Islam seperti tertulis di surat Al Hujuraat:13 Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Di ayat Ini disebut supaya kamu saling kenal mengenal. Sayang seribu sayang, ada umat Islam di Indonesia berpikir terlalu sempit. Terlihat dari cara bergaul mereka kurang flexible dan tidak ingin saling kenal dgn org yg ada di luar “golongan”nya bagaikan sekawanan burung pinguin yang tidak bisa hidup di luar benua Antartika.

Karena kebiasaan JIPLAK-MENJIPLAK inilah banyak para pengguna Facebook menjadi latah dan ikut BER-COPAS RIA. Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Maksud hati ingin berdakwah, apa daya pesan tak sampai! Ramai sekarang para Facebookers yang kerjanya MENJIPLAK atau BERLANGGANAN website2 tertentu yang tidak jelas, hanya MENGUTIP SATU AYAT saja dari Al Qur’an tanpa diiringi oleh keterangan dan interpretasi! (ini juga berlaku bagi org Kristen tentunya). Apalagi dilengkapi dengan pendapat dan kajian si PENJIPLAK atau COPY PASTER itu sendiri. Menurut saya pribadi, sikap hanya “SINGLE OUT” satu ayat atau hadith misalkan dalam bentuk “Ayat Hari ini” atau “Hadith hari ini” bisa MENGELUARKAN ayat atau hadith itu dari konteksnya, tanpa memperhatikan Hasbabun Nuzul-nya, dalam rangka apa dan kenapa dan dalam konteks yang bagaimana, ayat atau hadith ini keluar.

Karena COPAS dan HANYA TERFOKUS dengan POLITIK, DAULAH dsb….dsb…..inilah beberapa ”Oknum” tertentu dan para “DA’I MULTIMEDIA” atau “DA’I FACEBOOK “ dgn “Ayat Hari Ini” nya atau dalam “FORCED PREACHING” (Dakwahnya Maksa banget) di Facebook sering menCoPas ayat2 yang cara pemakaian dan konteksnya MENYIMPANG. Sebagai contoh yang sering saya temukan adalah Surat AnNisaa : 76 “Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang dijalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” Surat Al Anfaal:60 Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). Para Da’i UUP (ujung-ujungnya power) sering menggunakan ayat2 ini untuk “MENGELABUI” umat islam awam di Indonesia supaya “Berontak” dan “Berperang” melawan Pemerintah Indonesia atau Presiden Indonesia atau Sistem Ketatanegaraan Indonesia. Mengapa saya menggunakan kata “mengelabui”??? Karena para Da’i UUP tidak MEMBEDAKAN antara “AYAT-AYAT MAKKIYYAH” dan “AYAT-AYAT MADANIYYAH”

Ayat2 Makkiyah turun di Mekkah sebelum Daulah di Madinah terbentuk. Ayat2 Madaniyah turun di Madinah setelah daulah terbentuk. Ke dua ayat di atas (An Nisaa: 76 dan Al Anfaal: 60) adalah Ayat Madaniyah. Surat AnNisaa: 76 menyebutkan dan menggunakan kata “KUFFAAR /KAFIR” Jadi ayat ini tidak bisa diterapkan thd org Islam meskipun org Islam mempunyai kesalahan. Sangatlah TIDAK BENAR jika para Da’i UUP (dan juga KITA tentunya) menarik kesimpulan org Islam yang hidup dalam demokrasi (menurut sbg muslim memakai sistem thogut) lalu sebagian muslim Da’i UUP mengatakan dan menstempel pemimpin mereka baik itu presiden/menteri/anggota parlemen org kafir. Lebih parah lagi, yang terjadi adalah mereka mengkafirkan satu sama lain. Dalam hal ini mereka yang sering dan dengan mudah mengkafirka-kafirkan sesama muslim tidak membedaka fi’il dan fa’il. Bahwasanya fi’il (perbuatannya) adalah kufur tetapi bukan berarti fa’il (pelakunya) juga kufur. Sebagaimana iman mempunyai banyak cabang, kekufuran pun mempunyai banyak cabang. Maknanya meskipuan org mengerjakan dosa yang sangat besar sekalipun, dia tidak keluar dari Islam selama dia masih bertTAUHID dan tidak menjadi Musyrik. Kufur dunna Kufrin!!!

Surat Al Anfal ayat 60 menggambarkan suatu PERLAWANAN kepada PENGUASA TIRAN. Ayat ini pun tergolong ayat Madaniyyah, bukan Makkiyyah (lihat Hasbabun Nuzul dan konteks). Dan perangnya pun untuk melawan KUFFAAR YG MEMERANGI DAKWAH ISLAM DAN KAUM MUSLIMIN. Tetapi sayangnya, ayat ini juga sering DISALAHGUNAKAN oleh Da’I UUP sering dipakai utk memerangi sesame penguasa Muslim. Lebih berbahaya lagi, jika ayat ini hanya sekedar diCoPas tanpa ada penerangan lebih lanjut atau malah disalahgunakan melalui FB oleh para “Da’I UUP Multimedia”

Sering pula para Da’I UUP memberi contoh pernah terjadi Bani Abbasiyyah utk merebut kekuasaan harus menggulingkan Banu Umayyah karena perbedaan politik yang dinilainya kurang islami. Terjadilah perebutan kekuasaan. Bani Abasiyyah memberontak kepada saudaranya Bani Umayyah dan akhirnya berhasil. Bahkan sebagianj Bani Umayyah ada yg lari ke Andalusia (sekarang wilayah Spanyol dan peninggalannya pun masih bisa dilihat seperti AlHambra http://en.wikipedia.org/wiki/Alhambra) sehingga mereka berkuasa di Andalusia sana. Ini adalah Siyyasah/Politik kaum muslimin. Para ulama tidak ada yg ikut2an berontak. Berontak berbeda dengan aksi unjuk rasa atau demokrasi. Aksi unjuk rasa pun banyak macamnya. Tentu saja jika aksi unjuk rasa TIDAK dilakukan dengan cara kekerasan dan TIDAK menzholimi diri sendiri misalnya dengan “aksi mogok makan” bukanlah sesuatu yang Bid’ah atau Tasyabbuh. Jadi menurut saya, kita tidak bisa berpikir “black and white”. Sayangnya, banyak orang Islam golongan tertentu dan para Da’I UUP yang berpikir “black and white” dan memandang Islam seperti “WHOLESALE” (Barang Grosiran?) dan menggunakan cuplikan2 ayat tertentu utk tujuan politik dan golongan mereka. Sementara Islam sebenarnya mengajarkan itu bahwasanya “everything is lawful unless forbidden” Antara Lawful and Fobidden, di OBLIGATORY dan PROHIBITED, antara halal dan haram, Islam pun masih mengakui katagori lain di antara keduanya: the recommended (sangat disarankan atau sunnah), the permissible (diperbolehkan untuk dilakukan), and the disapproved (tidak baik dan tidak disetujui jika suatu hal dilakukan, Makruuh). Jadi semua ini pun masih tergantung Konteks dan SiKon( Situasi dan Kondisi). Para muslim cendekiawan mengibaratkannya masih ada “the time-space factor.” Tergantung waktu dan tempat. Fazlur Rahman, salah seorang cendekiawan dan ulama muslim yg cukup ternama berpendapat bahwa: jika suatu peraturan diberikan atas dasar beberapa faktor (aksi reaksi), dan jika factor2 tersebut tidak ada lagi, maka peraturan tersebut pun sudah tidak berlaku lagi. Sebagai contoh mungkin saya boleh menggambarkan bahwa ada sebagian muslim golongan tertentu yang memakai celana selalu ngatung atas dasar hadith. Terlepas apakah hadith ini shahih dan muttawthir atau tidak (karena saya bukan pakar hadith), kita harus selalu melihat konteks dan factor mengapa hadith ini keluar. Memang benar bahwa kain dulu sangat mahal dan sebagian muslim bisa saja atas dasar ingin memamerkan kekayaannya dengan berpakaian berlebihan. Tetap apakah saya juga harus berpakaian dan bercelana ngatung sekarang di jaman modern, di mana di Eropa tekstil lumayan murah dan bahkan kita di Eropa harus “mencekal”n tekstil dari China yg berlimpah supaya harga di Eropa tidak anjlok? Kalau mengenakan celana harus ngatung, apakah berarti saya juga tidak boleh mengenakan kaus kaki??? Di sini pun terlihat para Da’I UUP (tentunya juga hal ini berlakui untuk para pendeta UUP) sering tidak konsisten karena hanya mengambil ayat2 dan hadith tertentu tanpa melihat konteks, “space-time-factor” untuk tujuan politik mereka.

Ditinjau dari SEGI POLITIK dan kalau kita juga ingin berpikir KRITIS dan ILMIAH, bisa saja kita juga menganalisa bahwasanya tulisan CoPas anti demokrasi dan anti demonstrasi tersebut adalah upaya “pemerintah” supaya rakyat tidak berdemonstrasi dengan huru-hara. Karena masyarakat Indonesia susah diatur, maka cara paling politis dan paling tepat adalah dengan “mengelabui” masyarakat awam yang kurang berpikir kritis dan mempermainkan “perasaan”mereka dengan dalil2 agama.

Sering kali orang Indonesia berkata: “Yah….kalo Singapur kan kecil, makanya mudah diatur. Indonesia kan besar sekali”. Dengan slogan ini saya pun ingin bertanya dan bisa mengatakan kepada para Da’I UUP: “Konsep Daulah Sistem Ketatanegaraan dan Pemerintahan manakah yang akan anda tawarkan? Apakah ada Pemilu? Bagaimana caranya wakil2 muslim di majelis Asy Syura akan dipilih? Ataukah wakil muslim hanya sekedar ditunjuk saja oleh Raja seperti di Saudi Arabia? Atau akan diadakan majelis ‘ulama khusus? Bagaimana anda (para Daí UUP) mendamba-dambakan dan mengiming-imingkan Daulah Islamiyyah dari Marokko sampai Marauke kalau anda tidak punya Konsep Ketatanegaraan dan Pemerintahan?” Dengan perbandingan Singapur dan Indonesia saya pun bisa menjawab, kota Madinah yang sekarang saja mungkin hanya sebesar 2X kecamatan Kebun Jeruk, apalagi dari Marokko sampai Merauke???

Dengan tulisn ini saya hanya ingin mengajak dan menghimbau, marilah kita bersama-sama dan berlomba-lomba menuntut ilmu (By the way…..ini juga kata ARISTOTELES, tetapi sayangnya penulis dan pencopas hanya melihat dari satu sisi yang hanya untuk mendukung pendapatnya) untuk memajukan Bangsa dan Negara! Janganlah kita jadikan agama sebagi POLITIK POLARISASI yang akhirnya hanya akan memecah belah umat. Dan kepada para Da’I Multimedia CoPas, Facebookers, saya hanya menghimbau dengan rasa hormat utk tidak berlangganan atau CoPas website2 yang tidak jelas. Karena jika Anda CoPas , segala sesuatunya pun akan diminta pertanggungjawabnnya. Lagi pula, cara dakwah pun menggunakan ilmu. Dengan berCoPas Ria tanpa penjelasan, bukan hanya saja membuat ayat dan hadith keluar dari konteks, tetapi membuat dakwah tidak effektif dan akhirnya pun hanya “melecehkan” arti dakwah itu sendiri. Yang lebih parah lagi, mungkin hanya menyebarkan issue yang tidak diinginkan dan menebar POLITIK POLARISASI. Facebook sesuai dengan namanya FACE (muka) adalah untuk bersilaturahmi dan bukan untuk berpolarisasi politik. Maka tunjukkanlah muka anda. Janganlah anda egois denga melakukan “FORCED PREACHING” tetapi anda sendiri tidak menunjukkan muka, tidak bersedia diTAG contohnya.

Terlepas dari maksud baik dan terpuji penulis dan penCoPas untuk tidak memecah belah golangan dan umat Islam, tetapi sebenarnya, kalau kita teliti lebih lanjut dan juga bersifat “kritis” atas tulisan yang “disodorkan” kepada kita, terlihat bahwasanya baik penulis maupun pencCoPas Kang Aswad di Blognya mempunyai PEMAHAMAN YANG SEMPIT akan Demokrasi itu sendiri. Tanpa mempelajari Filosofie Demokrasi dan tanpa membaca buku Aristoteles, penulis berpendapat dan secara tidak langsung penCoPas sudah setuju, bahwasanya Demokrasi hanya diartiikan SUARA TERBANYAK MESKIPUN SALAH. Buat saya pribadi ini adalah bukti nyata bahwa Penulis mempunyai pandangan yang sempit dan salah akan Demokrasi dan mengkabinghitamkan Aristoteles sebagai “Pencipta Demokrasi”. Padahal Aristoteles pun mengajarkan “MODERATION AND MODESTY”

Di alinea lain di bawahnya, penulis mengatakan dan mengajak, dan secara tidak langsung sang penCoPas Kang Aswad tanpa analisa lebih dalam pun setuju akan pendapatnya: “Marilah kita renungkan wahai saudarru fillah….bagi kita yang ngotot membela demokrasi…….dst” Penggunaan kata “ngotot membela demokrasi” memberikan kesan yang tidak enak dan negatif terhadap demokrasi itu sendiri. Sementara penulis dan penCoPas tidak memiliki pemahaman yang benar tentang demokrasi menurut Aristoteles, yaitu: DEMOCRACY WITH THE RULE OF LAW. Juga menghormati kaum MINORITAS. Tidakkah malu, penulis mengaku : “Ana juga belajar politik dari SMU”…(whatever SMU is…..).Entah SMU yg memberikan sistem pendidikan yang jelek, atau penulis yang hanya menyimak sepotong sewaktu dia belajar??? Jadi sekarang kalau bukan demokrasi, sistem apa yang penulis dan pencopas akan tawarkan???|Bukankah dengan DEMOCRACY WITH THE RULE OF LAW, Islam pun di Eropa bisa berkembang dan tumbuh subur? Meskipun pada akhirnya Problematika Islam di Eropa BERBEDA dengan Problematika Islam di Indonesia. Ya disebabkan antara lain oleh “TIME-SPACE-FACTOR” yang sudah saya sebut tadi. Sebagai contoh, Muslim di Indonesia tidak perlu ribut mempermasalahkan DEFINISI KEMATIAN seperti di Eropa. Di Indonesia jika orang sakit dan tidak ada uang, tidak akan bisa masuk rumah sakit. Pergi berobat masuk ke rumah sakit tanpa DownPayment beberapa Juta pun tidak akan ditolong dan yang akhirnya sang pasien akan MATI dengan sendirinya. Di European Union dgn sistem kedokteran yang canggih dan perpajakan dan asuransi kesehatan masyarakat dgn sistem silang, kita Alhamdulillah tidak perlu lagi memusingkan biaya. Ini berarti org pun bisa “DIKOMAKAN” selama 15 tahun. Secara Ghaib, dia masih punya RUUH dan bernapas. Secara OTAK pasien sudah mati. Masalah kontemporer inilah yg membuat para ulama Eropa harus kembali mempertanyakan DEFINISI KEMATIAN. Apakah ini BRAIN DEAD atau masih bernapas tapi diberi pertolongan mesin2 selama 15 tahun??? (lihat tulisan Tarik Ramadhan, cucunya Hassan Al Banna, http://www.tariqramadan.com/spip.php?lang=en mengenai BRAIN DEAD)Sekali lagi, ini hanya sekedar contoh “Time-Space-Factor in the Islam” bahwasanya lain negara, lain lokasi, dan lain pula problematika yg dihadapi. Jadi Islam bukan “Masakan Gado2″ yang semuanya dicampur dan diaduk jadi satu!Di alinea lain lagi penulis berkata: “sekarang kita lihat teman2 kita yang katanya berjuang menegakkan syariah melalui demokrasi? teman2 kita yang mana sudah banyak menjadi aleg, pemimpin daerah namun perbaikan apa yang sudah dibuat??? sungguuh yahng terjadi bukanlah kita memperbaiki sistem namun larut dalam sistem dan diatur oleh sistem. ketika ada idealisme semua itu buyar dan bubar karena sekali lagi berlutut di hadapan demokrasi, tak sanggup berkata dan berbuat apapun ketika suara terbanyaklah yang menjadi dasar mengambil kebijakan” Pertanyaan yang ingin saya sampaikan: Kenapa penulis tidak MENYALAHKAN PERILAKU ALEG Muslim dan malah menyalahkan dan mengkambinghitamkan sistem??? Bukankah kalau Aleg Muslim korupsi dll, ini dikarenakan karena ulahnya sendiri??? Buktinya Aleg Muslim di Eropa dan yang NON-muslim pun boleh dibilang tidak ada yang korupsi, kolusi dan nepotisme. Sekali lagi ini bukti bahwasanya banyak umat Islam yang tidak mampu atau tidak mau mengintrospeksi dan mengevaluasi diri. TERBELENGGU dgn CONSPIRACY THEORY!!!

Penulis dan pencopas secara tidak langsung membandingkan Aristoteles dengan Rasulullan s.a.w dan melalui tulisannya ingin menyampaikan kepada pembaca “Pemahaman Sempit dan Sepihak” nya atas demokrasi. Secara Subtil penulis bertanya: “maka siapakah teladan kita??? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Nabikah atau aristoteles???jika alasan kita adalah itu adalah zaman dulu, sekarang sudah beda, maka apakah kita tidak yakin bahwa Islam diturunkan untuk seluruh alam dan tidak ada Nabi lagi setelah beliau sehingga ajaran Beliau sudah sempurna dan lengkap, tidak perlu ditambah2 lagi.”

Pertanyaan ini adalah suatu pertanyaan yg tidak pada tempatnya. Aritoteles adalah seorang Cendikiawan/ilmuwan. Sedangkan Rasulullah adalah seorang nabi. Terlihat jelas di sini penulis KELUAR DARI KONTEKS dan tidak memperhatikan “TIME-SPACE-FACTOR”.Tidak semua yang sekarang di abad 21 ada dan di jaman Rasulullah di abad 6 masehi tidak ada, itu berarti Bid’an karena ditambah-tambahkan”

Last but not least, dan seperti biasa “very predictable”, penulis tidak memberikan KONSEP MAPAN sebagai alternatif Demokrasi. Buat saya tidak heran, karena inilah akibat dari copas mencopas. Selain tidak memacu cara berpikir orang, dan berdebat secara konstruktif demi menimba ilmu (kata Aristoteles juga), akhirnya busat saya pribadi, hal seperti ini hanya akan melecehkan dan menurunkan dakwah dan martabat umat islam itu sendiri. Wa Allahu ‘alam.

References / Suggested Reading

Muhammad Asad – The Message of the Qur’an

Fazlur Rahman – Major Themes of the Qur’an

Fazlur Rahman – Islam

Murad Hofmann – Islam The Alternative

Murad Hofmann – Islam 2000

Jeffrey Lang – Even Angels Ask

Aristotle, Intoductory Reading, translated byTerence Irwin and Gail Fine

http://books.google.nl/books?id=vWxqPyLgOEsC&printsec=frontcover&dq=aristotle&hl=nl&sa=X&ei=RJmgT-72MIie8gPQvJyzCA&ved=0CC4Q6AEwAA#v=onepage&q=aristotle&f=false

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | | 25 October 2014 | 14:51

Kompasiana Nangkring Special di Balikpapan …

Bambang Herlandi | | 25 October 2014 | 13:44

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 17 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 17 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 18 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 21 jam lalu


HIGHLIGHT

Gayatri Dwi Wailissa, Anggota BIN yang Gugur …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Belajar Ngomong:”Mulutmu …

Wahyu Hidayanto | 8 jam lalu

MEA 2015; Bahaya Besar bagi Indonesia …

Choerunnisa Rumaria | 8 jam lalu

Bersenang-Senang dengan Buku …

Mauliah Mulkin | 8 jam lalu

Kematian Pengidap HIV/AIDS di Kota Depok …

Syaiful W. Harahap | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: