Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Abu Kahfi

Pengamat politik

Perangi Terorisme, Hentikan Penembakan Polisi

OPINI | 21 August 2013 | 10:00 Dibaca: 209   Komentar: 4   0

Wajah indonesia sepertinya tidak pernah tersenyum jika berbicara masalah terorisme yang memenuhi ruang di media massa dari tahun ke tahun. Genderang perang melawan terorisme di Indonesia telah lama ditabuh jauh-jauh hari sebelum teroris meluncurkan aksinya. Namun sepertinya teroris tidak kehabisan akal untuk menebar teror di bumi pertiwi ini.

Berbicara masalah teroris di Indonesia telah mengalami berbagai metamorfosa yang panjang, khusunya orientasi target/sasaran sendiri. Pada awalnya, warga Amerika Serikat dan sekutunya menjadi target/sasaran mereka, dan kemudian beralih ke Institusi Polri. Peralihan tersebut dianggap logis bagi beberapa pengamat teroris, mengingat Polri melalui Detasemen Khusus 88 Anti Terornya kerap melakukan penangkapan kepada para pelaku dan terduga teroris, sehingga menimbulkan dendam tersendiri bagi kelompok mereka.

Peralihan orientasi sasaran sudah terlihat sejak September 2010 di Deli Serdang, Sumatra Utara. Sekitar 15 orang bersenjata lengkap menyerang Mapolsek Hamparan Perak. Tiga polisi tewas. Kemudian, 15 April 2011 di Cirebon, Jawa Barat yaitu, aksi bom bunuh diri di Masjid Adzikra di Mapolres Cirebon saat jamaah memulai salat Jumat. Kapolres Cirebon AKBP Heru Sukoco dan beberapa jamaah terluka. Pada 17 Agustus 2012 di Solo, Jawa Tengah, sekelompok orang tak dikenal melepaskan tembakan ke dua polisi yang sedang berjaga di pos pengamanan Lebaran di Gemblengan. Sehari kemudian, pos polisi Gladak menjadi target pelemparan granat. Sepekan setelah kejadian itu, orang tak dikenal menyerang pos polisi Singosaren. Seorang anggota polisi jaga tewas.

Selanjutnya, pada 13 Mei 2013 di Tasikmalaya, Jawa Barat. Pos polisi Simpang Empat Mitra Bati dilempari bom rakitan. Seorang polisi terluka. Sementara seorang terduga teroris tertangkap dan seorang lainnya tewas. Akhir Juli 2013 di Jakarta Pusat. Seorang anggota Satlantas Gambir, Aipda Patah Saktiyono, menjadi korban penembakan dua orang tak dikenal. Penembakan terjadi saat korban mengendarai sepeda motor di Jalan raya Cirendeu. Korban selamat meski tertembak di punggung.

Penyerangan terakhir terjadi pada 16 Agustus 2013 di Pondok Aren, Tangerang yang menewaskan 2 anggota Polsek Pondok Aren, Ipda Anumerta Koeshendaratma dan Aipda Anumerta Ahmad Maulana Endang.

Sejauh ini, aparat kepolisian telah melakukan perlawanan dengan melakukan penangkapan terhadap pelaku dan terduga teroris. Namun diperlukan pengusutan lebih dalam terkait jaringan, penyebaran Senjata api dan lain sebgainya.

Penanganan terorisme tidak boleh kita anggap remeh, dan masyarakat juga harus ikut berpartisipasi dalam memusuhi suber bencana yang menyebabkan ketakutan di masyarakat Indonesia. Peran dan dukungan masyarakat terhadap aparat penegak hukum merupakan partisipasi positif demi terciptanya indonesia yang aman dari aksi teroris.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Masril Koto Bantah Pemberitaan di …

Muhammad Ridwan | | 23 September 2014 | 20:25

Tanggapan Rhenaldi Kasali lewat Twitter …

Febrialdi | | 23 September 2014 | 20:40

“Tom and Jerry” Memang Layak …

Irvan Sjafari | | 23 September 2014 | 21:26

Kota Istanbul Wajib Dikunjungi setelah Tanah …

Ita Dk | | 23 September 2014 | 15:34

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Join dengan Pacar, Siswi SMA Ini Tanpa Dosa …

Arief Firhanusa | 8 jam lalu

Soal 4 x 6, Saat Matematika SD Diperkosa …

Giri Lumakto | 11 jam lalu

Mendikbud Akhirnya Tegur Guru Matematika …

Erwin Alwazir | 11 jam lalu

Pak Menteri, Tolong Hentikan Nyiksa Anak SD …

Prabu Bolodowo | 11 jam lalu

Tidak Lulus Skripsi, Mahasiswa Kampus X …

Lely Nur Azizah | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Kutu pada Hewan Peliharaan?? Perlukah …

Dokterhewan Indo | 8 jam lalu

Nap a Latte untuk Produktivitas …

Andreas Prasadja | 8 jam lalu

Logika 4×6 = 6×4, Apa Bedanya …

Agung Budi Santoso | 8 jam lalu

Kurikulum 2013, Obat Manjur Bikin Anak …

Sinta Dewi R | 8 jam lalu

Smartfren Andromax C2, Teman Pintar yang Ga …

Rio Sitohang | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: