Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Alex Win

I think therefore I am

Kasus Sisca Yofie, Believe ?

REP | 17 August 2013 | 00:27 Dibaca: 3387   Komentar: 21   7

“…… lie is in the middle of beLIEve…….”

13766733521321828621

Lady Justice (sumber Google)

Sejak kecil saya mengagumi sosok polisi sebagai penegak hukum dan kepiawaiannya melacak dan menangkap para penjahat serta membangun rasa aman dalam masyarakat. Kekaguman itu bersumber dari film jadul seperti Mannix, Hawaii Five-O sampai film anyar seperti serial CSI, Bones, dan polisi cantik Kate Backet dengan pasangannya Richard Castle, sang pengarang, dalam serial Castle. Namun film bukanlah kenyataan, bangunlah dari mimpi.

Kasus pembunuhan Sisca Yofie begitu menyentak dan menyedot perhatian. Mungkin kematian tragis sosok wanita cantik ini menggugah perhatian, tetapi juga ada rasa was-was dalam masyarakat bahwa rasa aman sudah menjadi barang langka. Bagaimana tidak ? Coba lihat apa yang terjadi pada Sisca Yofie pada akhir hayatnya. Dua jam tergeletak dijalan menunggu ajal menjemput !

Secara kronologis kejadian pembunuhan telah dipaparkan oleh Kompasianer Galaxy2014 dalam artikel “Kasus Pembunuhan Sisca, Polri Menantang Logika Masyarakat Luas” dengan runut. Selain itu banyak sekali mengalir tulisan di dunia maya tentang kasus pembunuhan sadis ini. Tetapi dimana para penegak hukum ?

Alih-alih bekerja secara profesional dalam membedah kasus, pihak polisi malah menjadi juru bicara para tersangka dengan mengulang apa kata tersangka kepada publik. Lihat saja pernyataan berikut: “Tersangka: Sisca Terseret karena Rambutnya Tersangkut Motor” padahal ada saksi mata yang menyatakan bahwa Sisca Yofie diseret oleh para pelaku dan rambutnya tidak masuk ke gir motor. Sempat pula anggota polisi berdebat dengan Kompolnas tentang kejanggalan kejadian rambut masuk ke gir motor.

Berikut kutipan beberapa kalimat :

“Yang enggak masuk akal posisi korban ketika nyangkut di gir motor itu gimana? Muka korban itu gimana posisinya? Masak motor masih bisa jalan?” tanya Hamidah (anggota Kompolnas) kepada sejumlah perwira polisi itu, Jumat.

Kabid Dokes Polda Jabar Kombes Pol Pramujoko pun menjawab, “jadi kan korban pada saat itu sempat memeluk pelaku W. Motor dalam keadaan melaju, kemudian karena korban mengikuti, pelaku menebaskan golok sambil membelakangi. Korban terjatuh, dan kemudian rambut korban masuk gir sehingga terseret.”

Anggota Kompolnas lainnya, M Nasser, terlihat keheranan mendengar penjelasan para perwira polisi itu.
“Ya, boleh lah memberikan argumentasi, tapi yang realistis lah. Saya hargai argumen Anda, saya hargai keilmuan Anda,” katanya.

Hah, betul juga kata Galaxy2014 ” ……. Polri Menantang Logika Masyarakat Luas”, rupanya dalam kasus ini penulis skenario lupa memasukkan faktor “kecerdasan masyarakat”, terburu-buru rupanya dia.

Tambahan kutipan lagi tentang perdebatan Kompolnas dengan anggota Reskrim:

Kabid Dokes Polda Jabar Pramudjoko mengatakan bahwa Sisca tidak sejak awal terseret, melainkan sebelumnya berpegangan pada pelaku dengan cara merangkul Wawan yang dibonceng Ade.

“Di tengah jalan baru lepas dan jatuh. Luka di kepalanya kemungkinan karena kena ini (sambil menunjuk bagian motor-red). Baru terseret dan berhenti,” kata Pramudjoko.

Hamidah menanyakan jarak dari Sisca jatuh sampai motor terhenti.

“Setelah dihitung dari kosan sampai lokasi ditemukan 830 meter. Dari titik CCTV sampai ditemukan 400 meter, jadi sekitar 400 meter,” kata Kasatreskrim Polrestabes Bandung Trunoyudo Wisnu Andiko.

Jadi, ceritanya menurut polisi, Sisca “nangkring” di punggung Wawan, salah satu tersangka, terbawa motor menempuh sejauh 400 meter. Lalu terjatuh dengan kening terluka menghantam motor dan rambut masuk ke gir lalu terseret sejauh lebih dari 400 meter lagi. Katanya Wawan juga tidak sadar ada yang terseret. Setelah total menempuh lebih dari 800 meter, tersangka baru tahu dan berusaha memotong rambut korban dengan golok, tetapi kena kepala . Percaya bisa begitu ? beLIEve ?

Seharusnya pihak polisi sadar bahwa sudah terlalu banyak kejanggalan dalam cerita kronologis kasus pembunuhan Sisca Yofie ini. Semakin lama, semakin nampak hal-hal yang tidak logis. Akhirnya timbul pertanyaan dalam masyarakat “Mengapa polisi begitu percaya kepada pernyataan para tersangka?” Bukankan seharusnya pernyataan para tersangka adalah yang terakhir dipercayai setelah fakta dan saksi dikumpulkan lalu diolah secara logis ?

Hukuman atas kasus pencurian dengan kekerasan yang mengakibatkan korban tewas berbeda dengan pembunuhan terencana, para tersangka tentunya menyadari hal ini, atau mereka terlalu “pede” bisa lolos dari Dewi Keadilan ?

Disadari atau tidak kasus pembunuhan Sisca Yofie ini telah menggugah rasa keadilan dalam masyarakat sekaligus mengingatkan bahwa rasa aman sudah menjadi barang langka. Kemana lagi masyarakat bisa mengadu dan berlindung jika perkataan tersangka lebih didengarkan daripada suara menuntut keadilan ?

Dirgahayu Republik Indoneisa ke-68. Merdeka…!!!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Bank Papua, Sponsor Tunggal ISL Musim Depan …

Djarwopapua | 9 jam lalu

Seminggu di Makassar yang Tak Terlupakan …

Annisa Nurul Koesma... | 9 jam lalu

Robohkah Surau Kami Karena Harga BBM Naik? …

Axtea 99 | 9 jam lalu

Sahabat Hati …

Siti Nur Hasanah | 10 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: