Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

M. Rasyid Nur

M. Rasyid Nur, pendidik yang bertekad "Ingin terus belajar dan belajar terus". Silakan juga diklik: selengkapnya

Kasus Fransisca: Moment Itu Akan Tetap Berlalu

OPINI | 15 August 2013 | 06:20 Dibaca: 2408   Komentar: 10   5

PEMBUNUHAN sadis Fransisca Sisca Yovie telah menyita banyak perhatian sejak terjadi Senin (05/ 08) lalu. Hingga hari ini berbagai komentar dan berita seputar Branch Manager PT Venera Multi Finance itu tidak hentinya mengalir. Polisi sendiri juga sudah bergerak sesuai prosedur dan aturan.

Munculnya informasi lain berkaitan kematian itu menambah keingintahuan masyarakat semakin memuncak. Ketika beritanya menyebutkan bahwa sebelum menemui ajal, Fransisca sempat diseret pelaku dengan menggunakan kendaraan bermotor, naluri kemanusiaan kita berkata, “Begitu tidak berperikemanusiaannya penjahat yang membunuh wanita itu.” Teganya mereka memperlakukan wanita yang tentu tidak akan berdaya menghadapi dua lekaki sekaligus.”

Dan ketika berita itu dibumbui lagi oleh informasi baru yang kemungkinan terkaitnya kematian itu dengan ‘hubungan gelap’ Fransisca dengan seorang perwira polisi di Bandung, maka serta-merta kematian ini kian menarik perhatian. Tidak berlebihan masyarakat mengatakan kalau kasus ini bisa menjadi moment ke sekian bagi Polri untuk mengubah dan memperbaiki imejnya. Komentar Kapolsek Sukajadi, Ajun Komisaris Polisi Suminem yang mengatakan kalau pembunuhan ini mungkin terencana, menambah keinginantahuan masyarakat apakah ada sangkut-pautnya dengan anggota lembaga itu. Inilah yang diharapkan masayarakat untuk digali. Di Viva News Suminem mengatakan, “Diduga pelaku membuntuti k0rban (Siska) sebelum dianiaya yang mengakibatkan k0rban tewas.” Pernyatan ini bisa sebagai indikasi bahwa kematian Sisca tidak sekedar kejahatan biasa. Apakah itu yang dimaksud kematian terencana itu?

Belakangan ternyata penyelidikan dua lelaki terhadap kematian wanita cantik ini menemukan pula surat dan SMS yang mengindikasikan adanya keterlibatan oknum polisi di Jawa Barat ini dalam pusaran kehidupan Fransisca.  Apakah sangkut-paut gelap dua manusia ini ada kaitan dengan pernyataan Kapolsek Sukajadi yang menyebut pembunuhan ini tidak sekdar curas biasa tapi kemungkinan sudah terencana, inilah momen dan tugas kepolisian itu.

Namun kita kembali akan merasa pesimis dengan kinerja polisi jika mengacu ke kasus-kasus masa lalu. Selama ini, setiap kasus kejahatan atau pelanggaran hukum yang melibatkan oknum kepolisian, selalu saja harapan masyarakat akan kandas di harapan saja. Kasus rekening gendut jilid pertama yang melibatkan beberapa perwira polisi, bagaikan lenyap ditelan bumi. Hanya rekening gendut yang melibatkan oknum berpangkat rendah seperti kasus Aiptu Labora itu saja kepolisian mau melibatkan KPK. Sementara kasus rekening gendut yang melibatkan banyak oknum perwira polisi itu, entah kemana arah penyelesaiannya. Pihak polisi hanya menyebut ‘tidak ditemukan pelanggaran hukum’ di dalamnya. Dan masih banyak kasus lain yang membawa-bawa nama polisi yang selalu kandas.

Kini ada berita dugaan keterlibatan seorang perwira polisi lagi dalam kematian yang masih anyar ini. Maka tidak berlebihan kalau kita juga akan pesimis akan penyelesaiannya. Walaupun informasi tentang adanya hubungan khusus Kompol A dengan Fransisca itu benar adanya, polisi sudah mengatakan bahwa ’sampai saat ini, belum ada bukti dan fakta kalau Kompol A terlibat pembunuhan Fransisca.” Kononnya, Kompol A dan isterinya sedang berada di salah satu hotel di Bandung ketika pembunuhan Sisca terjadi. Alibi yang akan dijadikan menangkis dugaan itu?

Jika saja polisi (penyidik) menduga, sekali lagi ‘menduga’ perwira itu atau isterinya terlibat dalam kasus ini maka tentu saja akan ada usaha ke arah sana. Misalnya mencari tahu dan menambah informasi melalui balasan SMS yang dikirimkan Faransisca itu. Bukankah ada SMS di HP Fransisca perihal hubungan gelap itu. Cobalah digali semua SMS yang pernah terjadi antara HP Faransisca dengan HP lainnya. Bisa HP sang perwira atau isterinya dan bisa pula dengan HP lainnya. Data ini tentu hanya ada di operator selulernya. Sudahkah kepolisian mengejar ini dengan menyita semua HP yang diduga berhubungan dengan HP Fransisca?

Di sinilah kita agak pesisimis. Usaha-usaha gigih menjawab opini masyarakat berkaitan kematian Fransisca tidak atau belum dilakukan polisi. Penyidik, seperti biasa akan berkutat pada pengakuan dua tersangka yang menyebut bahwa mereka hanya ingin menjambret saja. Tapi karena Fransisca melawan, maka mereka membunuhnya. Polisi tidak mencari tahu beberapa keganjilan fakta pendukung pengakuan kematian dengan modus jambret itu. Rasa-rasanya, moment polisi untuk memperbaiki citra di mata masyarakat dengan kasus ini akan tetap berlalu begitu saja. Polisi memang tidak merasa dicitraburukkan oleh masyarakat. Makanya polisi tidak akan pernah berusaha membuat trobosan dalam penanganan hukum yang melibatkan oknum anggotanya yang sebenarnya dapat menaikkan citranya. Entahlah!***

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22



HIGHLIGHT

Rayuan Pohon Beringin …

Robby Anugerah | 8 jam lalu

Dalam Sebuah Hubungan, Jangan Gantung …

Syaiha | 8 jam lalu

Saran yang Menyesatkan Dari Petugas Call …

Erwin Mulialim | 8 jam lalu

Pangdam VII/Wirabuana Bakal Bekali Wawasan …

Ilmaddin Husain | 8 jam lalu

Pemuda Sebagai Ide …

Muhammad Handar | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: