Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Pakde Kartono

Sayang istri, sayang anak, makanya disayang Allah

Sisca Yovie dan Pembunuhan Sadis di Bandung

OPINI | 06 August 2013 | 08:39 Dibaca: 23380   Komentar: 93   26

Kemarin saya menulis wanita cantik bernama Della Caroline yang meninggal sia-sia di Apartemen Casablanca Jakarta, hari ini saya kembali menulis tentang meninggalnya wanita cantik bernama Sisca Yofie di Bandung yang dibunuh secara sadis oleh 2 pembunuh bayaran mengendari motor Suzuki Satria R dengan cara menjambak rambut Sisca Yovie sesaat dia turun dari mobil Livina X-Gear hendak membuka pintu rumah kostnya di jalan Setra Indah Utara Bandung, lalu menyeretnya di jalanan sejauh 500 meter dan membacoknya di kepala sebanyak 3 kali.

Duh, linu saya membayangkan rasa sakit yang dialami Sisca Yovie saat diseret seperti boneka oleh pembunuh bayaran tersebut. Yang lebih linu lagi, saya menyesalkan tindakan orang-orang yang melihat kejadian tersebut, mendengar Sisca Yovie berteriak kesakitan meminta tolong, namun tidak ada seorangpun yang memberikan pertolongan. Bukan bermaksud lain, jika saya ada di tempat kejadian perkara, saya pasti segera bertindak tanpa berpikir panjang menghantam 2 orang pengendara motor tersebut, saya membayangkan bagaimana jika yang diseret itu anggota keluarga saya, rasanya pasti sakit minta ampun (seperti judul lagu girlband Dewi Dewi).

Saya bertanya dalam hati, mengapa manusia bisa berlaku sangat jahat dan sadis sehingga melakukan pembunuhan berencana (kejahatan dengan ancaman pidana paling tinggi di KUHP) terhadap manusia lainnya. Terjadi tanya jawab di hati saya.

Ada beberapa jawaban yang saya dapatkan dan bisa saya sharing ke rekan-rekan kompasianer. Check it out ;

1. Pembunuhan sadis ini dilatar belakangi cinta segitiga

Banyak peristiwa pembunuhan berencana terhadap wanita muda cantik dan sexy yang dilakukan secara sadis, termasuk mutilasi, disebabkan adanya cinta segitiga antara wanita muda, seorang pria, dan wanita lainnya yang mempunyai hubungan dekat dengan pria tersebut. Pelakunya bisa siapa saja, bisa pria yang menjadi subjek cinta segitiga, atau wanita yang menjadi korban cinta segitiga.

Pesan moral dari point 1 adalah jangan bermain cinta segi tiga, mending cinta segi empat atau cinta segi lima sekalian, aman.

2. Pembunuhan sadis ini dilatar belakangi dendam

Banyak peristiwa pembunuhan berencana disebabkan adanya dendam pribadi karena korban pernah menyakiti (baik secara lisan maupun secara fisik) pelaku atau orang yang menyuruh pelaku.

Bicara soal dendam susah susah gampang, disatu sisi korban tidak merasa menyakiti siapapun sehingga hidupnya berjalan normal dan tingkat kewaspadaan tidak ditingkatkan, di sisi lain pelaku merasa tersakiti hatinya dan setiap hari dalam hidupnya hanya memikirkan bagaimana caranya membalas sakit hatinya, tanpa menyadari hidupnya menjadi kacau, lusuh, keriput bertambah banyak di muka, rambut acak-acakan tak terurus. Hal-hal lain di dunia ini menjadi tak menarik perhatiannya, karena pikirannya sudah terfokus ke orang yang menyakitinya. Contoh paling sederhana adalah adanya ungkapan ‘cinta ditolak dukun bertindak’.

Pesan moral dari point 2 adalah jika ada wanita/pria yang menyatakan cinta pada anda, jangan ditolak karena akan berbahaya, mending digantung saja jawabannya, berikan jawaban yang klise namun cukup ampuh “berikan aku waktu berpikir yang cukup, ini masalah masa depan, menikah hanya sekali, aku tidak mau salah pilih.”

3. Pembunuhan sadis ini dilatar belakangi utang piutang.

Utang piutang ini hal yang paling ribet dalam kehidupan nyata, kita sering menghindar untuk tidak terlibat dalam urusan hutang piutang, namun kadang kala karena tidak tega atau terkena bujuk rayu, akhirnya kita terlibat hutang piutang.

Saat pihak berutang tidak mampu membayar utangnya, dan pihak pemberi utang butuh uang tersebut untuk suatu kepeluan, maka urusan menjadi rumit. Rasa kesal, sebal, marah di dalam dada, karena niat awal membantu, akhirnya malah dirinya menjadi susah bisa membuat pihak pemberi utang menyelesaikan persoalan secara adat, karena kemungkinan utangnya dibayar sangat tipis (0.01%) di mana pihat yang berutang sudah pasang badan. Karena sudah pasang badan, yah sudah diselesaikan saja sekalian.

Pesan moral dari point 3 adalah jangan terlibat utang piutang, apalagi hutang nyawa, karena ada prinsip di sebagian masyarakat ‘hutang nyawa bayar nyawa’, kalo tidak punya uang untuk memenuhi satu keinginan, lebih baik ditahan keinginan tersebut sampai punya uang. Kalo keinginan terus besar, sementara uang tetap tidak punya, maka langkah terbaik adalah mencari kekasih yang kaya raya banyak uang, aman.

Itulah 3 alasan utama mengapa bisa terjadi pembunuhan berencana yang sadis, masih ada alasan-alasan lainnya tapi tidak terlalu dominan sebagai penyebab.

Selamat pagi Indonesia

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jejak Indonesia di Israel …

Andre Jayaprana | | 03 September 2014 | 00:57

Ironi Hukuman Ratu Atut dan Hukuman Mati …

Muhammad | | 03 September 2014 | 05:28

Persiapan Menuju Wukuf Arafah …

Dr.ari F Syam | | 03 September 2014 | 06:31

Kasus Florence Sihombing Mengingatkanku akan …

Bos Ringo | | 03 September 2014 | 06:01

Tiga Resensi Terbaik Buku Tanoto Foundation …

Kompasiana | | 03 September 2014 | 08:38


TRENDING ARTICLES

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | 3 jam lalu

Florence Sihombing Disorot Dunia …

Iswanto Junior | 4 jam lalu

Manuver Hatta Rajasa dan Soliditas Koalisi …

Jusman Dalle | 5 jam lalu

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 6 jam lalu

Kekuatan Jokowi di Balik Manuver SBY di …

Ninoy N Karundeng | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Tur Eropa dan Blunder Lanjutan Timnas U-19 …

Mafruhin | 7 jam lalu

Catatan Perjalanan: +Nya Stasiun Kereta Api …

Idris Harta | 8 jam lalu

Oposisi Recehan …

Yasril Faqot | 8 jam lalu

Orangtua yang Terobsesi Anaknya Menjadi …

Sam Edy | 8 jam lalu

Indo TrEC 2014 : Mengurai Kekusutan Lalu …

Wahyuni Susilowati | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: