Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Pakde Kartono

Sayang istri, sayang anak, makanya disayang Allah

5 Alasan BNN Tidak Tangkap Vanny Rossyane (PSK & Pengguna Shabu)

OPINI | 01 August 2013 | 20:48 Dibaca: 10349   Komentar: 26   13

Orang-orang yang melihat gaya Vanny Rossyane yang slenge’an dengan menunjuk-nunjuk lawan bicara, memotong pembicaraan orang lain di acara Indonesia Lawyer Club TV One selasa malam mungkin akan bereaksi beragam.

Yang ibu-ibu hampir pasti kesal, mungkin ibu-ibu membatin “Dasar wanita edan, belum nikah koq ML sembarangan, udah gitu nyabu sejak SMP. Kemana mama papanya?”

Yang bapak-bapak hampir pasti kesal juga, mungkin bapak-bapak membatin “dasar cewek stress, bongkar-bongkar rahasia orang. Dulu waktu dipake dan dikasih uang gak ada omongan akan bongkar-bongkar dan ember kesana kemari. Untung aku gak pake dia, kalo pake panjang urusan. Apa kata dunia?”

Yang mengerti hukum, termasuk pengacara beken Henry Yosodiningrat hampir pasti akan membatin “ini ada orang mengaku-aku pakai narkoba, tau jaringan internasional, kenapa gak segera ditangkap, interogasi dan tindak lanjutin setiap informasi yang ada.”

Badan Narkotika Nasional (BNN) yang dipertanyakan beberapa pihak, termasuk oleh penulis, mengapa tidak menangkap Vanny Rossyane punya alasan tersendiri. Kepala Humas BNN Sumirat Dwiyanto mengatakan “Kita tidak bisa gegabah dengan proses penegakan hukum. Semuanya harus ada bukti, misal Anda kita endus menggunakan narkotika, itu harus dibuktikan, harus selidiki dulu, orang kan mengaku bisa saja, tapi dia memakai atau tidak harus dibuktikan. Kita koordinasi dengan Kemenkumham dan Lapas, sudah ada MoU antara BNN dan Kemenkumham mengenai pemberantasan dan pencegahan narkotika di Lapas.”

Waduh, gerakan BNN lambat sekali. Waktu menggerebek Raffi Ahmad, Andhika Kangen Band, Yoyo Padi koq gerakan BNN bisa sangat cepat? Ada apa yah dengan BNN?

Saya berdiskusi dengan teman-teman, kami menyimpulkan beberapa hal yang kemungkinan menjadi penyebab BNN tidak juga menangkap Vanny Rossyane. Untuk lebih jelasnya, cekidot ;

1. BNN takut dengan Denny Indrayana, karena berdasarkan pengakuan Denny, Vanny Rossyane sudah ia tetapkan sebagai whistle blower dalam whistle blower system, dengan kata lain, Vanny berada dalam perlindungan Denny Indrayana. Dalam bahasa lebih sederhana lagi, silakan tangkap penyalahguna narkoba yang lain, yang penting bukan Vanny.

2. Personil BNN pernah ada yang punya hubungan rahasia dengan Vanny, sehingga jika Vanny ditangkap, dikuatirkan ia akan bernyanyi dan membongkar rahasia tersebut seperti ia membongkar hubungannya dengan raja ekstasi Freddy Budiman. Kalo ini terjadi, maka rumah tangga personil BNN tersebut akan seperti neraka di dunia dan kiamat terasa dekat.

3. Vanny dimanfaatkan oleh beberapa pihak untuk mendatangkan keuntungan dan pihak tersebut meminta BNN jangan dulu menangkap Vanny. Misal pihak televisi, tidak bisa dipungkiri, setiap wawancara dengan Vanny yang dilakukan televisi akan menaikan rating acara tersebut, hal ini serupa dengan saat televisi menayangkan wawancara dengan vitalia shesya dan Anas Urbaningrum sesaat setelah ditetapkan KPK sebagai tersangka. Saat ini nilai berita Vanny paling sexy, lebih sexy daripada tubuhnya yang kuyu dan layu.

4. BNN mengalami dilema, jika Vanny ditangkap karena menggunakan shabu di lapas, maka petugas lapas mesti juga ditangkap oleh BNN karena memfasilitasi orang memakai narkoba, dan KPK mesti menangkap petugas lapas karena terbukti menerima suap dari narapidana raja ekstasi Freddy Budiman.

5. BNN bersifat pasif. BNN akan menangkap Vanny dan Anggita, apabila presiden SBY atau Kapolri memerintahkan untuk menangkap Vanny. Seperti beberapa kasus yang marak di Indonesia, polisi akan bergerak jika presiden SBY sudah memerintahkan untuk usut tuntas dan proses hukum semua yang terlibat.

Demikianlah hasil diskusi saya dan teman-teman tentang fenomena mengapa BNN tak kunjung menangkap Vanny Rosyane pelaku pesta seks dan pesta narkoba di lapas narkotika Cipinang Jakarta.

Selamat malam Indonesia

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Buron FBI Predator Seks Pedofilia Ada di JIS …

Abah Pitung | | 23 April 2014 | 12:51

Ahok “Bumper” Kota Jakarta …

Anita Godjali | | 23 April 2014 | 11:51

Food Truck - Konsep Warung Berjalan yang Tak …

Casmogo | | 23 April 2014 | 01:00

Benarkah Anak Kecil Itu Jujur? …

Majawati Oen | | 23 April 2014 | 11:10

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 4 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 6 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 7 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 8 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: