Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Agus Sutondo

Aku Tetap Sayang dan Cinta Indonesia

Transaksi Pustun-pustun Ahmad Fathanah

OPINI | 29 May 2013 | 14:52 Dibaca: 4033   Komentar: 17   4

13698139541657946363

Sungguh lancang dan terkesan kurang ajar cara Ahmad Fathanah berkomunikasi dengan orang nomor satu di tubuh PKS yakni Luthfi Hasan Isaaq, begitu beraninya Ahmad Fathanah menelpon Luthfi Hasan Isaaq dengan tutur kata yang tidak sepantasnya dilakukan oleh Ahmad Fathanah pada seorang Presiden partai.

Lihat saja dalam lanjutan persidangan kasus suap impor renyah daging berjanggut. Dalam sidang tersebut terungkap, Luthfi Hasan Ishaaq dan Ahmad Fathanah pernah membicarakan tentang perempuan “bahenol” dengan bahasa Arab. Tim jaksa penuntut umum dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sempat memutar rekaman percakapan antara dua sahabat itu, dari hasil penyadapan yang dilakukan pada 9 Januari 2013.

Assalamu Alaikum. Istri-istri antum (Luthfi) sudah menunggu semua,” ucap Fathanah dalam rekaman tersebut sambil tertawa. Luthfi kemudian membalas ucapan Fathanah. Yang mana saja ? timpal Luthfi. Ada semuanya. yang pustun-pustun atau Jawa Syarkiyah, kata Fathanah. Luthfi pun menjawab. “pustun,” keduanya pun sama tertawa.

Ternyata, kata pustun merupakan kata dalam bahasa Arab yang biasa digunakan sebagai bahasa keseharian. Arti halus dari kata pustun sendiri adalah perempuan yang molek, modern. Sementara kata Jawa Syarkiyah berarti Jawa Timur, Namun kalau kata pakde kartono, arti pustun itu adalah “Perempuan Untuk Selingkuh Tidak Untuk Nikah”. He he he ada-ada saja pakde kartono yang ahli kata sandi ini.

Kurang ajarkah Ahmad Fathanah yang berani menelpon mantan presiden PKS dengan candaan seperti diatas, padahal candaan seperti itu biasanya hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang sudah akrab, hingga tidak ada rasa sungkan dan malu-malu lagi untuk menyampaikannya, bahasa gaulnya, candaan ala Luthfi Hasan Isaaq dan Ahmad Fathanah ini bisa mengarah pada hubungan sebelas dua belas diantara keduanya.

Menjadi sebuah pertanyaan. ketika komunikasi mereka berdua mengarah pada kata sandi pustun-pustun dan jawa syarkiyah, lalu siapakah yang dimaksud dengan pustun-pustun dan jawa syarkiyah ala mereka berdua. Kata sandi atau kode rahasia ini memang cenderung bernuansa mesum atau mereka berdua sedang membicarakan urusan esek-esek. fakta ini semakin kuat ketika Ahmad Fathanah terbukti mempunyai puluhan koleksi kupu-kupu cantik yang mengitarinya, bisa saja kupu-kupu cantik ini bagian dari pustun-pustun dan jawa syarkiyah

Terungkapnya wanita-wanita cantik dilingkaran Ahmad Fathanah, ketika KPK memanggil beberapa wanita cantik itu untuk dimintai keterangan sebagai saksi terkait aliran dana pencucian uang Ahmad Fatahanah, bahkan diantara wanita cantik itu sudah ada yang mengembalikan harta benda pemberian Ahmad Fathanah yang bernilai ratusan juta rupiah, misalkan artis panas Ayu Azhari, fotomodel Vitalisa Sesha dan penyanyi dangdut Tri Kurnia Puspita.

Bukan hanya itu ternyata masih ada kurang lebih 45 wanita yang menerima aliran dana dari Ahmad Fathanah, Siapakah wanita-wanita itu, apakah ini terkait dengan kata sandi pustun-pustun dan jawa syarkiyah atau ini termasuk bagian dari transaksi pustun-pustun ala Ahmad Fathanah.

Secara logika sangat tidak masuk akal kalau pemberian Ahmad Fathanah ini tulus adanya atau Ahmad Fathanah bagaikan seorang dermawan yang dengan ikhlas membagi-bagikan uang, apalagi aliran dana terhadap wanita-wanita itu nilai mencapai milyaran rupiah.

KPK memang harus terus menyelidiki temuan aliran dana itu, karena aliran dana itu diduga bukan hanya untuk transaksi pustun-pustun ala Ahmad Fathanah, tetapi lebih dari itu, tidak menutup kemungkinan adanya transaksi lain yang melatarbelakangi dibalik pemberian uang terhadap wanita wanita itu, bisa saja ini bagian dari fee proyek atau kegiatan terselubung lainnya yang dilakukan oleh pihak lain tetapi pemberiaan fee nya justru diarahkan pada pihak ketiga, apalagi keakraban Ahmad Fathanah bukan hanya dengan Luthfi Hasan Isaaq saja, beberapa elit PKS juga banyak yang akrab dengan Ahmad Fathanah, misalkan adanya sertifikat milik Anis Matta yang berada di dalam tas Ahmad Fathanah yang disita oleh KPK, termasuk juga adanya sumbangan dana pemilukada di beberapa daerah yang calon kepala daerahnya diusung oleh PKS.

Petinggi PKS boleh membantah atau mengkambinghitamkam KPK dengan segala macam tuduhan yang tidak masuk akal, begitu juga kader-kader taqlid buta PKS boleh marah dan membela membabibuta bahwa sang panutannya tidak bersalah. Namun semua yang terjadi ini lambat laun akan segera terungkap, sama seperti pengakuan Maharani dalam konferensi pers yang mengatakan hanya bertemu dengan Ahmad Fathanah di kafe hotel.

Tetapi ketika sidang kasus suap ini digelar, semua bantahan itu terjawab sudah, ternyata Maharani dan Ahmad Fathanah justru tertangkap tangan oleh KPK ketika sedang berduaan di kamar hotel, tinggallah kini petinggi dan kader PKS hatinya sedang risau dan gelisah, mereka semua sedang deg-degan, kira-kira kejutan apalagi yang akan muncul, jangan-jangan transaksi pustun-pustun ala Ahmad Fathanah ini benar-benar adanya dan bukan sekedar isapan jempol saja.

Berita Lainnya :

Terungkap Semboyan Isardas Luthfi Hasan Isaaq

17 Milyar Jatah Preman Ketua Majelis Syuro PKS

Heboh Beredarnya Foto-Foto Porno Kasus Sapi

Heboh Anggota PKS Cari Suami di Facebook

Nyanyian Merdu Rani Untuk Presiden PKS

Upeti Kader PKS Untuk Sang Presiden

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

9 Mei 2014, Sri Mulyani Come Back …

Juragan Minyak | | 25 April 2014 | 10:12

Senayan Berduka: Wajah Baru Caleg Misterius …

Saefudin Sae | | 25 April 2014 | 08:37

Kesuksesan Kerabat Kepala Daerah di Sulawesi …

Edi Abdullah | | 25 April 2014 | 10:02

Selamat Hari Malaria Sedunia 2014 …

Avis | | 25 April 2014 | 11:08

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: