Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Ginanjar Arrisinggih

Kesempurnaan hanya milik Allah, dan kesempatan hidup adalah milik kita semua, don't be wasted.

Briptu Rani dan si Cantik yang “Ternodai”

OPINI | 24 May 2013 | 00:29 Dibaca: 4069   Komentar: 1   0

Rumah Sewa (23/5/2013) - Kasus yang dialami Briptu Rani tentang pelecehan seksual yang dialaminya yang dituduhkan olehnya menambah sederet kasus panjang cerita kekerasan terhadap wanita saat ini. Belum hilang rasanya dari angan tentang maraknya pemerkosaan di angkot, kemudian banyak nya kasus KDRT serta pelecehan seksual di lingkungan kerja terhadap buruh wanita di beberapa pabrik.

Yaaah, semua ada sebabnya………………………..

Di salah satu stasiun TV swasta disebutkan bahwa menurut laporan Briptu Rani salah satu petinggi Kapolres mengukur baju padanya sambil “grepe-grepe”. Hal yang seharusnya dilakukan oleh tukang jahit wanita (mengukur ukuran baju), bukan malah petinggi Kepolisian. Atau salah satu tugas atasan ke bawahannya memang seperti itu?

Hahahaha.,

Hal ini tentunya menambah deretan panjang kasus pelecehan wanita. Dari Komnas Perempuan tercatat pada tahun 2011 saja, perkara kekerasan terhadap perempuan di Indonesia mencapai angka 119.107.
“Jumlah ini meningkat dari 2010, sekitar 105.103 kasus,” kata Wakil Ketua Komnas Perempuan, Masruchah, di Koran Tempo, Ahad, 24 November 2012. Untuk tahun 2012 sendiri dari data Komnas Perempuan terdapat 216.156 kasus kekerasan seksual. Di antaranya diterima oleh buruh wanita sebanyak 2.521. Angka itu berdasar kepada buruh wanita yang melaporkan kejadian yang dialaminya. Sementara itu di Jakarta, terdapat sekitar 80.000 orang buruh. Sebanyak 90 persen dari angka tersebut merupakan buruh wanita dan 75 persen buruh wanita yang ada di Jakarta telah mengalami kekerasan seksual.

Gileeeee, banyak banget!!!!! (T_T)

Kelihatannya peraturan untuk melindungi “Si Cantik” di negara ini masih sangat lemah. Bagaimana sistem hukum di Indonesia menhukum para pelaku nya pun masih sangat ringan.

Mari kita liat contekan tentang Pasal-pasal yang mengatur hukumannya:

Pasal 285 KUHP ditentukan bahwa ”Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama 12 tahun”.

Sedangkan dalam Pasal 289 KUHP ditentukan bahwa ”Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan, dengan pidana penjara paling lama 9 tahun”. Dengan demikian ketentuan Pasal 285 lebih berat dari ketentuan Pasal 289, namun ada persamaan unsur yang harus dipenuhi yaitu adanya kekerasan atau ancaman kekerasan.

Dalam UU No. 23 tahun 2004, pelecehan seksual diatur dalam Pasal 8 yang berbunyi sebagai berikut ”Kekerasan seksual sebagaimana diatur dalam pasal 5 huruf c meliputi: (a). Pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut; (b). Pemaksaan hubungan seksual terhadap seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu. Sedangkan ancaman hukuman pidananya adalah 12 tahun penjara atau denda paling banyak Rp 36 juta (untuk Pasal 8 huruf a); 15 tahun penjara dan denda paling sedikit Rp 12 juta (untuk Pasal 8 huruf b). Berdasarkan ketentuan Pasal 184 KUHAP, alat bukti yang sah adalah : (a). Keterangan Saksi; (b). Keterangan Ahli; (c). Surat; (d). Petunjuk; (e).Keterangan Terdakwa.

Apakah penjara 15 tahun merupakan solusi yang tepat untuk membuat jera?? (Fakta dari data yang ada di atas ternyata tidak menunjukan demikian)

Kasian “Si Cantik” kalau harus merasa tidak nyaman dengan banyaknya angka kejahatan yang telah disebutkan di atas.

Si Cantik yang “Ternodai”

Yang pertama, mereka “ternodai” oleh aturan yang tidak mantap mencegah dan mengatasi tindak kejahatan pada perepuan.

Bagaimana jika hukum Islam diterapkan pada kasus ini? Berdasarkan Qs. an-Nuur [24]: 2, pelaku perzinaan, baik laki-laki maupun perempuan harus dihukum jilid (cambuk) sebanyak 100 kali. Namun, jika pelaku perzinaan itu sudah muhson (pernah menikah), sebagaimana ketentuan hadits Nabi saw maka diterapkan hukuman rajam. Apakah tidak akan ada lagi kasus serupa?

(Wallahu a’lam bishawab)

Pada lini ini lah padahal pengendalian dari pemerintah terhadap para pelaku yang kebanyakan adalah lelaki.

Yang kedua, mereka “ternodai” oleh mode dan pemikiran. Bagaimana budaya kesopanan yang ada di Islam dan Indonesia selama bertahun - tahun luntur oleh pengaruh pemikiran barat dan pakaian - pakaian terbuka atau malah pakaian tertutup yang masih menunjukan lekuk tubuh yang aduhai itu yang dianggap “gaul”.

Selain itu bagaimana pemikiran barat melalui media mulai tertanam. Pemikiran tentang kebebasan yang tak terbatas bahkan membuat per-zinahan yang dilandasi dasar suka sama suka adalah perilaku yang tidak melanggar hukum.

Islam yang sangat detil dengan ilmu fiqihnya mengatur tentang bagaimana seorang wanita berpakaian dan berperilaku untuk melindungi dirinya bahkan dianggap tabu. Atau malah dianggap kuno dan tidak modern. Padahal didalamnya wanita sangat di sucikan dan ditinggikan derajatnya serta dilindungi hak-haknya.(Sangat terhormat seorang muslimah sejati)

Untuk menutup tulisan ini, sedikit mengutip beberapa kalimat tentang wanita:

  • “Dan (di dalam Surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan baik.” (QS. Al-Waqi’ah : 22-23)
  • “Semua hal besar biasanya diawali oleh seorang wanita.” (Alphonse de Lamartine, 1790-1869, penulis dan pujangga Prancis)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 5 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 5 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 5 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 11 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Kinerja Buruk PLN Suluttenggo …

Hendi Tungkagi | 7 jam lalu

Jokowi-JK Berantas Koruptor Sekaligus …

Opa Jappy | 7 jam lalu

Luar Biasa, Indonesia Juara Matematika …

Dean Ridone | 7 jam lalu

The Beatles Konser di BI …

Teberatu | 7 jam lalu

Gandeng KPK, Politik Nabok Nyilih Tangan ala …

Abd. Ghofar Al Amin | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: