Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Mysterious Man

Pengin berkata jujur dengan hati nurani, karena jujur itu ternyata mahal harganya

Surat Terbuka Seorang Simpatisan PKS untuk Pimpinannya

OPINI | 21 May 2013 | 12:44 Dibaca: 946   Komentar: 15   7

Tadi malam seorang teman mengirim sebuah email kepada RealiFact Post yang berisi Curhat dia tentang masalah yang sedang dihadapi oleh PKS. Teman yang satu ini sebetulnya punya perhatian dengan partai yang hingga kini masih diyakininya sebagai partai yang bisa diharapkan untuk memperbaiki kondisi Negeri ini. Jauh sebelum terjadi kasus suap daging sapi yang menyeret LHI sebenarnya dia telah banyak bercerita tentang kegalauannya terhadap kondisi PKS dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan ini.

Dalam email tersebut dia meminta tim redaksi Realifact Post untuk membantu menyampaikan uneg-uneg yang selama ini dipendam tanpa tahu harus menyampaikannya kemana. Upaya untuk melakukan kritik konstruktif terhadap PKS sebenarnya sudah dilakukannya namun seolah-olah sia-sia karena kritik tersebut hanya berhenti pada orang dimana dia menyampaikan kritikan tersebut dan tanpa tindak lanjut. Dia berharap dengan tulisannya ini dapat menjadi masukan buat PKS untuk memperbaiki kekurangan yang dimiliki oleh partai Dakwah ini, syukur-syukur dapat dibaca oleh jajaran Pengurus Pusat.

Berikut ini isi emailnya:

Bismillahirrahmanirrahiim
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Segala Puji Bagi Allah Rabb Sekalian Alam
Aku cinta PKS, saya pernah ikut membangun partai ini sejak masih berbentuk halaqah-halaqah kecil, kita di curigai sebagai pengajian terlarang ketika itu dan lebih dikonotasikan sebagai Subversif oleh pemerintah orde baru. Pemilu tahun 2009 saya mati-matian panjat billboard yang tingginya puluhan meter di kotaku untuk pasang baligho dan bendera dengan resiko tersengat listrik bertegangan tinggi hampir tiap malam hingga subuh, siapapun tahu tak sepeser uangpun saya peroleh ketika itu padahal ada dua orang anak dan seorang istri yang harus saya nafkahi sementara siang harinya saya tidak bisa kerja karena malamnya begadang hingga pagi. Yang saya fikirkan ketika itu hanya Kemenangan Partai Dakwah.

Ketika PKS berhasil mengorbitkan beberapa orang Kader menjadi wakil rakyat sebagai anggota Dewan, Alhamdulillah para Kader yang menjadi anggota Dewan tersebut kehidupannya meningkat jauh lebih baik dan saya masih tetap belum ada perubahan bahkan kadang sekedar sapaan dari kader yang sekarang duduk sebagai Anggota Dewan tidak saya dapatkan, karena kemudian sekarang mereka menjadi eksklusif dengan jabatan barunya. Tapi saya maklumi hal itu, mungkin mereka terlalu sibuk “memikirkan” Umat sehingga terlalu berkonsentrasi terhadap nasib Umat, walaupun sebetulnya ada sebuah pertanyaan yang mengganjal juga, yaitu dimana baksos yang biasanya ramai dilakukan dimana-mana menjelang pemilu..? Sehabis Pemilu hal tersebut sudah tidak terdengar lagi gaungnya, padahal mestinya PKS saat ini lebih kaya karena sudah punya beberapa orang menteri dalam kabinet dan banyak anggota Dewan. Secara kwantitas kegiatan sosialnya tak semarak dulu ketika masih PK atau awal-awal terbentuknya PKS, padahal ketika itu kita masih kekurangan dalam segala hal tapi kita bisa berbuat banyak untuk masyarakat.

Saya tidak ingin menuntut kepada kader PKS yang sudah menduduki jabatan penting sebagai anggota Dewan atau Menteri agar bersikap seperti Salafushshaleh dalam memimpin Umat yang rela hidup sederhana bahkan lebih miskin dari rakyat yang dipimpinnya, mereka hanya berfikir untuk kemenangan Islam dengan jabatan yang dimilikinya. Saya hanya ingin Kader-kader PKS yang menduduki jabatan penting dalam Pemerintahan belajar banyak dari para Salafushshaleh

Bukannya saya mengeluh tapi ini saya sampaikan agar para pimpinan PKS dapat menghargai niat tulus kami dalam berdakwah, dengan tetap mengutamakan Islam sebagai landasan berpolitiknya dan tidak ikut terlarut dalam arus, karena komitmen kita adalah mewarnai kursi parlemen dengan segala kebaikan dan bukannya ikut terlarut dalam arus perilaku tidak terpuji yang dilakukan oleh sebagian anggota Dewan

Saya percaya apa yang menimpa PKS saat ini terkait dengan kasus suap daging sapi adalah konspirasi dan pucuk pimpinan PKS kalah dalam memenangkan konspirasi tersebut, artinya kedepannya PKS harus lebih hati-hati lagi dalam memilih siapapun yang akan menduduki posisi penting dalam kepengurusannya, PKS harus dapat memilih orang-orang yang punya integritas dan benar-benar takut kepada Allah. Predikat Ustadz bukanlah jaminan moralitas seseorang dalam memikul tanggung jawab besar yang akan di embannya. Pimpinan partai pada akhirnya akan menghadapi berbagai macam godaan materi yang akan menguji tanggung jawab dan nama baik Partai yang dipimpinnya.

Saya seolah-olah tidak percaya ketika membaca berita yang dimuat oleh Republika yang berisi tentang tawar menawar antara Ahmad Fathanah dengan LHI. Bagaimana mungkin Luthfi Hasan Ishaq bisa melakukan ini semua, dalam pembicaraan tersebut terkesan tidak ada beban ketika dirinya membicarakan masalah uang bersama dengan Ahmad Fathanah yang diduga sebagai uang suap. Tidakkah dia menyadari bahwa apa yang dilakukannya dilihat oleh Allah dan akan berakibat fatal kepada partai yang dipimpinnya, berikut ini isi pembicaraan tersebut yang saya kutip dari Republika Online:

Jaksa KPK telah memperdengarkan rekaman antar mantan presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq dengan Ahmad Fathanah di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat (18/5) lalu.
Selain soal fastun yang dikonotasikan dengan perempuan cantik, terdapat transkrip rekaman yang sempat membuktikan adanya dialog soal uang 40 ribu dolar. Hanya, LHI rupanya menawar dengan angka 550 ribu dolar. Fathanah pun membalas dengan nada bercanda. “Nanti Ana kasih tau. Gunung Antum bisa meledak lho,”ujarnya.
Transkrip percakapan antara handphone bernomor 087884416017 (Luthfi) dengan nomor 08118003535 (Fathanah) ini terjadi pada pada pukul 12.24 WIB dengan durasi percakapan ini selama 1 menit 32 detik.
Berikut petikan lengkap percakapan Fathanah dan LHI pada tanggal 14 Januari 2013
Luthfi: Halo
Fathanah: Mau dibawa kemana nganter ini yang empat puluh ribu dollar ?
Luthfi: Eee empat puluh ribu ?
Fathanah: Iya dua ratus lima puluh sudah ditransfer ke itu, siapa. Dua ratus lima puluh juta, transfer. terus…
Luthfi: Ente ente ada di mana sekarang?
Fathanah: Ana lagi di Depok. Tapi mau ke Jakarta. Mau diantarin kemana?
Luthfi: Ada lagi di DPP jam satu baru mau meninggalkan DPP
Fathanah: Ya udah Ana usahakan deh kalau lewat DPP, lewat DPP ana tinggalin langsung jalan nih. Ya udah siap aja
Luthfi: Ana ana kirain ente mau kirim lima ratus lima puluh
Fathanah: Eh jadi Ana rugi. ini bisa-bisa. bisa-bisa gunung antum ini, gunung antum ini. Nanti Ana kasih tau.  Gunung Antum bisa meledak lho. Artinya betul-betul nggak ada pemasukan di Antum, Terus korek korek  korek korek korek akhirnya. Akhirnya meledak sendiri deh. Ngak kayak bisa tidur lagi di rumah.
Luthfi: Ngak..nggak yang yang yang dulu kan potong pajak dua puluh lima persen. Kalo yang sekarang ..haha..
Fathanah: Ya Allah, ini pajak kali ini, pajak preman, ya akhi. Ini pajak pereman ini.
Luthfi: Ya udah, Ana jam satu berangkat, kalau mau kesini sebelum jam satu ya.
Fathanah: Ke KPU. Kalau ada nyusul deh, dimana Ana titip sapa Yopa kek, Siapa kan itu yang tugas hari ini. Ana tahu siapa. ya udah. Kan bisa bisa gunung meledak sendiri nih. Kagak ada pemasukan.
Luthfi: Ya udah. Yok, Wassalamualaikum.

Begitulah hasil pembicaraan  diperdengarkan oleh Jaksa KPK telah memperdengarkan rekaman antar mantan presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq dengan Ahmad Fathanah di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat (18/5) lalu. Isi pembicaraan tersebut bukanlah “konspirasi”,Sangat fulgar dan tidak terkesan ada perasaan takut kepada Allah dan tanggung jawab terhadap partai yang dipimpinnya.

Mungkin saya adalah salah satu orang yang merasa memiliki PKS dan merasa kecewa dengan semua ini, namun demikian saya masih punya harapan besar terhadap Partai Dakwah ini dan saya yakin Partai ini adalah partai terbaik asal dipimpin oleh orang yang amanah dan tidak main-main dengan Dakwah dan Umat. Dalam kepengurusan sebelumnya PKS hampir tidak pernah mengalami masalah seperti ini, kalau tohpun ada riak-riak kecil tidak menyisakan masalah yang berarti. Dengan pemimpin yang berintegritas tinggi kita pernah memenangkan pemilu dikota-kota besar.

Terkait dengan masalah yang membelit PKS saat ini  adalah katakan kebenaran itu walaupun pahit hal tersebut akan  membuat izzah tetap terjaga dihadapan masyarakat, jangan menutupi setiap kesalahan dengan berbagai macam teori konspirasi yang tidak disertai dengan data yang valid karena hal ini justru akan membuat PKS terkesan melempar batu sembunyi tangan, dan akan berakibat pada menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap PKS. Pangkas semua borok yang ada dan kembalilah pada komitmen awal ketika Partai ini dibentuk dan didirikan, jangan bernafsu merekrut banyak orang tanpa diimbangi dengan pembinaan yang memadai.

Mungkin kasus daging sapi ini akan membuat menurunnya dukungan masyarakat terhadap PKS, biarlah..!!  yang terpenting hapus semua borok dan kesalahan yang pernah ada dan kembalilah kepada komitmen awal Partai ini dibentuk, insyaAllah Allah bersama orang yang benar.

Wassalamualaikum

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22



HIGHLIGHT

Rayuan Pohon Beringin …

Robby Anugerah | 10 jam lalu

Dalam Sebuah Hubungan, Jangan Gantung …

Syaiha | 10 jam lalu

Saran yang Menyesatkan Dari Petugas Call …

Erwin Mulialim | 11 jam lalu

Pangdam VII/Wirabuana Bakal Bekali Wawasan …

Ilmaddin Husain | 11 jam lalu

Pemuda Sebagai Ide …

Muhammad Handar | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: