Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Heri Laregrage

simpel dan ingin semua yg dilakukan bermanfaat dan bernilai ibadah karena Allah SWT, bisa kunjungi selengkapnya

Perjalanan Awal Kasus LHI hingga Kesaksian AF

REP | 20 May 2013 | 10:12 Dibaca: 484   Komentar: 8   0

Berawal dari laporan sekretaris kabinet Dipo Alam awal bulan desember 2012 kepada KPK terkait kementerian nakal. KPK pun mencoba menelusuri dan mengembangkan kasus tersebut. Kementerian pertanian katanya benar masuk daftar tsbt. Pada Bulan januari sudah santer ada nama dengan inisial LHI yg terlibat korupsi di Kementan. Orang yang punya inisial LHI pun merasa tersudutkan dg opini media yg berkembang. pelan tapi pasti menuju ke arah Luthfi Hasan Ishaq. Lutfi pun mengadakan konferensi perss (30/1) utk menjelaskan opini media yg sdh berkembang. Singkatnya bliau bilang tidak terlibat dan inisial namaLHI yg beredar bukan dirinya.

Perkembangan kasus tersebut begitu cepat. Meski pada waktu itupun ada berita ramai akibat nyanyian Nazarudin. Nyanyian yg berbuah menyeret keluarga si Elang Hitam yg ditetapkan tersangka 8/12/12. Dan kasus bocornya sprindik tersangka AU.

KPK menggrebek langsung Ahmad Fatonah (AF) yg katanya sedang bersama dg seorang mahasiswi dikamar hotel Le Meredien 29/01. Media lgsg menyimpulkan bahwa mahasiswi tsebut sebagai gratifikasi seks terkait dg kasus yg skrg sedang menimpa AF. Mediapun tanpa rasa bersalah & tanpa mminta keterangan ke M, lgsg menyebarkan berita bohong bahwa M tertangkap bugil dg AF. Mungkin benar, org yg prtama ke neraka adalah orang2 media yg sengaja mengarang dan menulis bohong hanya utk oplah (harta dunia) semata.

Beberapa hari kemudian M pun menjelaskan keberadaannya dikamar hotel kpd media. Tim dari KPK malam harinya setelah konferensi pers Luthfi lgsg merapat ke DPP PKS. KPK merapat utk memastikan bahwa inisial LHI yg sedang santer diberitakan adalah Lutfhi Hasan Ishaq. Lutfhi Hasan Ishaq resmi menyandang status LHI yg ditetapkan trsangka oleh KPK malam harinya setelah rapat dikantor DPP PKS, LHI pun lgsg digelandang ke KPK, katanya kena OTT alias operasi tertangkap Tangan suap impor kuota daging sapi.

Apakah kjadian itu memang benar bsa dikatakan sbg operasi tangkap tangan? Padahal tak ada barang bukti yg ditemukan saat penangkapan. Isu LHi semakin digoreng, skrg isu trsangkanya keluarga Elang hitam & trsangkanya AU tanggal 22/02/13 tak laku dipasar. Krna Isu yg menimpa LHI mantan Presiden PKS lbh seksi dari AAM & AU. LHI dipenjarakan, Anas dan Andi bisa klayapan. PKS semakin dibidik & diobok-obok krn mrupakan partai dakwah bersih peduli profesional yg kerap menentang kbijakan istana yg merugikan.

Persepsi partai bersih & islami pun mulai pudar. Tercoreng dgn kasus pemberitaan miringnya LHI. Mulai pudar hanya dibeberapa kalangan, dikalangan lain banyak orang yg berbondong-bondong masuk PKS karna kasus LHI yg mereka lihat itu adalah sebagai pendzoliman. Media semakin gembira mendapat berita miring yg mereka anggap istimewa tentang LHI. Alhasil Banyak orang yg mencibir PKS. Koruptor kok masih dibela, Katanya partai dakwah?, PKS Partai korupsi sapi & cibiran lainnya Mski LHI msh brsatus trsangka bkn trpidana.

Tapi sepertinya sang kader tetap tegak berjalan dan memandang kedepan seperti hari-hari biasa, tak trjdi apa-apa. Mrka lbh prcaya pimpinan yg di kenal melalui pndekatan yg dibangun atas dasar cinta. Tdk percaya media yg hanya berorientasi oplah smata. bukan krn taqlid pada qiyadi, bkn pula atas dasar kesamaan partai semata. Tp atas dasar cinta & situasi yg sebenarnya. hanya brbekal akun twiter & fb. Smw brusaha mngcounter isu miring trkait saudaranya. Sikap PKS yg cenderung diampun dimanfaatkan KPK.

Blm trbukti tangkap tangan kuota impor daging sapi, LHI dijerat ke money laundry (TPPU). KPKpun seakan tdk hanya ingin mmenjarakan LHI, tp bgaimna scara korporasi jg PKS digembosi/ dibubarkan. ICW seperti gayung menyambut, seakan ICW pun semakin memanasi dan mengiyakan isu Pembubaran PKS. Mereka lupa Bagi kader, Partai hanyalah salah 1 sarana u/ mmperjuangkan kebenaran di negara demokrasi. Bukan sebagai alat utama. Sebelum memutuskan berjuang lwt parlemen, perjuangan mereka juga tdk bisa diragukan. Tak menjadi masalah jika pks dibubarkan. Tp selagi masih bisa berikhtiyar dg cara yg benar kenapa kita tdk berusaha mendapatkan apa yg bisa kita pertahankan? ketika sdh menemui jalan buntu, maka sdh sepantasnya kqt serahkan kpd Allah u/ memberi keputusan terbaikNya. selagi masih ada asa, kita semua ingat harapan itu masih ada. Rahmat Allah akan turun kpd yg tak berputus asa.

Kabar 17/05 kmren seakan istisqo kader trkabulkan. Hujan kecil mulai mmbasahi asa yg slma ini kering akbat kmarau kejujuran. Atas ikhtiar & munajat mreka, Alhamdulillah Allah berikan jln terang prjuangan. Saat Pengakuan Af qt brkhusnuzon seakan mmbuat media mrasa brsalah, shingga media yg meliput, langsung serentak menghentikan siaran lgsgnya. Mereka lebih memilih menngganti dgn jln online & sosmed yg mereka punya (detik,viva, okezon dll) utk mengurangi rasa malunya. seakan ingin meminta maaf pada PKS sama seperti permintaan maaf AF yg disiarkan TV swasta.

Pasca sidang selesai baru mereka (media) tegak dan mau mengakui dengan berani fakta prsidangan yg baru terjadi . Kawan, ini hanya awalan. Masih ada rencana Allah yg lainnya utk menguatkan kita, entah dengan ujian pahit yg akan mensolidkan ataupun dengan kesenangan yg bisa jadi melenakan atau menambah kesyukuran dg bekerja dengan cinta dan totalitas. Membumikan cinta kerja dan harmoni dlm negeri yg brcita mnjadi negeri sepenggal firdaus

Dikembangkan dari Sumber asli http://chirpstory.com/li/79778

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 26 July 2014 13:29

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: