Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Amirsyah

Abdi Negara/Pelayan yg berpindah2 tugas di Nusantara. Artikel Penulis adalah pendapat pribadi, tidak mencerminkan instansi selengkapnya

Geng Motor dan Gendeng Bermotor

REP | 15 May 2013 | 19:59 Dibaca: 203   Komentar: 0   0

Geng Motor dipersepsikan sebagai sekumpulan orang-orang yang menggunakan motor untuk berkumpul dan menunjukkan eksistensinya biasanya dengan balapan liar, taruhan hingga perkelahian. Kini ulah Geng motor motor semakin meresahkan masyarakat apalagi banyak yang merambah tindak pidana seperti melakukan pemukulan, pengeroyokan, penjambretan, perampokan, pemerkosaan dan tindakan melawan hukum lainnya yang merugikan masyarakat.

Gendeng Bermotor adalah para pengendara motor yang berlaku seenaknya di jalan tanpa memperhatikan peraturan dan rambu-rambu lalu lintas. Para Gendeng Bermotor ini sangat mengganggu dan membahayakan pengguna jalan lainnya. Sehari-hari kita dapat melihat kelakuan para Gendeng Bermotor ini: kebut-kebutan, tidak mematuhi rambu lalu lintas, merebut jalur pejalan kaki, tidak memakai helm, berboncengan bertiga, menggunakan Ponsel dan lain sebagainya. Yang paling trend sekarang ini adalah menggunakan ponsel untuk menelpon, membaca sms bahkan berkirim sms sambil mengendarai motor. Seolah-olah mereka manusia super sibuk yang tidak punya waktu untuk berhenti di pinggir jalan baru menggunakan ponselnya.

Fenomena Geng Motor dan Gendeng Bermotor ini muncul dan semakin marak karena banyak faktor yang menyuburkan mereka. Mudahnya membeli/kredit motor, murahnya harga BBM bersubsidi, gampangnya mendapatkan SIM, pembiaran dan tidak adanya pengajaran dari orang tua, teladan dari penegak hukum yang kurang hingga penegakan hukum yang tidak tegas.

Contoh kecil, coba perhatikan anak-anak usia SMP, SMA bahkan SD yang mengendarai motor. Walau menggunakan helm dengan benar dan motornya lengkap namun dipastikan tidak punya SIM karena faktor usia, artinya TIDAK BOLEH mengendarai motor. Sayangnya hal ini sering tidak diberikan tindakan tegas. Para anak-anak tersebut langsung terbiasa praktek melanggar peraturan, ditambah teladan yang “luar biasa” dijalanan maka tak heran bila akhirnya mereka menjadi Geng Motor dan atau Gendeng Bermotor.

Baik Geng Motor maupun Gendeng Bermotor harus segera dilakukan tindakan yang tegas berdasarkan hukum yang berlaku. Geng Motor yang melakukan tindak pidana wajib dihukum berat lalu dicabut SIMnya. Begitu juga dengan para Gendeng Bermotor perlu dilakukan tindakan yang tegas untuk memberikan efek jera sehingga tidak seenaknya dijalanan. Para Geng Motor dan Gendeng Bermotor yang berkali-kali melanggar tidak bisa tidak harus dicabut SIMnya dan baru boleh mengikuti tes SIM untuk beberapa tahun kedepan. Bagi yang tidak punya SIM bisa diberikan hukuman yang lebih berat, bila perlu dihukum kerja sosial agar efek jeranya lebih terasa.

Diharapkan dengan tindakan-tindakan tegas dari Polisi Lalu Lintas, para pengendara motor akan kembali tertib karena tidak mau SIMnya dicabut karena harus menunggu beberapa tahun lagi baru bisa mengikuti tes mengemudi untuk mendapatkan SIM kembali. Yang tidak punya SIM tidak akan berani mengendarai motor karena akan malu bila dikenakan hukuman kerja sosial. Hal ini juga wajib diterapkan pada para Gendeng Bermobil.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jakarta Community Tampil Semarak di Asean …

Tjiptadinata Effend... | | 02 September 2014 | 19:52

Modus Baru Curi Mobil: Bius Supir …

Ifani | | 02 September 2014 | 18:44

Beranikah Pemerintah Selanjutnya …

Dhita A | | 02 September 2014 | 19:16

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Jokowi, Berhentilah Bersandiwara! …

Bang Pilot | 8 jam lalu

Menerka Langkah Politik Hatta …

Arnold Adoe | 9 jam lalu

Anies Baswedan Sangat Pantas Menjadi …

S. Suharto | 9 jam lalu

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 12 jam lalu

Bebek Betutu Ubud Pak Mangku …

Febi Liana | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Sepucuk Surat untuk Gadis Kaili….. …

Soentanie Yukie | 8 jam lalu

Haruskah Kugembok Akunku? Belajar dari Kasus …

Anggie D. Widowati | 8 jam lalu

Trik Marketing atau Trik Penipuan? …

Putriendarti | 9 jam lalu

Kejujuran …

Rahmat Mahmudi | 10 jam lalu

Berupaya Mencapai Target Angka 7,12% …

Kun Prastowo | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: