Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Edi Abdullah

RIWAYAT PEKERJAAN. 1. DOSEN PADA UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR TAHUN 2008-2011. 2.DOSEN PADA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR. selengkapnya

Aiptu Labora Sitorus Memiliki Rekening Gendut 900 Milyar hingga 1,5 Triliun, Hasil Temuan PPATK

OPINI | 15 May 2013 | 08:31 Dibaca: 3684   Komentar: 19   0

sumber foto:www.antarasumsel.com

kabar mengejutkan Rekening Gendut di institusi Polri kembali terjadi kali ini seorang angota polri berpangkat Aiptu Labora sitorus seoarng anggota polres sorong diduga memiliki rekening gendut dengan jumlah 900 milyar,bahkan transaksi keuangan yg dilakukan aiptu sitorus antara tahun 2007 hingga 2012 berkisar 1,5 triliun rupiah, dan sekarang polri suda mulai melakukan penyidikan atas laporan PPATK (pusat pelapoan dan analisis transaksi keuangan).

sebelumnya juga irjen djoko susilo juga terlibat pencucian uang, karena itu KPK menyita harta djoko susilo yg nilai taksirannya lebih dari 200 milyar berupa harta tidak bergerak seperti rumah mewah lebih dari 25 unit, 3 SPBU, 1 apartemen, dan 4 sawah serta 3 buah mobil mewah.

karna itu banyak yg beranggapan bahwa harta yg disita KPK yg cukup banyak itu bukan hanya berasala dari kasus korupsi simulator sim tapi berasal dari tindak pidana lain . tindak pidana korupsi di intitusi Polri sendiri perna Ditemukan PPATK pada tahun 2010, dimana diduga 17 jenderal perwira tinggi Polri memiliki rekening gendut Atau melakukan  Transaksi keuangan yg mencurigakan.

dan hasilnya ICW melakukan pelaporan Kepolri tentang Kasus Rekening Gendut Namun hingga hari ini Belum mendapatkan kejelasan AKAN LAPORAN TERSEBUT. sebagai Pelapor ICW juga sudah mengajukan Perkara INI ke Komisi Informasi Publik(KIP) . untuk dibuatkan putusan meminta Polri mengungkap kasus ini kepublik namun hingga hari ini belum ada penjelasan detail kasus tersebut.

bahkan pada tahun 2010 majalah tempo sempat mengangkat kasus ini dengan cover seperti gambar diatas Rekening Gendut Perwira Polisi. namun anehnya majalah tersebut habis diborong oleh seseorang yg memiliki ciri ciri tinggi, tegap bahkan pencetakan ulang sempat dilakukan majalah tempo pada (29/6/2010) . dan mengedarkannya kepengecer koran yg ada disekitar jakarta dan anehnya langsung ludes dibeli oleh orang orang tertentu sebanyak 3000 ekslampar habis dengan harga 27.000 pada saat itu. dan kalu dihitung sang pembeli misterius ini sedikitnya harus mengeluarkan uang senilai 810 juta untuk memborong majalah tersebut sehingga tidak sampai kepublik belum lagi biaya transportasi yg mereka gunakan untuk mengelilingi kota jakarta untuk mencari pengecer koran dan membelinya. munkinkah ini merupakan upaya yg dilakukan untuk menutup akses publik mengetahui fakta akan kasus tersebut.

karena itu sudah saatnya KPK berani mengambil kembali penyidikan kasus rekening gendut aiptu labora sitorus, dan bekerjasama Pusat Pelaporan Dan analisis transaksi Keuangan (PPATK) untuk mengungkap kasus rekening gendut Aiptu labora sitorus. karna itu UU Nomor  8 tahun 2010 tentang tindak pidana pencucian uang harus digunakan karena didalam uu ini dikenal pembuktian terbalik dimana sitersangka atau siterdakwa harus membuktikan bahwa asal-usul harta kekayaannya dan menjelaskan dengan bukti bahwa harta tersebut bukan berasal dari tindak pidana korupsu.

dan KPK berhak mengambil alih kasus rekening gendut aiptu labora sitorus dan menyelidikinya sesuai dengan uu nomor 30 tahun 2002 tentang Komisi pemberantasan korupsi. ada beberapa alasan KPK berhak mengambil alih penyidikan kasus korupsi dari intitusi penegak hukum lainnya yaitu :

  1. kasus tersebut menimbulkan kerugian diatas 1 milyar.
  2. kasus korupsi tersebut mendapatkan perhatian publik, dan melibatkan orang besar atau pejabat negara/ aparat penegak hukum.
  3. penaganan kasus korupsi tersebut berlarut-larut dan tertunda-tunda tanpa alasan yg sah, dan diduga penaganannya dilakukan untuk melindungi tersangka kasus korupsi.

berdasarkan hal tersebut diatas maka KPK berhak mengambil alih penyidikan kasus korupsi dari intitusi kejaksaan ataupun polri..

Tindak pidana pencuian uang merupakan tindak pidanan yg diatur dalam UU Nomor 8 tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang adapun sala satu bentuk tindak pidana pencucian uang ditemukan dalam pasal 3 yaitu :

Setiap Orang yang menempatkan, mentransfer, mengalihkan,membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan,membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkandengan mata uang atau surat berharga atau perbuatan lain atas Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patu tdiduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimanadimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dengan tujuan menyembunyikan atau menyamarkan asal usul HartaKekayaan dipidana karena tindak pidana Pencucian Uangdengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dandenda paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliarrupiah). sedangkan adapun hasil tindak pidana adalah harta kekayaan yg diperoleh dari tindak pidana(Pasal 2);

  1. korupsi;
  2. penyuapan,
  3. narkotika;
  4. psikotrofika;
  5. penyelundupan tenaga kerja;
  6. penyelundupan migran;
  7. dibidang perbankan.
  8. di bidang pasar modaL;
  9. dibidang asuransi;
  10. kepabeanan;
  11. cukai;
  12. perdagangan orang;
  13. perdagangan senjata gelap;
  14. terorisme;
  15. penculikan;
  16. pencurian;
  17. penggelapan;
  18. penipuan;
  19. pemalsuan uang;
  20. perjudian;
  21. prostitusi;
  22. di bidang perpajakan;
  23. di bidang kehutanan;
  24. di bidang lingkungan hidup;
  25. di bidang kelautan atau perikanan;
  26. tindak pidana lain yg diancam dengan hukuman 4 tahun atau lebih.

inilah jenis -jenis perbuatan tindak pidana yg bisa dijeratkan kepada pelaku ntindak pidana pencucian uang, dan dalam undang -undang ini sistem pubtiannya adalah terbalik dimana tersangka atau terdakwa dibebani untuk membuktikan asal usul harta kekayaannya.

dan sebagai penutup tulisan ini saya akan sampaikan pendapat Almarhum prof.

achmad ali :

((when the money take the place the truth will be silent.)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

‘Gabus Pucung’ Tembus Warisan Kuliner …

Gapey Sandy | | 24 October 2014 | 07:42

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 4 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 4 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 5 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 8 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Tips COD (Cash on Delivery) an untuk Penjual …

Zanno | 10 jam lalu

DICKY, Si Chef Keren dan Belagu IV: Kenapa …

Daniel Hok Lay | 10 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 11 jam lalu

Dosen Muda, Mana Semangatmu? …

Budi Arifvianto | 11 jam lalu

Aku Berteduh di Damai Kasih-Mu …

Puri Areta | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: