Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Apa Benar Perempuan Penyebab Terjadinya Korupsi?

OPINI | 12 May 2013 | 06:53 Dibaca: 391   Komentar: 6   1

Apa benar Perempuan penyebab terjadinya korupsi?  Jaman dahulu mungkin kiasan harta, tahta dan wanita sebagai penyebab korupsi masuk akal, namun sekarang tidak lagi. Semua sudah berubah seiring perjalanan waktu dan kemajuan jaman, perempuaun bukan lagi menjadi penyebab, tapi juga jadi pelakunya. Coba lihat saja kenyataannya pelaku korupsi perempuan saat ini bersaing dengan pelaku korupsi laki laki perbandingannya. Kurang pas lagi saat ini, kalau perempuan disebut sebagai penyebab terjadinya korupsi .

Beberapa hari ini mata dan telinga dibuat cape oleh salah satu stasiun televisi yang mengatakan , lagi-lagi korupsi terjadi bersanding dengan wanita. Padahal di Indonesia ini ada puluhan atau mungkin ratusan juta (dihitung dari bayi perempuan) tidak menjadi penyebab korupsi. Rasanya tidak adil kasus korupsi dilakukan oleh AF yang terlibat suap daging sapi import itu lalu memojokkan perempuan sebagai biang keladinya. Kalau pun ada mungkin hanya segelintir saja, tapi pastinya saya tidak yakin seorang perempuan akan menerima laki-laki yang korupsi sebagai teman,  apalagi teman hidup.

Ada beberapa alasan saya kenapa perempuan bukan penyebab terjadinya korupsi.  Alasan pertama saya mudah saja, bagaimana bila yang melakukan korupsi itu perempuan? Apa laki-laki menjadi penyebab terjadinya korupsi? Tidak bukan? Nah, alasan kedua adalah, perbandingan pelaku korupsi perempuan dan laki-laki saat ini hampir sama dan nilainya pun tidak jauh beda, ya kalau pun berbeda sepertinya tipis sekali. Alasan ketiga saya perempuan bukan penyebab korupsi adalah pasti tidak ada perempuan yang minta teman atau suaminya itu untuk melakukan tindak korupsi, kalau ada berarti perempuan itu sakit.

Kasus AF yang melibatkan beberapa perempuan sebagai penerima hadiah itu bukan kesalahan si penerima, melainkan kesalahan total AF sebagai pemberi. Bisa jadi si perempuan itu adalah penggoda, tapi saya tidak yakin kalau dia (perempuan itu) meminta AF untuk kotrupsi. Menurut saya, modus AF korupsi hanya disebabkan oleh harta, karena setelah memiliki harta itu baru dia memberi perempuan kanan dan kiri dengan hadiah mewah dan mahal. Masa sih korupsi dilakukan akibat cita-cita untuk mendekati si perempuan cantik A atau B? Saya rasa tidak pernah terpikir oleh AF untuk bercita-cita mendekati dan memberi hadiah mewah sebelum melakukan tindakan korupsi. Hal itu terjadi begitu saja dan wajar bila uang jin dimakan gondoruwo.

Ungkapan perempuan jadi penyebab seorang laki-laki melakukan korupsi sepertinya mentah dan tidak tepat lagi di jaman ini. Semua yang melakukan korupsi saat ini hanya satu tujuan, yaitu mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya tanpa memandang halal atau haram. Untuk kerja keras mereka para pelaku korupsi pastinya bekerja keras saat melakukan dan saat menghindari hukum saat melakukan korupsi. Jadi kurang tepat dan tidak adil, bila perempuan menjadi objek penyebab terjadinya korupsi.

Hal lain yang sudah tidak sesuai lagi saat ini adalah tahta yang juga menjadi penyebab korupsi, karena saat ini pelaku korupsi bukan saja orang yang memiliki tahta. Pelaku korupsi saat ini sudah merata, jadi bukan tahta. Kalau mau jujur, lihat saja mulai dari anak sekolah SD sudah melakukan korupsi, yaitu nyontek, nyatut dan lain sebagainya. Dimana dan profesi apa yang tidak ada korupsinya saat ini? Sebelum bangsa ini berkecukupan dalam memenuhhi kebutuhan sehari-harinya alias makmur, korupsi ada diatas, ditengah dan dibawah. Jadi tahta pun sudah tidak tepat untuk dijadikan alasan sebagai penyebab terjadinya korupsi.

Ini sengaja ditulis, karena saya merasa ada uangkapan yang sudah tidak tepat lagi saat ini dengan menyebutkan perempuan disandingkan dengan pelaku korupsi, seperti yang dilakukan oleh AF. Apakah M. Nazaruddin melakukan korupsi demi perempuan? Saya tidak yakin itu, karena M. Nazaruddin dan istrinya saat ini sudah mendekam di penjara akibat korupsi. Nah, apa motivasi mereka berdua itu? Pastinya bukan perempuan atau laki-laki yang menjadi penyebab terjadinya korupsi. Kasihan perempuan yang tidak menjadi penyebab korupsi jadi disamaratakan, meskipun saat ini pelaku korupsi laki-laki dan perempuan bersaing ketat.

Apapun alasannya, menurut saya perempuan dan tahta tidak lagi menjadi penyebab korupsi, karena dua hal itu umumnya terjadi setelah korupsi berhasil. Jarang dan mungkin tidak ada orang yang memiliki tahta melakukan korupsi secara langsung, apalagi terlibat dengan namanya perempuan. Bukankah saat ini media begitu terbuka, maka dari itu mereka yang bertahta berhitung dua tiga kali untuk melakukan korupsi, yah paling juga dapat komisi dari bawahannya yang melakukan korupsi. Pengawas korupsi saat ini mengawal ketat bagi yang bertahta, kecuali si orang bertahta ini pintar mengatur skenario korupsi. Kalau terungkap paling bawahannya saja yang menjadi tumbal, sedangkan si orang bertahta masih duduk di singgasana dengan tenang. Jika bertahta melakukan korupsi partai tunggal, maka si pelaku itu kurang canggih.

Sebagai penutup tulisan ini, sekali lagi saya secara pribadi tidak setuju dengan ungkapan perempuan menjadi penyebab terjadinya korupsi. Perempuan bukan penyebab terjadinya korupsi untuk saat ini, tapi alasan harta semata yang membuat orang melakukan tindakan korupsi. Tidak bisa disamakan seluruh perempuan dengan salah satu teman AF. Tidak ada perempuan yang mau menerima pemberian hasil korupsi, bila ada seperti telah saya tulis diatas. Berarti si perempuan itu sakit! Kalau ada perempuan yang melakukan korupsi demi laki-laki, berarti si perempuan dan laki-lakinya itu juga sakit! Apa yang dilakukan AF adalah normal sebagai laki-laki yang punya banyak dan gampang mendapatkan uang, lalu disebar kepada beberapa wanita cantik. Jika AF suka laki-laki pasti uang itu dibagi ke laki-laki, namun AF perlu dipertanyakan bila itu terjadi?? Terima kasih, Peace.. (Derio)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 9 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 11 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 15 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 17 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: