Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Jalu Priambodo

antara Bandung-Jakarta. ITB angkatan 2002. Pengamat dan analis kebijakan, teknologi dan masyarakat INSTRAT.

Apa Bedanya TPPU Nazaruddin dan LHI

OPINI | 11 May 2013 | 23:14 Dibaca: 3053   Komentar: 33   7

Belakangan ini petinggi PKS sering mengeluhkan adanya perlakuan tidak adil terhadap petinggi partainya dibandingkan dengan partainya Pak Presiden SBY. Saya bingung ini ngapain partai koq komplain terus. Bak gayung bersambut, keluhan tersebut diteruskan melalui kader mereka di media sosial. Katanya, tidak ada media konvensional yang mendukung mereka. Para penggiat anti korupsi kemudian mengatakan kalau mereka asbun. Katanya, M Nazaruddin sudah koq dikenakan Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana LHI.

Untuk membuktikan siapa yang diperlakukan tidak adil dan siapa yang asbun, saya coba membuat rekonstruksi sederhana terhadap kedua kasus tersebut. Berhubung gelar yang saya miliki ST, sama seperti Johan Budi, saya ga bisa ngomong panjang lebar tentang hukum. Solusinya saya coba membuat bagan terhadap kedua kasus tersebut.

Sebelum masuk ke kasus, terlebih dahulu kita perlu memahami apa itu Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dan apa hubungannya dengan Tindak Pidana Korupsi. TPPU diatur dalam UU No 8 Tahun 2010. TPPU mengatur hukuman bagi orang yang menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukar dengan mata uang atau surat berharga, atau kegiatan lain harta kekayaan yang DIKETAHUI atau DIDUGA hasil tindak pidana. Nah tindak pidana di sini macem-macem, ada korupsi, narkoba, perdagangan orang, suap, terorisme, dsb. Intinya, TPPU akan menghukum siapapun yang mengalirkan duit hasil kejahatan. Nah, korupsi termasuk tindak pidana dan harta korupsi jika dialirkan masuk TPPU ini. Untuk lebih jelasnya liat bagan :

13682881712000890266

diolah dari UU Tipikor (no 20 tahun 2001) dan UU TPPU (no 8 tahun 2010)

Bagaimana kisah Nazar. Nah, seperti kita ketahui bersama, Nazaruddin terbukti di pengadilan melakukan korupsi Hambalang yang merugikan negara sebesar 2,5 Triliun. Nazar melakukan aksinya melalui PT DGI. Dari duit hasil korupsi tersebut, Nazar mengalihkannya menjadi saham Garuda sebesar Rp 300 Miliar. Karena aksinya tersebut, Nazar juga dikenai TPPU dan aset tersebut disita. Coba simak bagan berikut :

13682882341336541588

konstruksi kasus Nazar yang telah selesai diproses hukum

Lalu bagaimana dengan LHI. Cerita awalnya berasal dari keinginan PT Indoguna menambah kuota impor daging sapi. PT Indoguna menggunakan jasa makelar bernama Ahmad Fathanah untuk melobi Menteri Pertanian. Ahmad Fathanah diyakini mampu mempengaruhi Menteri melalui LHI, teman satu almamater dan juga ketua partainya menteri pertanian. Atas jasa AF, PT Indoguna memberi ganjaran sebesar Rp 1 Miliar. Kata AF duit itu untuk LHI. Akan tetapi, pada kenyataannya LHI belum sempat menerima uang tersebut. Baik LHI maupun AF kemudian ditangkap dan dinyatakan sebagai tersangka. Lebih dari itu mereka berdua dikenakan tuduhan TPPU. Beberapa mobil LHI yang diduga nilai totalnya lebih dari 1 M sudah disita.

13682882781343775881

konstruksi kasus LHI. warna terang menunjukkan masih dalam pemeriksaan

Sekarang coba perhatikan bagan Nazar dan bagan LHI. Perhatikan bagaimana hubungan antara tuduhan Tipikor dan TPPU pada kedua kasus tersebut. Ada bedanya? Dalam Nazar kita bisa mencerna dengan jelas aliran uangnya, sehingga tuduhan TPPU masuk akal. Dari korupsi 2,5 T Nazar kemudian dikenakan TPPU 300 M. Lalu, coba perhatikan bagan aliran dana dalam kasus LHI. LHI sudah dapet dana belum? Lalu kenapa bisa kena TPPU? Coba dihitung anak-anak, 1 M - 1 M berapa? Terus kalau dikurangi lagi jadi berapa? Minus bu Guru ga ada sisanya. Nah disinilah bedanya.

Nazar jelas sudah dikenakan TPPU tapi apakah kasusnya sudah selesai? Ingat, Nazar korupsi 2,5 T lalu dananya dialihkan ke saham Garuda 300 M. 2,5 T - 300 M sisanya berapa anak-anak? Anak SD juga tau masih ada sisa dana yang belum ketahuan. Dan kita juga tau bahwa Nazar sempat bagi-bagi uang ke koleganya. Angie memperoleh 12 M, Anas dapat Harier (meski dikembalikan lagi) dan sumbangan untuk pemenangan sebagai Ketua Demokrat, belum lagi Andi. Kita tidak tau ada siapa lagi yang dialiri oleh Nazar. Dan karena ini semua harta korupsi, seharusnya semua aliran dana ditelusuri sampai ujung. Artinya 12 M yang didapat Angie harus ditelusuri diberikan ke siapa saja, begitu pun juga dengan mereka yang dapat aliran dana. Termasuk jika Ibas terima meski sepeser dari Nazar. Ingat juga bahwa Nazar adalah bendahara Partai yang aliran dananya bisa kemana-mana. Nah, sampai mana kasus ini nampaknya masih belum jelas.

136828833736317688

konstruksi kasus hambalang yang telah selesai dan yang masih diperiksa. warna terang di panah TPPU menunjukkan tuduhan belum dikenakan

Dengan melihat bagan apakah sudah jelas. Siapa yang asbun dan siapa yang diperlakukan tidak adil. Kalau belum jelas juga kita ambil hikmahnya saja: Jangan andalkan anak bergelar ST dalam lembaga penegakan hukum :)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haru Jokowi-JK di Kapal Phinisi …

Yusran Darmawan | | 25 July 2014 | 10:00

Menggigil di Rio, Sauna di Dubai …

Iskandarjet | | 25 July 2014 | 13:20

US Dollar Bukan Sekedar Mata Uang …

Arif Rifano | | 25 July 2014 | 11:21

9 Tips Meninggalkan Rumah Saat Mudik …

Dzulfikar | | 24 July 2014 | 22:48

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Kunjungan Clinton ke Aceh, Misi Kemanusiaan …

Rafli Hasan | 5 jam lalu

Demokrasi ala SBY Jadi Perhatian Pakar Dunia …

Solehuddin Dori | 6 jam lalu

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih? …

Ryan Perdana | 8 jam lalu

Membaca Jurus Rahasia Kubu Prabowo-Hatta …

Zulfikar Akbar | 15 jam lalu

Semakin Ngotot Menang Tim Prabowo Semakin …

Galaxi2014 | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: