Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Sutomo Paguci

Pewarta warga mukim di Padang | Advokat | Nonpartisan | Menulis sebagai rekreasi

Uniknya Kata Sandi: Ada Daging Pak Luthfi!

OPINI | 08 May 2013 | 15:11 Dibaca: 1017   Komentar: 40   7

“Pak Fathanah telepon, bilang jangan jauh-jauh dari mobil, ada daging Pak Luthfi. Saya bilang saya tunggu,” kata Sahrudin, sopir Ahmad Fathanah (AF) saat bersaksi di persidangan Tipikor, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (8/5/2013), sebagaimana dikutip dari detik.com.

Waktu itu Sahrudin menunggu AF di kantor PT Indoguna Utama, setelah sebelumnya dari Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta. Tak menunggu lama AF kemudian keluar bersama dua orang lainnya, yakni Direktur PT Indoguna Utama, Juard Effendi dan Rudy Susanto, yang membawa kantong plastik warna hitam berisi “daging” buat Pak Luthfi.

Dari kantor PT Indoguna tersebut AF kemudian minta diantar ke Hotel Le Meridien. Dan di hotel inilah petualangan AF berakhir di tangan KPK. Ia tertangkap tangan sebagai perantara suap untuk Luthfi Hasan Ishaaq (LHI), Presiden PKS.

Saat bungkusan “daging” itu dibuka di Hotel Le Meridien barulah Sahrudin kaget dan tersadar. Ternyata isinya bukan daging, melainkan uang!

Satu lagi mosaik kasus ini terungkap! Terlihat AF memang seorang pro dalam permainan begini. Bahkan kepada sopirnya pun ia menggunakan bahasa sandi.

Kesaksian Sahrudin akan makin klop untuk membuktikan tindak pidana suap jika kelak LHI mengakui di persidangan, bahwa benar “daging” itu ditujukan padanya.

Andai kelak LHI tak mau mengaku, maka dicari alat bukti lain, antara lain bukti rekaman percakapan. Khabarnya, rekaman percakapan LHI-AF tersebut menggunakan bahasa Arab dengan sandi “korma” dan “onta”.

Disebut-sebut terjemahan salah satu penggalan percakapan itu berbunyi: “Assalamu’alaikum Akhi, korma satu kardus sudah ana terima, dan 10 biji sudah ana ambil untuk vitamin onta kita, sebagai kendaraan jihat, syukron.” Satu kardus korma bermakna uang Rp.1 miliar yang diterimanya dari PT Indoguna dan 10 biji korma bermakna Rp.10 juta yang diambilnya buat membayar “ayam kampus”.

Akan lebih baik LHI mengaku jika memang demikian faktanya. Sebab, taroklah LHI tak mengaku sementara saksi-saksi justru menerangkan sebaliknya, maka bantahan LHI menjadi tak bernilai. Apalagi berhohong adalah dosa, bukan?

Jika kelak terbukti maka kader PKS benar-benar “keren”.

(SP)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lewis Hamilton Akhirnya Juara Dunia GP …

Hery | | 24 November 2014 | 21:17

Parade Foto Kompasianival Berbicara …

Pebriano Bagindo | | 24 November 2014 | 18:37

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11

Berbisnis Buku Digital: Keuntungan dan …

Suka Ngeblog | | 24 November 2014 | 18:21

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Tjiptadinata, Menang Karena Senang …

Felix | 8 jam lalu

Butuh Rahma Azhari untuk Bekuk Filipina? …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu

Tanggapan Negatif Terhadap Kaesang, Putera …

Opa Jappy | 12 jam lalu

Sikap Rendah Hati Anies Baswedan dan Gerakan …

Pong Sahidy | 12 jam lalu

Putra Presiden Konsumsi Babi …

Muhammad Armand | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Nasib atau Takdir? …

Imam Sr | 8 jam lalu

Tips Tampil PD ala Kispray …

Sandra Nurdiansyah | 8 jam lalu

Cinta Tak Melulu Indah …

Anugerah Oetsman | 8 jam lalu

Lisa Rudiani, Cantik, Penipu dan Pencuri …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Revolusi Biru …

Dinoto Indramayu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: