Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Arii Purwati

civics education and law

Zina di Mata Hukum Positif

OPINI | 07 May 2013 | 23:16 Dibaca: 1657   Komentar: 1   1

Tidak bisa dipungkiri bila kehidupan sekarang ini kian semakin kehilangan malu. Semakin bebasnya pergaulan masyarakat akan sebuah hubungan yang terasa menjauh dari identitas bangsa. Bangsa yang pemalu, bangsa yang menjunjung tinggi kesusilaan kini condong mengarah kepergaulan bebas dunia Barat. Tingkat pergaulan anak muda sekarang yang gaya berpacaran atau berhubungannya telah kelewat batas. Tidak hanya muda-mudi yang banyak tertangkap basah melakukan hubungan suami istri diluar perkawinan, banyak pula kasus untuk suami istri yang melakukan hal serupa bukan dengan pasangan menikahnya. Padahal dengan jelas agama-agama melarang perbuatan ini. Tetapi seperti tidak menghiraukan hal ini, dimungkinkan atas pandangan bahwa perbuatan itu merupakan urusan mereka masing-masing dengan Tuhannya. Tetapi bagaimana dengan hukuman di dunia? Sebenarnya bagaimana pandangan hukum positif kita dalam memandang hal tersebut?

Dalam hal ini, perbuatan dalam melakukan hubungan suami-istri di luar pernikahan atau orang-orang yang berstatus suami istri yang melakukannya dengan bukan pasangan yang sah (perkawinan), dalam agama Islam disebut dengan perbuatan zina. Zina dalam pengertian istilahnya adalah hubungan kelamin antara seorang lelaki dengan seorang perempuan yang satu sama lain tidak terikat dalam hubungan pernikahan (Zainuddin Ali, 2007). Pandangan serupa dikemukakan oleh Ahmad Wardi Muchlish dalam bukunya “Hukum Pidana Islam” menyimpulkan definisi zina menurut empat mahzab, zina merupakan hubungan kelamin antara seorang laki-laki dan perempuan di luar nikah. Kedua pandangan tersebut pada intinya sama, bahwa zina berbicara mengenai seorang perempuan dan laki-laki yang melakukan hubungan kelamin di luar konteks perkawinan.

Dalam hukum Islam memandang setiap hubungan kelamin diluar nikah sebagai perbuatan zina akan diancam dengan hukuman, baik pelaku yang sudah kawin atau belum dan dilakukan dengan suka sama suka ataupun tidak. Hukum Islam melarang dan mengancam zina dengan hukuman karena zina dipandang perbuatan yang merusak sistem kemasyarakatan dan mengancam keselamatan.

Bagaimana pandangan hukum positif kita terhadap zina? Hukum positif tidak memandang semua hubungan kelamin di luar perkawinan sebagai perbuatan zina. Pada umumnya, hukum positif hanyalah memandang hubungan kelamin diluar perkawinan, yang dilakukan oleh orang-orang yang berada dalam status bersuami atau beristri sajalah yang dianggap sebagai perbuatan zina. Hal ini berarti, selain dari itu dalam hukum positif tidak dianggap sebagai zina, kecuali terjadi pemerkosaan atau pelanggaran kehormatan. Dimana hal ini diancam dalam KUHP dalam bab XIV kejahatan terhadap kesusilaan, Pasal 284-289 KUHP.

Dalam Pasal 284 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia dijelaskan bahwa yang terancam pidana jika yang melakukan zina adalah salah seorang dari wanita atau pria atau juga kedua-duanya dalam status sudah kawin. Artinya bahwa hukum positif tidak memandang perbuatan zina ketika pelakunya adalah pria dan wanita yang sama-sama belum berstatus kawin. Hukum positif memandang suatu perbuatan zina jika dilakukan dengan sukarela (suka sama suka) maka pelaku tidak perlu dikenakan hukuman. Hal ini didasarkan pada alasan bahwa tidak ada pihak yang dirugikan dan hanya menyinggung hubungan individu tanpa menyinggung hubungan masyarakat. Dengan demikian, perbuatan zina di mata hukum positif baru dianggap sebagai suatu tindak pidana dan didapat dijatuhkan hukuman adalah ketika hal itu melanggar kehormatan perkawinan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pasien BPJS yang Kartunya Tidak Aktif Mulai …

Posma Siahaan | | 21 December 2014 | 06:53

Hollywood Kena Batunya, AS Panik! …

Daniel H.t. | | 21 December 2014 | 10:27

Inilah 5 Strategi Penting Menurunkan Tekanan …

Irsyal Rusad | | 21 December 2014 | 09:22

Tukeran Hadiah, Wichteln …

Gaganawati | | 21 December 2014 | 05:29

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Lain Fahri Hamzah, Lain Pula Fadli Zon …

Ajinatha | 5 jam lalu

Beda Fahri Hamzah, Fadli Zon, Setya Novanto …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Natal, Skandal Sejarah Kelahiran Yesus …

Nararya | 6 jam lalu

Pintu Damai Tertutup, Menang Golkar Bali …

Erwin Alwazir | 15 jam lalu

Aburizal Bakrie Disandera Jokowi ? …

Adjat R. Sudradjat | 17 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: