Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Bulanmei

just a mom of two angels

Gugatan Tukang Parkir Menang di MK: Telat Urus Akta Kelahiran Tak Perlu ke Pengadilan

OPINI | 02 May 2013 | 11:28 Dibaca: 2105   Komentar: 6   1

Pengurusan akta kelahiran yang terlambat sempat menjadi momok bagi sebagian orang karena membutuhkan biaya dan waktu yang lama, tidak hanya menguras isi dompet tapi juga menguras emosi, mengingat harus melalui proses pengadilan di Pengadilan Negeri. Namun kini hal tersebut tidak perlu terjadi lagi. Pada Hari Selasa Tanggal 30 April 2013, MK mengabulkan sebagian gugagatan uji materi terhadap pasal 32 Ayat  UU No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan yaitu :

Ayat 1 : Pelaporan kelahiran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) yang melampaui batas waktu 60 (enam puluh) hari sampai dengan 1 (satu) tahun sejak tanggal kelahiran, pencatatan dilaksanakan setelah mendapatkan persetujuan Kepala Instansi Pelaksana setempat

dirubah menjadiPelaporan kelahiran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) yang melampaui batas waktu 60 (enam puluh) hari sejak tanggal kelahiran, pencatatan dilaksanakan setelah mendapatkan keputusan Kepala Instansi Pelaksana setempat

Ayat 2 : Pencatatan kelahiran yang melampaui batas waktu 1 (satu) tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan berdasarkan penetapan pengadilan negeri.

ayat ini dibatalkan.

Kesimpulannya, kini keterlambatan pengurusan akta kelahiran lebih dari 60 hari sejak tanggal kelahiran dapat diproses di Kantor Catatan Sipil, tidak perlu ke Pengadilan dan membayar denda. Tentu saja keputusan MK ini patut diapresiasi mengingat selama ini pelaksanaan pasal 32 tersebut banyak menuai kontroversi, karena :

1. Kasus pengajuan keterlambatan pembuatan akte kebanyakan diajukan oleh rakyat kecil, yang kurang memahami seluk beluk proses di pengadilan, memiliki keterbatan dana dan waktu, dan keterlambatan tersebut diajukan karena masih rendahnya kesadaran akan pentingnya akta kelahiran, bukan karena kesengajaan.

2. Proses persidangan permohonan akta kelahiran terlambat, ternyata membebani dan membuat kewalahan pihak Pengadilan Negeri

3. Panjangnya proses pengurusan akte yang harus melewati beberapa birokrasi lembaga pemerintahan yang berbeda memungkinkan munculnya pungli

Berawal dari Curhat Tukang Parkir

Putusan MK tersebut merupakan kemenangan dari pihak penggugat yaitu 3 orang anggota Komisi A DPRD Provinsi Jawa Timur : Sholeh Hayat, Subroto Kalim, dan Bambang Yuwono. Gugagatan tersebut berawal dari keprihatian yang berasal dari keluh kesah seorang tukang parkir Pasar Wonokromo, Surabaya, bernama Mutholib yang merasa terbebani dengan susahnya pengurusan akta kelahiran yang terlambat, dimana Ia harus mengeluarkan uang Rp 400.000,00. Atas persetujuan Mutholib, berkas perkara diajukan ke MK pada Tanggal 22 Februari 2013. Menurut Pimpinan Sidang, Akil Mohtar, pengabulan keputusan tersebut didasarkan atas pertimbangan :

1. Substansi Pasal 32 UU No. 23 Tahun 2006 bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat, karena penetapan oleh PN menimbulkan proses birokrasi yang panjang, yang menimbulkan biaya yang tinggi dan memberatkan pemohon akta. Hal tersebut tidak sejalan dengan reformasi birokrasi dan pelayanan publik seperti amanat UUD.

2. Proses di pengadilan bukanlah hal yang mudah bagi masyarakat awam, sehingga dapat mengakibatkan terhambatnya hak-hak konstitusional warga terhadap kepastian hukum

3. Mengembalikan tupoksi Pengadilan untuk lebih fokus pada penyelesaian kasus pidana dan perdata.

Kasus akta kelahiran ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua saat ingin mengkritisi atau menolak kebijakan pemerintah, jangan ragu untuk menempuh jalur hukum di MK yang ternyata memang masih independen dan memihak kepentingan rakyat.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[PENTING] Panduan ke Kompasianival 2014, …

Kompasiana | | 18 November 2014 | 15:19

Sensasi Menyelam di Tulamben, Bali …

Lisdiana Sari | | 21 November 2014 | 18:00

Live Streaming dan Selfie Berhadiah di …

Yayat | | 21 November 2014 | 20:43

Jadi Perempuan (Tak Boleh) Rapuh! …

Gaganawati | | 21 November 2014 | 15:41

Kompasiana Akan Luncurkan “Kompasiana …

Kompasiana | | 20 November 2014 | 16:21


TRENDING ARTICLES

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu

Rakyat Berkelahi, Presiden Keluar Negeri …

Rizal Amri | 13 jam lalu

Menteri Hati-hati Kalau Bicara …

Ifani | 13 jam lalu

Pernyataan Ibas Menolong Jokowi dari Kecaman …

Daniel Setiawan | 15 jam lalu

Semoga Ini Tidak Pernah Terjadi di …

Jimmy Haryanto | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Review “Supernova: Gelombang” : Kisah …

Irvan Sjafari | 8 jam lalu

Guru Destiani, Menulis dan Menginspirasi …

Adian Saputra | 8 jam lalu

Karya Arek ITATS: Game Tooth Kid “Sang …

Xserver Indonesia | 8 jam lalu

Dua Ribu Rasa …

Rahab Ganendra | 8 jam lalu

Guru Menulis Berdiri, Siswa Menulis Berlari …

Muhammad Irsani | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: