Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Restu Bumi

Merah Putih Harga Mati

Penegak(an) Hukum di Indonesia Menyebalkan!!

OPINI | 01 May 2013 | 17:34 Dibaca: 334   Komentar: 2   2

1367404418341489949

Sumber foto : http://afriani74.blogspot.com/

Ada adagium popular terkait penegakan hukum di Indonesia, “tumpul ke atas dan tajam ke bawah”. Jika adagium ini masih remang-remang faktanya selama ini, namun pada pekan lalu, ia memunculkan wajahnya yang nyata dan gamblang.

Adalah terpidana Komisaris Jenderal Polisi (Purn) Susno Duadji yang memperlihatkannya. Mantan kabareskrim Polri ini melecehkan mentah-mentah lembaga Kejaksaan Agung yang akan mengeksekusinya. Alih-alih patuh pada putusan kasasi Mahkamah Agung (MA), Susno Duadji malah dikawal ketat polisi ketika akan dieksekusi. Ia meninggalkan rumahnya di Resor Dago Pakar, Bandung, menuju Markas Polda Jabar, dengan penjagaan seolah-olah ia adalah pahlawan yang tak boleh disentuh.

Akibatnya, tim gabungan kejaksaan gagal mengeksekusi Susno, yang sejak pengadilan tingkat pertama sampai kasasi divonis 3 tahun 6 bulan penjara. Rencananya ketika akan dieksekusi, sosok yang mempopulerkan istilah “cicak vs buaya” ini akan dijebloskan ke penjara Sukamiskin, Bandung.

Eksekusi paksa ini sendiri dilakukan karena sudah tiga kali Susni tidak memenuhi panggilan eksekusi Kejari Jaksel. Bahkan Kejaksaan Agung telah meminta Susno untuk menyerahkan diri.

Dalam putusan perkara nomor perkara 899 K/PID.SUS/2012 tertanggal 22 November 2012, Mahkamah Agung (MA) menguatkan putusan PN Jaksel dan PT DKI Jakarta, dan menyatakan Susno terbukti bersalah dalam pidana korupsi penanganan perkara PT Salmah Arowana Lestari dan dana pengamanan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilu Kada) Jawa Barat 2008.

Ia terbukti menyalahgunakan wewenang saat menjabat Kabareskrim, ketika menangani kasus Arowana dengan menerima hadiah Rp 500 juta untuk mempercepat penyidikan kasus itu. Pengadilan juga menyatakan Susno terbukti memangkas Rp4.208.898.749 yang merupakan dana pengamanan Pemilu Kada Jawa Barat saat menjabat Kapolda Jabar pada 2008 untuk kepentingan pribadi.

Alasan Susno sendiri tak mau dieksekusi lantaran, putusan kasasi MA tidak mencantumkan pasal perintah penahanan, selain juga cacat administrasi di peradilan tingkat banding.

Padahal, semestinya alasan ini tak menghentikan eksekusi penahanan Susno. Hampir semua pemimpin otoritas hukum di negeri ini, mulai Ketua Mahkamah Konsitusi, Ketua Mahkamah Agung, dua mantan Ketua Mahkamah Konsitusi berpendapat putusan kasasi MA sah demi hukum. Substansi perkaranya, kasasi Susno ditolak.

Yang membuat kita geram adalah fakta adanya perlindungan terang-terangan dari institusi Polri. Lembaga yang semestinya menjadi garda depan dalam penegakan hokum ini, malah menujukkan muka corengnya dihadapan publik Indonesia. Akibat pengamanan polri ini, penegakan hokum dipermainkan dengan gagalnya Susno dijebloskan ke penjara. Penegakan hokum dipermainkan oleh penegaknya sendiri! Duh.

Kapolda Jabar sendiri berdalih, pasukan dikirim untuk mencegah bentrokan antara eksekutor dan kubu Susno. Tetapi sesungguhnya kehadiran mereka justru telah meruwetkan masalah. Persepsi publik menganggap solidaritas korps, jiwa korsa polisi membuat pengiriman pasukan itu lebih sebagai misi menyelamatkan Susno ketimbang mengamankan jalannya eksekusi.

Instruksi Presiden

Melihat awut-mawutnya penegakan hokum ini, tak heran jika Presiden SBY juga turut gerah. Dengan kewenangannya terhadap lembaga Polri, ia menginstruksikan untuk terus menjalankan eksekusi Susno Duaji. “Saya menginstruksikan singkat, tegakkan hukum dengan seadil-adilnya dan sebenar-benarnya,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Ruang VIP Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, ketika akan berangkat ke Singapura beberapa waktu lalu.

Masalahnya, instruksi presiden biasanya hanya tinggal instruksi. Masih ingat kah kita dengan instruksi penelusuran hingga tuntas kasus rekening gendut petinggi Polri? Adakah yang terjerat kecuali Djoko Susilo? Naas memamng!

Disinilah peran Presiden SBY untuk terus menge-push Polri agar berjiwa adil. Citra Polri sudah sangat buruk saat ini. Rumor penerimaan suap di lembaga berseragam coklat ini sudah bukan menjadi rahasia lagi. Jangan lagi ditambah dengan perilaku kusut melindungi koruptor.

Asumsi saya, perlindungan terhadap Susno ini buka karena alasan solidaritas korps atau semangat jiwa korsa yang tinggi, melainkan hanya sebagai alat perlindungan agar susno, yang pernah menjadi Mr. whistle bolwer menutup rapat mulutnya untuk tidak menyeret petinggi Polri lainnya ke meja hijau akibat korupsi. Karena sempat beberapa kali Susno mengancam, jika dirinya masuk penjara, ia akan menyeret kawan-kawannya yang lain masuk juga.

Itu sebabnya, Polri dengan berbagai macan alas an melindungi Susno agar tidak diekesekusi. Sungguh tragis negeri ini. Jika penegakan hukum dipermainkan oleh penegak hukumnya sendiri, kemudian kita harus bersandar pada penegak hukum yang mana? Sungguh menyebalkan penagak(an) hukum di Indonesia…!!!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Produk Indonesia di Tengah Konflik Rusia dan …

Syaripudin Zuhri | | 02 September 2014 | 08:42

Koalisi Merah-Putih Terus Berjuang Kalahkan …

Musni Umar | | 02 September 2014 | 06:45

Serunya Berantas Calo Tiket KA …

Akhmad Sujadi | | 02 September 2014 | 05:55

Tepatkah Memutuskan Jurusan di Kelas X? …

Cucum Suminar | | 01 September 2014 | 23:08

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 1 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya ,serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 3 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 4 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 6 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Yakitori, Sate ala Jepang Yang Menggoyang …

Weedy Koshino | 7 jam lalu

Sebuah Cinta Berusia 60 Tahun dari …

Harris Maulana | 8 jam lalu

Yohanes Surya Intan Terabaikan …

Alobatnic | 8 jam lalu

Mengukur Kepolisian RI Dari Kuching …

Abah Pitung | 8 jam lalu

Xiaomi RedMi 1S “Hajar” Semua Brand …

Andra Nuryadi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: