Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Equalaws Consultant

The Counselor II Non partisan II Dalam keadilan, ada kebenaran... #Salam keadilan... ;)

Trust Me ‘Coz I’m a Lawyer!

OPINI | 23 April 2013 | 00:53 Dibaca: 247   Komentar: 0   1

Mungkin pembaca sering mendengar atau melihat judul tersebut. Ya, judul tersebut dapat diartikan: “Percaya saya dikarenakan saya seorang Pengacara!”

Penulis tidak ingin membahas mengapa ada istilah tersebut. Namun demikian, yang akan dibahas secara sekilas ialah mengapa Pengacara membutuhkan kepercayaan dari orang-orang di sekitarnya?

Hal ini tidak lain dikarenakan bisnis jasa hukum di bidang kepengacaraan adalah “bisnis kepercayaan”. Mengapa bisa disebut demikian? Coba anda bayangkan, seseorang yang terbelit perkara hukum dan membutuhkan nasihat seorang ahli hukum (dalam hal ini Pengacara), tentunya dalam memilih Pengacara baginya, yang akan mewakili/mendampingi, serta membela kepentingan hukum dirinya, akan memilih Pengacara yang sangat dipercaya olehnya. Bukan ujug-ujug memilih Pengacara dari sekedar melihat papan nama kantor Pengacara tersebut. Terlebih lagi bukan dari buku direktori Pengacara. Jika pun seseorang tersebut memilih Pengacara dari direktori Pengacara, kemungkinan terbesar seseorang tersebut akan melakukan “window shopping” terlebih dahulu dalam memilih Pengacara yang terbaik bagi dirinya.

Faktor emosional, faktor rasional dan objektif merupakan faktor-faktor yang digunakan calon Klien dalam memilih Pengacara. Tentunya jika ingin menjadi Pengacara yang dipercaya selain faktor-faktor tersebut, maka wajib hukumnya Pengacara tersebut menjalankan profesinya dengan menggunakan moral.

Sebagaimana dikutip oleh Ari Yusuf Amir, S.H., M.H. dalam bukunya, Strategi Bisnis Jasa Advokat, dalam pandangan John H. Farrar & Anthony M. Dugdade, unsur-unsur moralitas meliputi: 1. Aturan hukum (legal rules); 2. Prinsip-prinsip nurani (principles); 3. Standarisasi tertentu (standards); dan 4. Konsepsi yang jelas (concepts).

Lebih lanjut, Marvin Bower pada intinya menyatakan, “… dibutuhkan kepercayaan akan standar-standar profesional dan tekad untuk menjalaninya…”.

Sehingga Pengacara yang baik, tentunya tidak hanya mengikuti aturan hukum positif dan etika saja dalam menjalankan profesinya, melainkan juga menggunakan moralitas, sehingga Pengacara dapat dipercaya oleh calon (Kliennya).

#Selamat Beristirahat.. Salam.. ;)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tradisi Unik Perayaan Natal di Jepang …

Weedy Koshino | | 26 December 2014 | 22:42

Keberadaan Ormas Pasca Putusan MK …

Hendra Budiman | | 26 December 2014 | 13:34

Partai Golkar dan Turbulensi Politik …

Erwin Ricardo Silal... | | 26 December 2014 | 16:23

Banjir (Lagi) Bencana Lingkungan Lumrah? …

Edy Rolan | | 26 December 2014 | 22:36

Kompasiana BlogTrip: Jejak Para Riser …

Kompasiana | | 24 December 2014 | 18:26


TRENDING ARTICLES

ISIS Mengancam, Pemerintah Masih Cuek …

Gatot Swandito | 8 jam lalu

Tangis Korban Tsunami Aceh di Depan …

Agung Soni | 10 jam lalu

‘Koalisi Cinta’ di Kongres PAN …

Jubir Darsun | 10 jam lalu

Ipin-Upin dan Bahasa Indonesia Anakku …

Ahmad Hilmi | 16 jam lalu

Gagal Pahami Jokowi, Kapolri Terancam …

Sowi Muhammad | 16 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: