Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Equalaws Consultant

The Counselor II Non partisan II Dalam keadilan, ada kebenaran... #Salam keadilan... ;)

Trust Me ‘Coz I’m a Lawyer!

OPINI | 23 April 2013 | 00:53 Dibaca: 250   Komentar: 0   1

Mungkin pembaca sering mendengar atau melihat judul tersebut. Ya, judul tersebut dapat diartikan: “Percaya saya dikarenakan saya seorang Pengacara!”

Penulis tidak ingin membahas mengapa ada istilah tersebut. Namun demikian, yang akan dibahas secara sekilas ialah mengapa Pengacara membutuhkan kepercayaan dari orang-orang di sekitarnya?

Hal ini tidak lain dikarenakan bisnis jasa hukum di bidang kepengacaraan adalah “bisnis kepercayaan”. Mengapa bisa disebut demikian? Coba anda bayangkan, seseorang yang terbelit perkara hukum dan membutuhkan nasihat seorang ahli hukum (dalam hal ini Pengacara), tentunya dalam memilih Pengacara baginya, yang akan mewakili/mendampingi, serta membela kepentingan hukum dirinya, akan memilih Pengacara yang sangat dipercaya olehnya. Bukan ujug-ujug memilih Pengacara dari sekedar melihat papan nama kantor Pengacara tersebut. Terlebih lagi bukan dari buku direktori Pengacara. Jika pun seseorang tersebut memilih Pengacara dari direktori Pengacara, kemungkinan terbesar seseorang tersebut akan melakukan “window shopping” terlebih dahulu dalam memilih Pengacara yang terbaik bagi dirinya.

Faktor emosional, faktor rasional dan objektif merupakan faktor-faktor yang digunakan calon Klien dalam memilih Pengacara. Tentunya jika ingin menjadi Pengacara yang dipercaya selain faktor-faktor tersebut, maka wajib hukumnya Pengacara tersebut menjalankan profesinya dengan menggunakan moral.

Sebagaimana dikutip oleh Ari Yusuf Amir, S.H., M.H. dalam bukunya, Strategi Bisnis Jasa Advokat, dalam pandangan John H. Farrar & Anthony M. Dugdade, unsur-unsur moralitas meliputi: 1. Aturan hukum (legal rules); 2. Prinsip-prinsip nurani (principles); 3. Standarisasi tertentu (standards); dan 4. Konsepsi yang jelas (concepts).

Lebih lanjut, Marvin Bower pada intinya menyatakan, “… dibutuhkan kepercayaan akan standar-standar profesional dan tekad untuk menjalaninya…”.

Sehingga Pengacara yang baik, tentunya tidak hanya mengikuti aturan hukum positif dan etika saja dalam menjalankan profesinya, melainkan juga menggunakan moralitas, sehingga Pengacara dapat dipercaya oleh calon (Kliennya).

#Selamat Beristirahat.. Salam.. ;)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Apa Bahaya Makan Beras Plastik bagi Tubuh? …

Wahyu Triasmara | | 22 May 2015 | 18:51

Etika Presiden Jokowi ketika Naik-turun …

Ashwin Pulungan | | 22 May 2015 | 16:19

Kompasiana Seminar Nasional: Harapan serta …

Kompasiana | | 18 May 2015 | 15:58

10 Jam Wisata Kuliner Kecil di Kota Bandung …

Khristian Dominico | | 22 May 2015 | 21:02

Kirim Review Blogshop bersama JNE Anda dan …

Kompasiana | | 10 April 2015 | 15:13


TRENDING ARTICLES

Inilah Ujian Akhir Pemerintahan Jokowi …

Pebriano Bagindo | 12 jam lalu

Tenggelamkan Kapal Tiongkok? Siapa Takut! …

Wasiat Kumbakarna | 12 jam lalu

Pak Jokowi Buat Apa Bangun Rel Kereta di …

Gunawan | 13 jam lalu

Gila! Iklan Obat Aborsi Disertai Testimoni …

Riana Dewie | 14 jam lalu

Angel Pieters Adalah Kambing …

Giri Lumakto | 16 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: