Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Wandiudara

Penulis lepas, tinggal di Bogor

Lahan Kubur ‘Berlumpur’ Sentot di Antajaya

REP | 22 April 2013 | 08:47 Dibaca: 250   Komentar: 0   0

Tati (48 tahun), warga Desa Antajaya Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, cemas. Pedagang kain keliling ini sudah menjual tanah keluarga seluas 6.500 meter ke calo tanah dengan harga 65 juta rupiah (per meter 10 ribu rupiah). “Sampai sekarang baru dibayar 10 juta rupiah. Janjinya akan dilunasi Senin (15/4), tapi tak ada kabar. Pada Rabu (17/4) malah rame berita di televisi soal penangkapan Sentot (Direktur Utama PT Garindo Perkasa Sentot Susilo) oleh KPK,” tutur Tati saat ditemui Koran Jakarta, kediamannya, Sabtu (20/4).

Tati mengetahui Sentot dari calo tanah yang menawar tanahnya. Dia mau melepas tanah warisan keluarga karena teriming-imingi harga tinggi. Biasanya tanah di sana hanya dihargai paling tinggi 6 ribu rupiah. Melalui tangan calo tanah, Sentot bahkan berani membeli tanah warga hingga 15 ribu rupiah per meter.

Namun, sejak KPK berhasil menangkap tangan Sentot dan empat koleganya, termasuk Ketua DPRD Kabupaten Bogor Iyus Djuher, Tati menjadi lemas. Sentot terbukti menyuap Iyus untuk memuluskan izin tanah makam seluas 1 juta meter persegi di Desa Antajaya. Tanah 6.500 meter persegi milik Tati adalah bagian dari tanah yang diklaim Sentot. “Saya khawatir tanah hilang dan uang tak dapat,” ujarnya.

Kekhawatiran juga terpancar dari paras Udi (47). Namun, Udi masih sedikit beruntung dari Tati. Tanahnya seluas 600 meter persegi langsung dibayar lunas calo tanah suruhan Sentot. “Tanah saya dihargai 9 ribu rupiah per meter,” ujarnya. Dia kaget karena calo tanah mengatakan bahwa lahan itu awalnya direncanakan menjadi taman bermain atau outbond. “Makanya warga di sini kaget ketika di televisi disebutkan bahwa tanah itu akan dijadikan komplek makam,” jelasnya.

Udi menuturkan, warga enggan menjual kalau dari awal tanah akan dijadikan lahan makam. Berkaca pada komplek Makam Quiling di Desa Buanajaya (bersebelahan dengan Antajaya), masyarakat juga dibohongi dengan modus sama. Masyarakat di sana dijanjikan lahan itu akan menjadi tempat rekreasi. Nyatanya, saat ini justru menjadi salah satu komplek makam megah di Asia Tenggara dengan luas 300 hektare.

Soal alasan kecemasan warga, Amo (72) punya jawabannya. Kakek yang sudah 30 tahun menetap di Antajaya ini mengatakan, sawah selalu kebanjiran saat musim hujan sejak komplek Makam Quiling berdiri pada 1990. “Tempat Quiling saat ini berdiri, dulunya adalah sawah dan hutan-hutan. Tapi sekarang sudah gundul. Tak ada penahan air lagi. Itu yang menyebabkan sawah kebanjiran,” kata dia.

Pemandangan di Desa Buanajaya dan Antajaya memang indah. Terletak di ketinggian sekitar 800 meter di bawah permukaan laut, udara di sana lumayan sejuk. Yang menakjubkan adalah jajaran Bukit Sangga Buana yang menjadi latar belakang kedua desa itu. Sedikitnya ada sembilan bukit yang berjejer di sana. Di lihat di tengah-tengah Taman Makam Quiling, bukit yang umumnya runcing itu terlihat indah. Menjelang senja, kita juga bisa dengan leluasa melihat matahari merunduk menutup hari.

Amo bertutur, sejak Quiling berdiri, saat ini warga lebih memilih menjual sawahnya karena selalu merugi. Apalagi yang tak memiliki lahan luas. “Kalau punya satu atau dua petak sawah, mereka lebih memilih menjualnya karena sudah tak menghasilkan uang. Sawah mereka kerap tertutup lumpur yang terbawa hujan dari atas bukit,” lanjutnya.

Jika di Antajaya juga dibangun pemakaman, Amo tak membayangkan seberapa hektare lagi sawah akan habis. “Sebagian besar penduduk di sini percaya, semakin sawah hancur maka warga akan dikutuk terus sengsara,” ujarnya.

Kepala Desa Antajaya, Encang, menyebutkan bahwa Sentot belum melunasi hampir semua tanah yang dia beli dari warga. Encang menerima banyak keluhan warga agar dia turun tangan untuk mengatasi persoalan ini. “Namun, saya belum bisa apa-apa karena saya baru dilantik (menjadi kepala desa) dua hari lalu. Berkas administrasi dari kepala desa yang lama saja belum diberikan,” ujarnya.

Dari informasi warga, Encang tahu bahwa lahan itu terletak di Dusun 4 RT 14 dan RT 15. Luasnya pun tak mencapai 100 hektare seperti yang ramai diberitakan. “Paling tanahnya hanya lima hektare,” ujarnya. Dan dia memastikan, belum ada izin dari kelurahan bahwa tanah itu sudah disetujui warga. Indikasinya, warga yang berada tak jauh dari lokasi tanah tak pernah menandatangani surat tak keberatan jika tanah dijadikan lahan makam.

Lagipula, tambah Encang, otoritas pemberian izin lingkungan merupakan wewenang kepala desa. “Bupati sekali pun tak bisa memberikan izin jika warga menolak,” ujarnya.

Nah, Encang sendiri heran ketika melihat pemberitaan media bahwa Sentot dicokok karena berusaha menyuap Ketua DPRD agar mendapatkan izin peruntukan. “Yang jelas, saya tak tahu sejauh mana kepala desa yang lama mengurusi soal izin lingkungan lahan tersebut,” kata dia.

Ketika akan meminta keterangan mengenai hal ini, Encang tak pernah bisa menemui Nandang Rukmana, mantan kades Antajaya. “Dia tak pernah ada di rumah. Saya juga selalu kesulitan karena berkas administrasi desa pun belum dia serahkan,” tambah dia.

Investasi Menggiurkan

Jika benar PT Garindo Perkasa berhasil mengembangkan lahan 1 juta meter persegi itu menjadi komplek pemakaman, maka uang suap sebesar 800 juta itu sangat kecil. Karena, lahan itu sudah pasti menjadi emas hitam karena lokasinya sangat strategis. “Harga tanah satu meter persegi saja bisa dihargai belasan juta rupiah,” kata Yadi (31), salah satu penjaga di Taman Makam Quiling.

Hitung-hitungan kasar, jika satu meter dihargai 10 juta rupiah, maka untuk 1 juta meter persegi mencapai 10 triliun rupiah. Pebisnis mana pun rela menyeluarkan suap 800 juta rupiah untuk mendapat potensi keuntungan sebesar itu.(***)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Berani Duduk di Bangku Paling Depan—Cupu …

Frida Kurniawati | | 22 December 2014 | 18:22

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 3 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 4 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 4 jam lalu

Evan Dimas, Tengoklah Chanathip ‘Messi …

Achmad Suwefi | 11 jam lalu

Dampak ‘Mental Proyek’ Pejabat …

Giri Lumakto | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: