Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Jack Soetopo

Pensiunan Tk Becak, berasal dari Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara yang kini tinggal di Denpasar, Bali. email selengkapnya

Apakah Ketua Komisi Agama DPR Jazuli Juwaini Cuci Uang?

OPINI | 22 April 2013 | 23:28 Dibaca: 1428   Komentar: 53   14

Bogor, April 22, 2013

Kali ini saya akan menuliskan pengamatan saya mengenai Ketua Komisi Agama DPR Jazuli Juwaini dari PKS. Karena ini sangat menarik di telusuri dan di analisa, apakah kasus2 ini memang sering terjadi dalam partai2 yang ada di Indonesia, termasuk PKS.

Dalam kasus Mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, dengan Mantan Bendahara Partai Demokrat(Pekerjaan Parta time nya), dan full time job nya adalah menjalankan perusahaan yang sekarang terlibat Kasus Hambalang, dan Kasus2 lainnya. Dimana menurut laporan KPK, telah menyita sekitar 400 Milyar.

Anas U menggunakan modus yang mirip dengan Jazuli, LHI, dan the point men, tidak lain adalah Ahmad Fathanah.

Kini Jazuli Juwaini menggunakan alasan yang mirip sekali. Begini ceritanya menurut pengakuan beliau di depan KPK dan wartawan.
-2011, melakukan kampanye pencalonan beliau sebagai kandidat PKS untuk Gubernur Banten, beliau membeli mobil bermerek Toyota Prado, dengan kredit seharga Rp.900 juta di beli di salah satu stand Toyota.
-Naas, beliau tidak memenangkan Kursi Gubernur Banten. Karena alasan banyak pengeluaran, beliau menjual kepada Dealer Toyota yang pertama kali, beliau beli.
-Aneh bin Ajaib, pembeli nya adalah Ahmad Fathanah, the James Bond nya PKS.
-Agustus 2012, Fatanah membayar Rp600juta saja berserta kreditnya. Sehingga tidak terjadi Ganti Nama, BPKB, serta STNK nya.
-Jazuli yang katanya TIDAK MENGENAL Ahmad Fathanah,The James Bond nya PKS, walk away dengan 600 juta Cash.
-Perlu diingat Ahmad Fathannah membawa sertifikat para petinggi PKS, termasuk Anis Matta.
-Dalam setahun mobil Toyota ini Jatuh Harga Jualnya- Rp300juta.
-Jika DP nya 30%, Jazuli Juwaini, membayar mobil Toyota ini sebesar Rp270juta. Cicilan sebulannya selama setahun misalnya Rp170juta. Berarti Jazuli walk away dengan keuntungan kira2 Rp160juta.

Dalam penyidikan penegak hukum di Amerika sudah dapat disebut PENCUCIAN UANG.

Mengapa?

Karena
-Uang Pembelian untuk Kampanye itu Harus Jelas dari mana?
Hal ini tidak dapat di buktikan oleh Jazuli J.
-Setelah itu Mengatakan Tidak Mengenal Ahmad Fathannah, sedangkan siapapun yang berada di PKS, pasti mengenal AF ini. Kecuali kader2 yang masih Hijau.
-Straw purchase yang dilakukan AF, dengan dalih meneruskan Kredit dari JJ.
-Ada keselubungan antara para pemimpin dengan motif untuk menghilangkan jejak, dan mencuci uang.
-Beliau adalah anggota DPR RI.
-Apakah ini bagian dari kasus Daging impor atau kasus lainnya, seperti iligal koleksi dana kampanye. Untuk itu perlu di selikdiki keuangan dan daftar kekayaan dan keabsahan dana yang ada sebelum 2011, dan setelah Agustus 2012.
-Apakah ini adalah bagian dari Modus Korupsi dan Pencucian uang ala Politikus Indonesia?
-Apakah ini menjadi TREND yang MARAK.

Silahkan para pembaca menganalisakan sendiri.

Pengalaman prinadi saya, setiap tahun saya harus memberikan berapa jumlah kekayaan saya, baik itu di Indonesia, di seluruh dunia lainnya, berapa saham saya yang ada. Minggu lalu adalah batas yang ditetapkan oleh pihak IRS (Internal Revenue Services) seperti di Indonesia disebut Departemen Pajak.

Karena saya sekarang ini adalah pensiunan pengurusan pajak dan daftar kekayaan saya sudah tidak lagi serumit dahulu. Dimana kini dalam waktu 1 minggu seluruh laporan sudah selesai. Jika dibandingkan dulu, sangatlah ketat sekali, penuh dengan rekapitulasi, dan rechek dan rechek dari pihak di atas saya.

Dalam tulisan saya yang akan datang, ingin sekali saya menuliskan mengenai Straw purchase, karena banyak dari warga Indonesia belum mengerti bahaya nya menggunakan teknik pembelian barang, atau kendaraan, atau tanah.

Contohnya sudah banyak Djoko Susilo, Muhammad Khan Nazaruddin, Anas Urbaningrum, Neneng, dan banyak Koruptor2 lainnya yang sudah ditangkap, atau yang masih DPO oleh Interpol Indonesia.

Dan bagaimana Pihak Penegak Hukum dapat menelusuri Kejahatan2 Kerah Putih, seperti Koruptor, Organisasi Berjamaah Korupsi, Narkoba, Perempuan dan Anak-anak Traficking, dengan menggunakan metode penelusuran laporan pajak.

“Numbers Don’t Lie”

Sumber Tempo.com

Salam Bebas Koruptor

Jack Soetopo

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Malm√∂ di Swedia: “Saudara” …

Cahayahati (acjp) | | 26 October 2014 | 10:02

Kenapa Harus Membela Ahok? …

Zulfikar Akbar | | 26 October 2014 | 09:55

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46

Staf Kepresidenan, Kekuasaan di Balik Tahta …

Mas Isharyanto | | 26 October 2014 | 10:42

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24



HIGHLIGHT

Marquez Pecahkan Rekor Doohan …

Suko Waspodo | 7 jam lalu

Menanti Tweet Pertama Presiden Jokowi …

Dody Kasman | 8 jam lalu

Tentara yang Berjuang di Atas Kursi Roda …

Dewilailypurnamasar... | 8 jam lalu

Air Terjun Bojongkoneng di Sentul …

G T | 8 jam lalu

Merangkum Keindahan Indonesia Lewat Kisah …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: