Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Abah Pitung

Pengamat Politik & Sosial Ekonomi Tingkat bawah sadar.

Ke-5 Anak SMA Toli-Toli Itu Pantas Dihukum hingga Jera

OPINI | 21 April 2013 | 08:30 Dibaca: 7084   Komentar: 101   8

Judul diatas dimaksud adalah untuk memberi contoh kepada segenap siswa-siswi lainnya diseluruh Indonesia agar tidak mengulang perbuatan nista dan tercela yang sama tersebut. Kelima siswi SMA negeri 2 Toli-Toli itu, ingin cepat cari sensasi dan ingin sekali cepat terkenal. Mereka setengah menyadari bahwa gerakan sholat dan bacaan Al Fatihah yang mereka lecehkan itu sangat berpeluang besar bisa mengundang reaksi keras dari seluruh masyarakat muslim dunia. Bila diperhatikan dengan seksama video tersebut, mereka berlima telah masuk dalam pelecehan serta pengrusakan nilai-nilai ritual ummat Islam, membaca Al Fatihah secara melecehkan dan membuat pelecehan bergaya gerakan mesum atas gerakan ritual sholat (gerakan sholat diarahkan kepada gerakan mesum) adalah penghinaan yang fatal bahkan telah diunggah pada Youtube dan menginternasional.

Diberbagai tulisan dan artikel pada Kompasiana ini, ada tulisan yang mengatakan bahwa korupsi, maling, berzinah lebih menghina agama daripada siswi SMA negeri 2 Toli-Toli. Benar korupsi, maling dan berzinah  itu juga menghina dan mengabaikan agama bahkan mengabaikan adanya Allah SWT. akan tetapi sangat berbeda hubungan pelecehannya. Kalau para siswi Toli-Toli ini, mereka telah masuk kedalam bidang ritual agama Islam bahkan telah tega melecehkan gerakan sholat serta bacaan sholat yang terpenting, kalau korupsi, maling, berzinah dilakukan oleh diri sendiri dan kelompok dengan yang vertikal Allah SWT. Yang sangat fatal adalah rekaman penghinaan itu di tayangkan keseluruh dunia secara audio visual dan inilah yang mengundang reaksi ummat Islam sedunia. Apalagi pelecehan ini berasal dari Negara Indonesia yang penduduknya tercatat sebagai jumlah ummat Islam terbesar didunia dan ini bisa menjadi penilaian negatif terhadap Islam Indonesia. Kita perhatikan pula, para penulis dan komentator adalah orang-orang yang selama ini pro Irsyad Manji, pro gerakan liberal  dan pro Salman Rushdi dan pro pengrusakan Islam secara halus dari dalam. Mereka ini adalah komentator atau penulis yang berpura-pura berlatar belakang Islam, foto dan namanya tampak seperti Islami padahal mereka berasal dari kelompok yang senang seperti tarian dan penghinaan yang telah dilakukan para siswi SMA 2 Toli-Toli itu. Kita semua sudah mencatat mereka-mereka ini. Sangat disayangkan admin Kompasiana mengangkat tulisan yang mendukung pelecehan dan penghinaan secara terselubung seperti itu menjadi tulisan HL padahal ada tulisan terkait lainnya yang lebih layak HL apa dasar penilaian para admin Kompasiana ?

Makanya MUI serta masyarakat Islam NKRI lainnya rada keras untuk menindak kelima anak-anak ini dan para orang tuanya juga perlu diselidiki bagaimana mendidik anak-anak mereka sehingga bisa tampil dan bisa melecehkan agama Islam seperti itu. Dari penyelidikan ini bisa terungkap sebab akibatnya atas perbuatan penghinaan Agama ini.

Jika kelima siswi ini diinterogasi, kemungkinan besar mereka mendapatkan ide dari orang yang sedang gerah dengan kemajuan Islam serta membenci sholat dan membenci Islam.

Memang ada indikasi kuat menirukan kepopuleran gangnam stylenya psy, atau tarian nagwur harlem shake lalu mereka memberanikan diri atas dasar ide dari seseorang memakai gerakan dan ucapan sholat menjadi gerakan tarian mesum nan maksiat yang sesungguhnya sangat menghina ummat Islam sedunia.

Dari cara mereka membacakan surat Al Fatihah yang asal asalan sambil tertawa-tawa, mengindikasikan ada kesengajaan untuk menghina ummat Islam. Tidak mungkin anak sekolahan yang sering sholat dan selalu mengucapkan bacaan Al Fatihah begitu tega melakukan pelecehan seperti itu. Pastilah mereka dari kelompok yang mungkin jarang atau tidak pernah sholat, atau juga dari kelompok aliran agama tertentu diluar Islam yang sengaja serta terprogram secara halus berevolusi untuk merusak nilai-nilai Islam secara kecil-kecilan.

MUI diderah Toli-Toli sangat perlu untuk memeriksa dan memanggil kelima siswi SMA negeri 2 Toli-Toli itu untuk bahan MUI pusat dan daerah sebagai bahan evaluasi penting bagi seluruh ummat Islam NKRI. Walupun kelima siswi ini sudah di keluarkan dari sekolah serta dimusuhi oleh para tetangganya dan para teman-temannya, itu saja belum cukup.

Kami sudah melihat videonya kesimpulan kami, kelima siswi ini memang sengaja untuk menghina ummat Islam. Siswi yang biasa sholat, secara psikologis tidak mungkin bisa setega itu melakukan gerakan penghinaan serta pelecehan ini.

Siapa kelima siswi SMA negeri 2 Toli-Toli ini ? Dari siapa mereka mendapat ide seperti itu, perlunya investigasi oleh Kepolisian dan MUI adalah untuk mendapatkan informasi yang sebenarnya tentang apa motivasi mereka berbuat demikian. Lalu perlu adanya hukuman yang setimpal terhadap para siswi ini. Selanjutnya untuk pelajaran berharga bagi seluruh siswa-siswi lainnya di seluruh NKRI agar tidak berbuat penghinaan seperti itu lagi dikemudian hari. (Abah Pitung)

Sumber serta inspirasi tulisan diambil dari berbagai komentar para Kompasianer.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | | 02 September 2014 | 11:41

Yakitori, Sate ala Jepang yang Menggoyang …

Weedy Koshino | | 02 September 2014 | 10:50

Hati-hati Menggunakan Softlens …

Dita Widodo | | 02 September 2014 | 08:36

Marah, Makian, Latah; Maaf Hanya Ekspresi! …

Sugiyanto Hadi | | 02 September 2014 | 02:00

Masa Depan Timnas U-19 …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 21:29


TRENDING ARTICLES

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 4 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

Menyaksikan Sinta obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | 8 jam lalu

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | 9 jam lalu

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | 9 jam lalu

Siapa Ketua Partai Gerindra Selanjutnya? …

Riyan F | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: