Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Anti Formalisasi Syariah Berarti Liberal?

OPINI | 19 April 2013 | 08:43 Dibaca: 342   Komentar: 49   2

Di Kompasiana saya banyak memiliki teman-teman yang benar-benar mengenyangkan ‘perut’  dan melonggarkan simpul-simpul keanekaan.

Keanekaan tersebut bisa berasal dari banyak hal, salah satunya menafsirkan keinginan sebagian ummat islam untuk dapat menegakkan syariah islam  di bumi pertiwi ini sebagai manifestasi ketundukan manusia terhadap hukum-hukum berkehidupan yang berkesesuaian dengan Islam. Dan seperti sebuah tawaran selalu berakhir akan adanya pilihan untuk menentukan mana yang akan diambil.

Jawabannya memang memberikan kesan adanya polarisasi; membelah menjadi dua kubu.

Kubu pertama menolak dan kubu kedua menginginkan tegaknya syariah Islam. Kaum kaffir (non islam) bukannya berarti serta merta menolak karena beberapa kali saya berdiskusi off air dan online ada keinginan mereka (non islam) untuk dapat juga hidup dinegara berlafadzkan dan bersendikan syara’.

Yang menolak pun ternyata tidak juga berarti menafikan Islam sebagai sebuah last standing untuk kesemrawutan kekinian dunia dan ujug-ujug mendeklarasikan dirinya sebagai anti syariat atau luas dikenal sebagai SEPILIS. Mereka yang menolak jenis ini cenderung lebih melihat marhalah atau fase yang mesti bergulir secara alamiah. Sehingga resistensi manusia terhadap formalisasi syariah lebih minim dan lebih civilized.

Sedangkan yang menolak dalam wujud lain adalah mereka yang dengan serta merta menyatakan Islam laksana sebuah baju yang sempit jika dipaksakan menjadi landasan hukum wajib untuk kebernegaraan. Mereka klaim bahwa demokrasi jauh lebih baik dan pantas disandang sebagai hukum formal bagi bernegara. Dan mereka ini islam!

Sekarang anda dimana berada? Menolak versi pertama. Karena ketawadhu’an dan melihat proses ini masih bergerak. Atau anda berada pada posisi melihat islam sebagai sebuah sistim usang (obsolete system) atau sebuah sistim yang sudah bertajuk telah layak dimusiumkan.

Judul ini saya pilih karena memang berlatarbelakang adanya tuntutan untuk memilih. Pilihlah!

(dilatarbelakangi oleh artikel yang ‘genit’ dari Dab Baskoro dan artikel ‘over cooked’ dari Sutan Paguci)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | | 22 September 2014 | 14:36

Analisis Ancaman ISIS di Australia …

Prayitno Ramelan | | 22 September 2014 | 13:47

Software Engineer/Programmer Dibayar Murah? …

Syariatifaris | | 22 September 2014 | 10:16

Revolusi Teknologi Perbankan: Dari ATM ke …

Harris Maulana | | 22 September 2014 | 11:19

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Cak Lontong Kini Sudah Tidak Lucu Lagi …

Arief Firhanusa | 8 jam lalu

Asyiknya Acara Pernikahan di Jakarta (Bukan …

Irwan Rinaldi | 9 jam lalu

Matematika Itu Hasil atau Proses? …

Pical Gadi | 10 jam lalu

Usia 30 Batas Terbaik untuk Menjomblo? …

Ariyani Na | 10 jam lalu

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Menerobos Batas Kelam …

Akhmad Fauzi | 8 jam lalu

Nangkring Cantik: I am Beautifull …

Elisa Koraag | 8 jam lalu

Wanita dalam Sebuah Keluarga …

Aulia Fitrotul | 8 jam lalu

Mama, Pak Melmi Masuk TV …

Cay Cay | 8 jam lalu

Teman Datang saat Butuh Saja? …

Ois Meyta Rahayu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: