Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Kebo Berkumpul, Kebo Dihukum

REP | 17 April 2013 | 01:06    Dibaca: 380   Komentar: 10   0

Saat ini anggota DPR kita sedang membahas undang-undang pasal “Kumpul Kebo” yang katanya, kalau kerbau berkumpul maka akan diberikan sanksi “Pidana”,… tapi sayangnya para Sapi - Gajah - Babi - Kuda - Dll tidak dibahas dalam RUU KUHP tsb,….. cukup hanya Kebo saja,….kenapa ? Tanya saja kepada para kerbau di gedung DPR.

Definisi ” Kumpul Kebo ” kalau dicari di kamus bahasa Indonesia, sulit dicari arti subtansi-nya,….. tapi para pakar politik di DPR setuju bahwa kerbaunya cukup sepasang berlainan jenis, jika sejenis atau beramai-ramai maka sulit untuk dijerat (hukum) artinya jika sepasang kerbau berkumpul, maka kerbau tsb harus memiliki SIM ( Surat Izin Menikah )

Saya tidak dapat membayangkan konsekwensi dari pasal kumpul kebo ini jika harus di-realisasikan,….. terbayang, pasal ini akan menjadi primadona bisnis pemerasan di-dunia hukum kita saat ini,…..terbayang, jutaan masyarakat Indonesia yg super majemuk harus ditangkap dan masuk penjara,….. terbayang, jutaan sejoli yg sedang kasmaran, harus dicerai-beraikan,…… Tanpa pelapor, tanpa saksi korban, tanpa tersangka, pasal ini akan berbuat semaunya ( Dzolim ) dengan isu “Zinah” yg nota bene sudah diatur dalam KUHP.

Inisiatif pasal ini sebenarnya mencerminkan betapa bodohnya bangsa ini, picik dan sepihak,….. menegak-kan kebaikan bukan dengan cara ancaman dan teror,…… Ingat ! Setiap individu dewasa ( > 20 th ) mempunyai hak asasi pribadi kedewasaan yang tidak boleh dibatasi oleh siapapun,…… kumpul kebo adalah prilaku dua sejoli yg sedang kasmaran atau suatu proses alami berpasangan dan itu sangat manusiawi,…… ketika dibatasi -diancam dan diteror, ini pelanggaran HAM serius.

Pasal karet ini akan memvonis semua pasangan kerbau dengan predikat zinah ( walau tidak ada bukti ) dan jelas sekali melecehkan pasal zinah yg sudah diatur dalam KUHP,……kita sepakat bahwa perbuatan kumpul kebo adalah prilaku negatif dalam tatanan masyarakat Timur, tetapi janganlah terlalu munafik melihat kondisi sosial budaya kita yg beragam, agama yg beragam, sosial ekonomi yg beragam ( banyak orang miskin dan atau masyarakat agama tertentu, tidak memiliki akta pernikahan )

Akhir kata,…. saran saya adalah, daripada membuang energi dan menghamburkan uang rakyat untuk hal-hal yg tidak jelas dan memalukan, lebih baik pembahasan RUU kumpul kebo dialihkan dengan kegiatan hukum yg lebih positif, ┬áseperti : Bagaimana mengurangi laju “Prostitusi” yang menggurita ( Perzinahan yg terang-terangan ), Bagaimana kita menanamkan pengertian kepada putra putri kita, bahwa ber-zina itu bukan pilihan, dst,…..dst,…..

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Syifa Annisa, Mahasiswi Penderita Glukoma …

Pepih Nugraha | | 29 May 2015 | 18:48

Noken yang Mendunia …

Ignas Ona | | 29 May 2015 | 14:30

Warga Tanakeke Mencoba Berdaya di Tangan …

Mustam Arif | | 29 May 2015 | 16:01

Padang Mangateh, New Zealand-nya Ranah …

Akbarmuhibar | | 30 May 2015 | 02:17

“Jempolan!” Siswa SMK Yayasan …

Asep Rizal | | 29 May 2015 | 22:25


TRENDING ARTICLES

Gagal Jadi Mualaf …

Yo | 15 jam lalu

Managerial Meeting Berlangsung Alot, Timnas …

Af Yanda | 17 jam lalu

Nasib Pelapor Beras Plastik …

Pical Gadi | 17 jam lalu

Petral Ternyata Tidak Berdosa, Bukan Sarang …

Asaaro Lahagu | 17 jam lalu

Gambar Cibiran terhadap FIFA Meramaikan …

Ardiansyah | 18 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: