Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Rino Malpati

mahasiswa jurusan Hukum

Adu Domba Oh Adu Domba (Cebokan Bukan Cebongan)

OPINI | 11 April 2013 | 11:38 Dibaca: 282   Komentar: 0   2

Adu domba adu domba mengadu domba

Domba dipertaruhkan

Adu domba adu domba mengadu domba

Domba dipertaruhkan

Demi keuntungan domba jadi korban

(Diadu domba)

Demi kesenangan domba kesakitan

(Diadu domba)

Sepenggal lirik dari Rhoma Irama mengiringi pagiku, kucoba membaca beberapa berita media online. Banyak berita-berita yang menarik, namun yang sangat mengelitik hatiku adalah kasus tentang Cebok’an (sengaja dikaburkan). Saya bukan tentara, bukan polisi, bukan warga Yogja, bukan orang NTT, bukan kelompok preman, saya hanyalah WARGA NEGARA INDONESIA yang bangga dan ingin selalu Indonesia tetap bersatu, tanpa ada sentimen kesukuan tanpa ada sentimen kelompok, maupun sentimen agama. Miris, sejarah tentang penjajahan Indonesia tak luput dari strategi penjajah yaitu Adu Domba (Devite et Empera), pengertian adu domba menurut wikipedia “Politik pecah belah atau politik adu domba adalah kombinasi strategi politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukan”. “Mengapa Belanda mempraktikan devide et impera?” Belanda tentu tidak bodoh, antropolog, sejarawan dan ilmuwan humaniora terbaik yang ada di seluruh Negeri Belanda tentunya telah dipekerjakan untuk meneliti watak khas orang Indonesia sebelum Pemerintah Belanda mengimplementasikan sebuah kebijakan. Mereka tahu bangsa Indonesia paling mudah di adu domba!!!!!

Kembali ke berita tentang Cebok’an, saya coba merunut awal mula kejadian (berdasarkan berita yg saya baca lho). Urutan kejadiannya antara lain:

1. Kejadian bermula pada hari Selasa  pukul 00.40 korban datang ke Mrongos Café, seorang anggota aparat (yang katanya sedang bertugas, apakah cafe merupakan ancaman dari pertahanan negara???) dianiaya oleh beberapa orang yang disebut-sebut preman hingga meninggal dunia.

2. Beberapa saat setelah kejadian 4 dari 7 (yang diduga pelaku) telah ditangkap oleh polisi.

3. Setelah beberapa hari diperiksa polisi 4 orang tersangka dipindahkan ke Lapas. (Alasan pemindahan dinilai kurang masuk akal, apakah polisi ketakutan?????)

4. Selang beberapa jam setelah pemindahan, lapas diserang, hanya 4 orang diantara puluhan tahanan yang dibunuh dengan keji.

5. Setelah kejadian semua menolak bertanggung jawab. Hanya Menteri lapas yang berani mengeluarkan statmen. Ada yang menyebut pelaku kartel narkoba, teroris dan yang parahnya ada akun facebook  dengan analisi yang tajam disertai data-data yang akurat mengatakan bahwa pelaku adalah oknum aparat (adu domba n pengalihan isu).

Itulah urutan kejadiannya, tapi apa yang berkembang sekarang…….pelaku dianggap ksatria, korban dianggap masyarakat yang perlu dimusnahkan, yang mengatasnamakan masyarakat yogja menolak  preman dan mendukung kelompok pelaku yang berdapak stereotif (pandangan negatif) terhadap salah satu komunitas kesukuan yang ada di yogja. Timbulah ketakutan, timbulah rasa saling curiga dan inilah ciri-ciri adu domba baru. Secara tidak sadar kita sudah di adu domba, diadu domba dengan cara penyampaian argumen melalui media, di adu domba dengan opini yang terlihat terstruktur dan diciptakan. Tujuannya apa……….pengalihan isu, pembenaran terhadap suatu kejahatan yang katanya tdk direncanakan. Masyarakat yogja yang terkenal dengan keramah tamahan terkesan menjadi masyarakat yang menolak terhadap komunitas tertentu.

Premanisme memang harus diberantas, bukan orangnya yang kita usir dan kita bunuh, namun prilakunya yang kita harus perbaiki. Tetaplah berpikir jernih, jangan terprovokasi dengan pengalihan isu murahan. Semua suku itu baik, semua agama itu mulia, apapun yang terjadi sekarang tetaplah bangga menjadi warga negara Indonesia. Kami Poetra Dan Poetri Indonesia Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Air Indonesia……

Adu domba adu domba mengadu domba

Sungguh suatu dosa

Adu domba adu domba mengadu domba

Perbuatan tercela

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 6 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 7 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 8 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Aku Ingin .. …

Gunawan Wibisono | 7 jam lalu

Keasyikan itu Bernama Passion …

Ika Pramono | 7 jam lalu

Sisi Positif dari Perseteruan Politik DPR …

Hts S. | 7 jam lalu

Menyiasati kenaikan harga BBM …

Desak Pusparini | 7 jam lalu

Trah Soekarno, Putra Cendana, dan Penerus …

Service Solahart | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: