Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Tri Hatmoko

Penikmat music kroncong, campur sari dan pop jawa.

Mengapa Abraham Samad Dibela Pengacara Kondang?

OPINI | 10 April 2013 | 11:48 Dibaca: 1781   Komentar: 0   0

Beberapa hari lalu, di salah satu stasiun televisi dalam acara debat  yang mengangkat topik soal bocornya sprindik AU,  menghadirkan peserta debat yang cukup menarik.  Di sebelah kanan host, ada komisioner KPK yang sudah purna tugas dan aktivis anti Korupsi. Sementara di sebelah kiri host, ada anggota DPR dan seorang pengacara kondang.

Seketika menarik perhatian saya.  Dalam hati bertanya, mengapa anggota DPR yang merupakan wakil rakyat di dewan berada dalam satu kubu dengan seorang pengacara kondang yang katanya tarifnya luar biasa mahal. Bukankan pengacara ini juga aktif membela pihak - pihak yang sedang didakwa melanggar hukum? Apakah anggota DPR ini sedang bermasalah dengan hukum sehingga perlu pengacara? Mengapa anggota DPR yang terhormat ini justru berada diseberang aktivis anti korupsi? Apakah aktivis anti korupsi ini bebeda pandangan dengan dengan rakyat, yang telah memilihnya? Berbagai pertanyaan nakal muncul dari sekedar melihat pengelompokan peserta debat saja.

Acarapun dimulai. Sebagai angota Dewan yang terhormat, seingat saya angota DPR ini pertama - tama yang diberi kesempatan oleh pembawa acara untuk menyampaikan pandangannya soal bocornya sprindik.  Diuraikan panjang lebar tentang gagasanya, dan jika disimpulkan bocornya sprindik itu tidak melanggar etika dan Abraham Samad tidak perlu diberi sanksi.  Sang aktivis anti korupsi pun mendapat kesempatan menanggapi. ‘titis, tatas lan terwaca‘, urainnya menyangkal argumen dari anggota Dewan. Intinya  apa yang dilakukan oleh komisi etik telah tepat. Draf itu sesuatu yang harus dirahasiakan, demi menjaga calon tersangka agar tidak melarikan diri. Tiba giliran sang pengacara kondang, ternyata beliau yang katanya barusan mendapatkan gelar Doktor itu, ternyata pendapatnya sama dengan bapak anggota dewan yang terhormat.  Dia menguraikan panjang lebar, bagaimana pengalamannya selama tiga puluh tahun beracara, yang intinya itu bukanlah pelanggaran etik.  Saya tidak tahu bagaiman kelanjutan debatnya, sebab harus melanjutkan ‘mainan’ MT4.  N

Bagaimana akhir debatnya tidaklah menarik untuk saya, sebab keputusan komite etik telah diumumkan  dan sanksi sudah dijatuhkan. Yang justru menarik adalah mengapa pengacara kondang itu justru ‘membela’ ketua KPK dan menyalahkan keputusan komite etik? Ini fenomena yang ganjil. Selama ini rasanya dalam debat - debat terbuka, seingat saya belum ada yang seperti ini.

Sementara kita tahu, paling tidak melalu media, bagaimana reaksi ketua KPK Abraham Samad dalam menerima putusan komite etik ini. Dari beberapa statmennya terlihat beliau tidak bisa menerima keputusan ini dengan legowo.  Dalam posisi ini, sepertinya sikap Abraham Samad sejalan dengan pandangan pengacara kondang itu. Sekali lagi ini fenomena baru bagi KPK.  Apakah artinya ini? Waktu yang akan menjawabnya!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sudah Saatnya Dokter Membuang Hidroquinon …

Dainsyah Vormula Da... | | 04 May 2015 | 07:44

Tips Betah Lama di Kompasiana: Tekun, Sabar, …

Gaganawati | | 04 May 2015 | 19:17

Kalau Bisa Ditutup Kenapa Dibiarkan Terbuka? …

Sugianti Bisri | | 04 May 2015 | 20:08

Kepada Gerimis …

Handy Pranowo | | 04 May 2015 | 20:36

Blog Competition “Keriaan KAA …

Kompasiana | | 22 April 2015 | 16:49


TRENDING ARTICLES

Lakon Mayweather dan Kritik Atas Tinju …

S Aji | 9 jam lalu

Mei, Bulan Sibuknya FIFA… Apalagi …

Achmad Suwefi | 11 jam lalu

Saya (Masih) Percaya Polisi, Ini Alasannya …

Aldy M. Aripin | 11 jam lalu

Prof Yusril Memutus Rantai Cinta Segitiga …

Sri Mulyono | 17 jam lalu

Sisi Lain Prestasi Walkot Bandung Ridwan …

Ashwin Pulungan | 17 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: