Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Sutomo Paguci

Pewarta warga mukim di Padang | Advokat | Nonpartisan | Menulis sebagai rekreasi

Upaya Luar Biasa Melawan Hukum Rimba

OPINI | 07 April 2013 | 13:03 Dibaca: 217   Komentar: 0   1

Pelaku penyerangan Lapas Cebongan harus dihukum berat. Tak cukup pemecatan dari kesatuan. Namun juga harus diadili secara hukum pidana militer dan dipenjarakan. Intinya, harus ada pesan yang jelas pada publik bahwa aksi main hakim sendiri adalah keliru dan bagi pelakunya akan dihukum berat.

Saat ini sangat kuat suara-suara pembenaran terhadap aksi main hakim sendiri. Keadaan ini tentu saja sangat membahayakan negara dan masyarakat. Aksi demikian otomatis mendelegitmasi fungsi negara. Masyarakat akan rame-rame mengambil jalan sendiri terhadap perasaan “ketidakadilan” yang diterimanya, seraya menyingkirkan mekanisme penyelesaian secara hukum.

Aksi hukum rimba demikian sudah meluas di mana-mana, mulai dari Mesuji, Sumsel, Papua, Simalungun, Cebongan, dan baru-baru ini terjadi lagi di Makasar. Seorang kepala Rumah Sakit Polri di Makassar dieksekusi oleh polisi yang marah dengannya.

Ini warning serius bagi aparat hukum—polisi, jaksa, hakim, pengacara, komisi-komisi pengawas—supaya bekerja dengan benar. Kongkalingkong akan makin meruntuhkan wibawa hukum dan akhirnya memupuk hukum rimba di tengah masyarakat. Negara akan masuk dalam fase kegelapan, di mana setiap warga “boleh” bertindak di luar hukum.

Sudah saatnya Presiden SBY mengambil langkah yang luar biasa atas situasi negara belakangan ini. Tidak cukup dengan cara biasa-biasa saja. Negara harus mengambil peran sistematis mulai dari pucuk tertinggi sampai terbawah untuk mengatasi runtuhnya wibawa lembaga-lembaga negara termasuk penegak hukum. Wujud langkah luar biasa ini dapat diwadahi dengan payung hukum berupa Instruksi Presiden.

Bersamaan dengan upaya pengembalian wibawa lembaga-lembaga negara, penegakan hukum harus dilaksanakan dengan tegas dan tak pandang bulu. Para preman harus digulung habis dari Sabang sampai Merauke. Kapolda seluruh Indonesia dapat dikumpulkan atau diperintah langsung oleh Kapolri. Setiap pelanggaran hukum oleh aparat negara harus diusut dengan cepat, transparan, dan dihukum dengan pemberatan dibandingkan warga non-aparat.

Beking-beking di internal Polri dan TNI harus digulung habis. Ultimatum level begini tak cukup dengan panglima masing-masing angkatan. Level ini makananannya Panglima Tertinggi, Presiden RI.

(SP)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

(Foto Essai) Menyambut Presiden Baru …

Agung Han | | 20 October 2014 | 20:54

Inilah Reaksi Mahasiswa Australia untuk …

Tjiptadinata Effend... | | 20 October 2014 | 19:16

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Najwa Shihab Jadi Menteri? She Is A Visual …

Winny Gunarti | | 21 October 2014 | 07:08

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 3 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 4 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 6 jam lalu

Antusiasme WNI di Jenewa Atas Pelantikan …

Hedi Priamajar | 9 jam lalu

Ini Kata Koran Malaysia Mengenai Jokowi …

Mustafa Kamal | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Trans TV, Raffi Is Not Our Prince! …

Gilang Parahita | 8 jam lalu

Merencanakan Anggaran untuk Pesta Pernikahan …

Cahyadi Takariawan | 8 jam lalu

Koalisi Akal Sehat Mengawal Pelantikan …

Effendi Siradjuddin | 8 jam lalu

Selamat Bertugas Pak Jokowi …

Toni Pamabakng | 8 jam lalu

Misteri Hantu Rumah Tua …

Raphael Jose Riberu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: