Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Irin Hidayat

Suka mengamati, tapi belum layak disebut pengamat.

Masyarakat Dukung Kopassus, Tanya Kenapa?

OPINI | 06 April 2013 | 19:28 Dibaca: 6519   Komentar: 95   18

Sumber Gambar: intelijenmiliter.files.wordpress.com

Setelah adanya klarifikasi dari pihak TNI (Ketua Tim Investigasi, Brigjen TNI Unggul K Yudhoyono) bahwa pelaku penyerangan Lapas Cebongan adalah 11 oknum anggota Grup 2 Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Kandang Menjangan Kartasura, beragam pendapat muncul di masyarakat, ada yang kontra, tapi tak sedikit pula yang pro.

Untuk mengetahui secara kasar pandangan masyarakat terkait hal ini, saya mencoba menelusuri komentar-komentar masyarakat yang tersebar di berbagai pemberitaan on-line. Hasilnya, mayoritas mendukung langkah kopassus yang mengeksekusi 4 preman tersangka kasus pembunuhan Sersan Satu Heru Santoso. Sebaliknya, hanya sedikit yang tidak setuju dengan kejadian tersebut. Berikut saya sertakan salah satu laman yang memuat berita ini (http://id.berita.yahoo.com/11-anggota-kopassus-akui-serbu-lp-cebongan-114859306.html). Untuk melihat respons masyarakat, silakan kunjungi laman tersebut.

Pembenaran masyarakat atas kejadian ini menimbulkan tanda tanya besar. Mengapa hal yang galibnya salah ini justru didukung masyarakat. Saya menduga ini adalah akumulasi dari ketidakpercayaan masyarakat akan kinerja aparat penegak hukum di Indonesia. Kita seakan lebih sering mendapat kabar ketidakberdayaan aparat penegak hukum di negeri ini daripada gemilangnya prestasi mereka dalam menegakkan keadilan. Dari polisi hingga lembaga peradilan seakan sudah sangat minim mendapat kepercayaan dari masyarakat.

Kita bisa menyaksikan bagaimana karut-marutnya penegakan hukum di Indonesia. Masih segar di ingatan kita seorang anak menteri yang divonis sangat ringan atas ulahnya menabrak kendaraan lain di jalan tol yang menyebabkan beberapa pengendaranya meninggal dunia. Kita juga masih ingat bagaimana kasus nenek-nenek yang dimejahijaukan gara-gara dituduh mencuri buah-buahan. Kita juga berkali-kali mendengar para koruptor dibebaskan dari pengadilan tipikor. Dan baru saja kita dengar berita bahwa ada oknum polisi yang memalak turis di Bali. Miris, bukan?

Akhirnya, disadari atau tidak, masyarakat sudah teramat jengah dengan pemberlakuan hukum yang tak merata ini. Selalu ada pandang bulu. Selalu ada tebang pilih. Hingga puncak dari ketidakpercayaan masyarakat terhadap aparat adalah dukungan mereka atas apa yang dilakukan 11 oknum kopassus.

Menurut saya, ini baru reaksi kecil. Bisa jadi jika aparat penegak hukum di negeri ini tidak segera berbenah, maka rakyatlah yang akan bertindak sendiri. Hingga hukum rimba pun tak mustahil akan berlaku di negeri ini. Karenanya, suka atau tidak, terpaksa atau sukarela, seluruh aparat penegak hukum harus benar-benar menjalankan amanah yang diembannya dengan amat sangat baik. Jika tidak, saya takut, andai ada lagi preman yang tertangkap polisi dan tidak ada hukuman yang berarti, masyarakat akan langsung mengeksekusi layaknya 11 oknum kopassus yang menyatroni LP Cebongan.

Mari tidak menyalahkan yang pro terhadap kopassus karena faktanya penegakan hukum di negeri ini masih sangat lemah. Juga, tak perlu mencela yang kontra karena bagaimanapun mereka menginginkan tegaknya hukum. Keduanya memiliki sisi positif dan negatif. Karenanya, bijaklah dalam bersikap. Saya pribadi hanya mengandaikan jika hukum di Indonesia lebih dibuat adil lagi, mungkin kejadian-kejadian seperti ini tak perlu ada. Buat hukum seadil mungkin. Misalnya, jika tersangka membunuh, maka hukuman yang paling setimpal adalah dengan dihukum mati. Simpel. Dan itulah yang diinginkan masyarakat.

Sayangnya, isu ini selalu terganjal dengan aktivis HAM yang memandang jika hukuman mati melanggar HAM. Padahal, para preman–baik yang di jalanan maupun yang di ruangan–sudah tak terhitung lagi melakukan pelanggaran HAM. Ya, inilah faktanya: pelanggar HAM dibela aktivis HAM gara-gara akan mendapat hukuman yang menurut mereka melanggar HAM. Benar-benar bikin pusing. Jika impian saya terwujud, mungkin tak akan ada lagi keluarga korban mengamuk di persidangan gara-gara vonis hakim tak sepadan dengan perbuatan tersangka yang telah menghilangkan nyawa anggota keluarganya.

Semoga semua mau mengintrospeksi diri bahwa memang teramat nyata dan benar bahwa ada yang salah di negeri ini. Apa pun itu, inilah negeri kita tercinta Indonesia. Mari berbenah dan mulailah dari diri sendiri. []

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Heritage Kereta Api, Memadukan Bisnis …

Akhmad Sujadi | | 20 August 2014 | 08:31

Berbagi Tanaman, Bisa Dijadikan Budaya …

Majawati Oen | | 20 August 2014 | 09:14

Kesadaran Berdaulat Berbuah Ketahanan dan …

Kusuma Wicitra | | 20 August 2014 | 12:38

Jangan Kau Kira Menulis Itu Gampang, Kawan …

Pebriano Bagindo | | 20 August 2014 | 08:34

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Di Balik Beningnya Kolang-kaling …

Hastira | 6 jam lalu

Menebak Putusan Akhir MK di Judgment Day …

Jusman Dalle | 7 jam lalu

Massa ke MK, Dukungan atau Tekanan Politis? …

Herulono Murtopo | 8 jam lalu

Sadarkah Anda Telah Mem-bully Anak Anda …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Memprediksi Kepemimpinan Berdasarkan …

Rahman T. Hakim | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: