Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Miqdad Husein

Sangat menyukai joke-joke segar

Tindakan Kopassus di Cebongan Dapat Dukungan

OPINI | 05 April 2013 | 05:39 Dibaca: 2352   Komentar: 0   7

Sehari setelah kejadian di Lapas Cebongan saya berada di Yogyakarta berkeliling naik becak atau kadang taksi kalau jarak agak jauh. Saat berbincang dengan supir taksi, saya terkesima ketika mendengar dukungan pada tindakan oknum Kopassus. Mereka bersimpati pertama, karena yang dibunuh preman, yang dianggap mengganggu. Lalu kedua, bersimpati karena yang dieksekusi hanya yang dianggap terlibat pembunuhan. “Tak ada yang dibunuh selain yang terlibat membunuh Kopassus. Ini menggambarkan mereka benar-benar mencari yang bersalah. Kalau ada satu saja yang dibunuh, di luar yang terlibat pembunuhan, kami dan teman-teman tak akan simpati,” katanya.

Ketika berita hasil investigasi kasus Cebongan diberitakan di media online, saya baru memahami mengapa logika itu berkembang di kalangan supir taksi. Di kolom komentar lebih dari sekitar 95 persen mendukung apa yang dilakukan oknum Kopassus. Sama persis. Seperti ada koor paduan suara, mengekspresikan sikap suka citanya pada tindakan di Cebongan itu. Bahkan ada yang terang-terangan meminta agar diteruskan pemberantasan preman.

Biadabkah masyarakat negeri ini? Atau, apakah masyarakat negeri ini membenarkan pembantaian? Secara tegas saya mengatakan tidak! Dukungan pada tindakan Cebongan memperlihatkan ketakpercayaan pada proses hukum, yang selama ini berlangsung. Mereka jengah dengan tindakan kekerasan preman namun saat diproses hukum ternyata mendapat hukuman ringan, lalu kambuh lagi. Mereka merasa banyak kasus hukum diselesaikan melalui transaksi hukum.

Jadi terasa, dukungan muncul bertitik tolak  dari kumulatif kekecewaan pada penegakan hukum. Sehingga jalan pintas yang dilakukan oknum Kopassus itu, menjadi sebuah pilihan. Pilihan akibat kekecewaan.

Terkait penembakan, lagi-lagi tertangkap bukan pada pembenaran tindakan penembakan tetapi pada sasaran yang ditembak. Bahasanya mewakili pemikiran dan sikap: mereka memang layak dibantai, mereka sampah yang memeras, apalagi kemudian ternyata membunuh Kopassus. Seandainya sasarannya bukan pesakitan, saya punya keyakinan sikap para komentator dadakan itu berbeda.

Karena itu saya masih berpikir positif. Dukungan pada tindakan di Cebongan bukanlah ekspresi watak bangsa ini yang barbar. Ini justru merupakan resultan dari kekecewaan pada proses hukum di negeri ini yang makin carut marut. Obatnya tentu saja, keseriusannya penegakan hukum. Jangan sampai terjadi lagi Gembong narkoba dapat grasi, lalu hakim yang menghukum ringan Gembong narkoba yang terkait 4,8 kg sabu, justru dipromosikan.

Jika arif ekspresi komentar yang bertebaran itu harus disikapi kongkrit dengan keseriusan menegakkan hukum di negeri ini. Saat ini kekecewaan masih berbentuk dukungan. Bukan tak mungkin bila kekecewaan makin mengental, bukan lagi dukungan yang muncul. Rakyat akan bertindak sendiri. Naudzubillah.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

(Foto Essai) Menyambut Presiden Baru …

Agung Han | | 20 October 2014 | 20:54

Inilah Reaksi Mahasiswa Australia untuk …

Tjiptadinata Effend... | | 20 October 2014 | 19:16

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Najwa Shihab Jadi Menteri? She Is A Visual …

Winny Gunarti | | 21 October 2014 | 07:08

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 2 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 4 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 6 jam lalu

Antusiasme WNI di Jenewa Atas Pelantikan …

Hedi Priamajar | 9 jam lalu

Ini Kata Koran Malaysia Mengenai Jokowi …

Mustafa Kamal | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Trans TV, Raffi Is Not Our Prince! …

Gilang Parahita | 8 jam lalu

Merencanakan Anggaran untuk Pesta Pernikahan …

Cahyadi Takariawan | 8 jam lalu

Koalisi Akal Sehat Mengawal Pelantikan …

Effendi Siradjuddin | 8 jam lalu

Selamat Bertugas Pak Jokowi …

Toni Pamabakng | 8 jam lalu

Misteri Hantu Rumah Tua …

Raphael Jose Riberu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: