Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Embun Pagi

mahasiswa satra inggris bidang penerjemahan universitas terbuka

Ketika Pasal Santet Diributkan

REP | 04 April 2013 | 23:40 Dibaca: 306   Komentar: 0   0

KETIKA PASAL SANTET DIRIBUTKAN

Saat ini sedang diributkan tentang Pasal Santet.DPR yang sedang menggodok Rancangan Undang-Undang KUHP alias Kitab Undang-Undang Hukum Pidana memasukkan satu pasal yang dinamakan pasal santet.Pasal tersebut berbunyi:

Pasal 293 tersebut:

(1). Setiap orang yang menyatakan dirinya mempunyai kekuatan gaib, memberitahukan harapan, menawarkan, atau memberikan bantuan jasa kepada orang lain bahwa karena perbuatannya dapat menimbulkan penyakit, kematian, penderitaan mental atau fisik seseorang, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak kategori IV.

(2) Jika pembuat tindak pidana sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) melakukan perbuatan tersebut untuk mencari keuntungan atau menjadikan sebagai mata pencaharian atau kebiasaan, maka pidananya dapat ditambah dengan 1/3 (satu per tiga).

Pasal ini diributkan karena dianggap sangat susah untuk dilakukan pembuktiannya.Pasal ini juga dianggap dapat mencelakakan orang lain yang tidak bersalah.Banyak orang yang akan menjadi korban karena akan dituduh sebagai dukun santet.

Padahal di dalam KUHP yang lama pasal yang menyangkut praktek yang berhubungan dengan bidang peramalan,ilmu-ilmu kesaktian dan jimat sudah ada sejak lama.Namun Pasal –pasal tersebut tidak pernah digunakan oleh aparat hukum untuk menjerat orang lain.

Pasal-pasal tersebut adalah:

Pasal 545

(1) Barang siapa menjadikan sebagai pencariannya untuk menyatakan peruntungan seseorang, untuk mengadakan peramalan atau penafsiran impian, diancam dengan pidana kurungan paling lama enam hari atau pidana denda paling banyak tiga ratus rupiah.

(2) Jika ketika melakukan pelanggaran belum lewat satu tahun sejak adanya pemidanaan yang menjadi tetap karena pelanggaran yang sama, pidananya dapat dilipatduakan.

Pasal 546

Diancam dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah:

1. barang siapa menjual, menawarkan, menyerahkan, membagikan atau mempunyai persediaan untuk dijual atau dibagikan jimat-jimat atau benda-benda yang dikatakan olehnya mempunyai kekuatan gaib;

2. barang siapa mengajar ilmu-ilmu atau kesaktian-kesaktian yang bertujuan menimbulkan kepercayaan bahwa melakukan perbuatan pidana tanpa kemungkinan bahaya bagi diri sendiri.

Pasal 547

Seorang saksi, yang ketika diminta untuk memberi keterangan di bawah sumpah menurut ketentuan undang-undang, dalam sidang pengadilan memakai jimat-jimat atau benda- benda sakti, diancam dengan pidana kurungan paling lama sepuluh hari atau pidana denda paling banyak tujuh ratus lima puluh rupiah.

Pasal-pasal ini tidak pernah atau jarang sekali dipakai oleh pihak kepolisian dalam kasus pidana.Polisi menganggap bahwa praktek ilmu kesaktian,ramal-meramal dan penggunaan jimat sudah ada di dalam lingkup kehidupan masyarakat Indonesia.Jika diterapkan akan banyak orang yang menjadi tersangka.

Memang jika Pasal 293 ini jadi dimasukkan dalam KUHP ada segi negatifnya dan positifnya.

Segi positifnya adalah sebagai berikut:

1)Norma agama diterapkan .Dalam agama Islam praktek perdukunan dianggap perbuatan musrik yaitu perbuataatan menyekutukan Allah Yang Maha kuasa.

2)Masyarakat diajak kembali untuk menerapkan kehidupan beragama dalam menjalani kehidupannya sehari-hari.

3)Praktek perdukunan akan berkurang karena adanya hukum yang mengatur.

4)Adanya dasar hukum yang kuat bagi pelaku perbuatan santet.

Segi negatifnya adalah:

1)Pasal ini akan banyak menelan korban karena aka nada orang yang melaporkan musuhnya dengan delik aduan santet.

2)Penjara akan penuh karena praktek paranormal dianggap hal yang biasa di dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

3)Pembuktiannya akan sulit sehingga membuat jalannya persidangan akan memakan waktu yang lama.

4)Banyak orang tidak bersalah akan dipenjarakan karena pasal santet ini.

Jadi bagaimana menurut anda apakah perlu pasal santet dimasukkan dalam KUHP?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | | 25 October 2014 | 14:51

Kompasiana Nangkring Special di Balikpapan …

Bambang Herlandi | | 25 October 2014 | 13:44

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 3 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 4 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 5 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 6 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

ATM Susu …

Gaganawati | 7 jam lalu

Perjamuan Akhir di Bali …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 8 jam lalu

Gayatri Dwi Wailissa, Anggota BIN yang Gugur …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Belajar Ngomong:”Mulutmu …

Wahyu Hidayanto | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: