Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Nasrulloh Mu

Hidup mu bukan untuk mu, tapi untuk yang Maha Hidup. Anak Kampung Yang Tinggal Di selengkapnya

Menjerat LHI, Mungkinkah?

REP | 02 April 2013 | 19:15 Dibaca: 703   Komentar: 3   3

“Tindak Pidana Pencucian Uang itu pelaksanaannya bagaimana ya ? Menemukan kejahatannya lalu menelusuri uangnya kemana aja atau menemukan uangnya lalu mencari kejahatannya ?

Kalau menemukan uangnya lebih dulu baru kejahatannya, periksa saja semua orang yang kekayaannya patud diduga diperoleh dari uang haram..” Itulah seloroh teman di akun facebook.  Dia, seorang ahli hukum, lulusan S2 hukum dari Universitas Indonesa (UI).

Saya juga punya teman kerja. Dia Manager Legal, yang sedang menyelesaikan S2 hukum di UI. Saat  ditanyakan  kasus LHI, yang dijadikan tersangka pidana pencucian uang. Dia terdiam, terlihat bingung.

Karena menurut dia, tindak pidana pencucian uang harus ditemukan dulu kasus awalnya. Uang yang di cuci harus jelas terlebih dahulu. Dari suap atau korupsi. “Bila kasus awalnya belum jelas, bagaimana menjadi tersangka pencucian uang”, begitulah dia berkata.

Terus terang aku tidak paham tentang hukum. Aku hanya sekolah  di jurusan akuntansi. Yang aku pahami seperti yang diungkapkan  oleh Jusuf  Kalla (JK).

Dimana beliau berkomentar soal kasus Century untuk menemukan pembobolnya.”Ikuti saja aliran uangnya”, begitulah JK berkata.

Jadi untuk menjerat LHI sebenarnya cukup simple. Terbukti ada aliran uang yang masuk kerekeningnya atau menerima sesuatu dari orang yang menyuapnya.

Apalagi bila kasus ini pengembangan dari operasi tangkap tangan, tentu lebih mudah pembuktiannya. Orang yang menerimanya pasti  kedapatan sedang menerima atau menghitung uang. Seperti  kasus ketangkaptangan seorang hakim dalam proses hukum soal Bansos kota Bandung.

Namun apakah semua itu sudah terbukti pada LHI ?  Oiya… kerjaan KPK itu kan hanya menyidik dan menutut ya…. biar pengadilan saja yang membuktikan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 7 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 8 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 9 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Manajemen Konflik di Negeri Angkara Murka …

Yudhi Hertanto | 7 jam lalu

99,9% Arema Dibantu Wasit? …

Id Law | 7 jam lalu

For You …

Ahmad Maulana Jazul... | 7 jam lalu

Sejatinya Pemimpin…!!! …

Alex Palit | 7 jam lalu

Penggunaan Air Susu Ibu (ASI) …

Zainab Hikmawati | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: