Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Dadi Kristian

hanya seorang penanam tomat

Profil “Pahlawan” yang Gugur di LP Sleman

OPINI | 02 April 2013 | 00:57 Dibaca: 1100   Komentar: 3   0

Hendrik Benyamin Angel Sahetapy alias Diky/Deki (37)

kelahiran Kupang, Nusa Tenggara Timur

dikenal merupakan gembong kelompok preman yang amat ditakuti dan kerap membuat onar

tersangka kasus pengeroyokan yang menewaskan seorang prajurit TNI anggota Detasemen Pelaksana Intelijen Kodam IV Diponegoro, Sersan Kepala Heru Santosa

pernah ditahan dalam kasus pemerkosaan dan pembunuhan

saat ditangkap dalam kasus pemerkosaan, dia baru saja bebas bersyarat dengan sisa masa tahanan 2,5 tahun akibat kasus pembunuhan di Jalan Solo pada tahun 2002

Dalam kasus pemerkosaan, Dicky diganjar hukuman penjara selama 3,5 tahun oleh Pengadilan Negeri Yogyakarta

Yohanes Juan Mambait alias Juan

kelahiran Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur

tersangka kasus pengeroyokan yang menewaskan seorang prajurit TNI anggota Detasemen Pelaksana Intelijen Kodam IV Diponegoro, Sersan Kepala Heru Santosa

dipecat dengan tidak hormat dari Polri karena terlibat kasus narkoba

Gameliel Yermiayanto Rohi Riwu alias Adi (23),

Profesi: preman dan pengangguran

Beralamat di Asrama Mahasiswa NTT di Kampung Tegal Panggung Kecamatan Danurejan Kota Yogyakarta

Drop Out (DO) atau tidak selesai kuliahnya.

Adrianus Candra Galaja alias Dedi (33).

Profesi: preman dan pengangguran

tinggal di Asrama Mahasiswa NTT di Kampung Tegal Panggung Kecamatan Danurejan Kota Yogyakarta.

Drop Out (DO) atau tidak selesai kuliahnya.

ke empatnya akan di angkat menjadi “Pahlawan nasional Korban HAM” oleh Komnas HAM, hal ini terbukti dari keseriusan  Siti Noor Laila ketua Komnas HAM mengusut kasus ini. di Sisi lain ketua komnas HAM mengatakan bahwa kasus pembunuhan terhadap anggota TNI oleh ke empat “pahlawan” tersebut bukan termasuk pelanggaran HAM, tapi kriminal biasa. Sedangkan penyerangan pasukan ninja terhadap para “pahlawan” tersebut dinyatakan sebagai pelanggaran HAM berat, dan pelakunya layak disebut teroris. Hal ini juga berlaku jika korbannya adalah anggota TNI/polisi di Papua, walaupun mereka sudah dibekali surat tugas dan sedang berjuang mempertahankan ketertiban masyarakat.

Penyerangan terhadap anggota TNI/Polri bukanlah pelanggaran HAM

bagi Siti Noor Laila, semua pemerkosa, pembunuh dan perampok harus dilindungi oleh negara. Kalau perlu kehidupan dipenjara tidak boleh lebih buruk daripada kehidupan diluar penjara.Tidak usah peduli dengan perasaan korban dan keluarganya.

Terima kasih Komnas Ham, anda telah mengajarkan kepada kami bahwa anggota TNI adalah bukan manusia, sedangkan para pemerkosa dan pembunuh adalah manusia sejati. Terima kasih ibu Siti Noor Laila!

Salam HAM!!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kiat Belanda Urai Kemacetan Lalu Lintas …

Bawah Paras Laut ۞ | | 04 March 2015 | 22:39

Wah, Baru Setahun, BPJS sudah Defisit? …

Ilyani Sudardjat | | 04 March 2015 | 14:35

Tips Menghemat Listrik …

Ika Septi | | 04 March 2015 | 16:05

Selepas Kuliah, Mau Bagaimana? Berikut …

Gama Satria Nugraha | | 04 March 2015 | 19:07

Album Perdana Virzha: Sebuah Pernyataan …

Atitere | | 04 March 2015 | 12:27


TRENDING ARTICLES

Mencermati Isu “Dana Siluman” dalam …

Amarta Jaya | 5 jam lalu

Ruki, Ketua KPK yang Penuh Kontradiktif …

Daniel H.t. | 5 jam lalu

Ical Dendam, Akan Muncul Golkar Perjuangan …

Giri Lumakto | 7 jam lalu

‘Rehabilitasi’ Nama Fatin di X …

Arief Firhanusa | 11 jam lalu

Sesat Pikir Ahok dan Peran DPRD DKI tentang …

Ibnu Dawam Aziz | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: