Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Ringgo Star

Bukan pengagum Taqlid

Poli-”tikus” PKS Ditahan

OPINI | 27 March 2013 | 10:19 Dibaca: 417   Komentar: 5   0

Politikus PKS Menyerahkan Diri

PKS Lagi….PKS Lagi.. !

Memang bukan PKS , klo adem ayam aja tanpa berita. Entah effect berita itu nantinya menguntungkan atau sebaliknya malah makin membuat Apriori Masyarakat terhadap Partai ini, karena begitu banyak ulah dan tingkah polah elite dan para kader nya yang justru tidak mencerminkan jati dirinya yang mengaku sebagai partai dakwah (masih berlaku ga ya ?).

Suatu Ketenaran dan Popularitas memang diperlukan agar dikenal oleh khayalak banyak, cuma masalhnya keterkenalan itu dalam hal bidang apa ?, tentu effect yang akan diterima juga berbeda-beda.

Apabila pencitraan nya di masyarakat dianggap baik maka akan berdampak positif bagi partai itu, tapi sebaliknya bila negatif malah akan menjauhkan orang dari partai tersebut.

Sebagai contoh : Klo orang menyebut kata “Nazaruddi” , nama ini begitu terkenal luas , bukan hanya di media dan jejaring sosial, tapi masyarakat awam di kampung pun tau dan mengenalnya .Tapi mendengar nama itu, bukan berarti masyarakat suka dan kagum., tapi justru yang diingat adalah soal-soal korupsi nya dan partai Demokrat.

Begitu pun PKS terkenal di jejaring media sosial dan berita2 lain nya. Kira-kira apa yang terlintas di benak pembaca dan pendengarnya. Pasti soal Korupsi Sapi, diamana ada LHI dan A. Fathanah , juga soal Mahar Pilkada yang sering jadi tawar-menawar dukungan, begitu pun Suswono yang gagal mimpin di Kementrian nya, hingga harga2 naik tak terkendali, dan bikin Ibu-ibu pusing menerima dampaknya.

Belum lagi dari sisi elite2 nya yang sudah merubah style gaya hidupnya yang dulu katanya ustad tapi sekarng sudah menjelma menjadi kaum dan golongan Borjuis. Istilahnya : Dulu pake kain sarung dan baju koko sekarang berjas dan berdasi perlente, sepatu kelimis dengan jam ditangn merk rolex.

Belum selesai masalah Korupsi yangMelibatkan LHI dan koleganya A. Fathanah. Ambah lagi kasus korupsi baru yang menimpa kader PKS di Subang yanga dilakukan Angota DPRD Subang dari FPKS, Usep Ukaryana.

Usep Ukaryana, politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS), akhirnya menyerahkan diri ke Kejaksaan  Negeri Subang, Senin kemarin setelah sempat beberapa minggu buron.

Usep menjadi tersangka kasus dugaan korupsi dana Program Usaha Agrobisnis Pertanian (PUAP), sebesar Rp,73 miliar. Sebelum Mang Usep menjadi buron, selama tiga pekan.

“Usep menyerahkan diri pukul tiga sore”, ungkap Kepala Seksi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri , Wilm an Ernaldi, pdaa di temui wartawan di kantornya kemarin.

Menurut keterangan, sebelumnya Usep telah tiga kali dipanggil sebagai tersangka oleh tim penyidik Kejaksaan untuk diperiksa. Tapi, dia mangkir. Kejaksaan akhirnya menyatakan Ketua Perhimpunan Petani dan Nelayan Sejahtera Indonesia (PPNSI) Kabupaten itu menjadi buron.

Baru akhirnya kemaren Usep menyerahkan diri mendatangi Kejari Subang untuk diperiksa penyidik, Senin (25/3). Sayang, kedatangan Usep tak tercium media

Dijelaskan Willman, Kejari Subang subang telah menyiapkan sekitar seratus pertanyaaan untuk menggali keterlibatan tersangka dalam perkara PUAP yang merugikan Negara hingga sekitar Rp930 juta itu.

kemudian, Usep langsung diperiksa. Namun, di tengah pemeriksaan, dia langsung pusing. Pemeriksaan dihentikan. “Kamisiapkan sembilan pertanyaan. Tapi, belum semuan pertanyaan dijawab, kesehatan Usep langsung drop”, ujar Wilman.

Usep langsung dilarikan ke rumah sakit Ciereng. “Kalau hasil pemeriksaan dia sehat, langsung kami tahan.Tapi, kalau harus dirawat, ya, dirawat dengan pengawasan kami”, tambah Wilman. Menurut dokter BM.Wiyajarko, menderita sakit akut, sehingga tidak dapat memenuhi panggilan tim penyidik. “Usep terserang stress berat”.

Menurut keterangan Wilman, Usep secara bersama-sama dengan Theo Iskandarsyah dan Yayan - keduanya sudah ditahan - diduga  menyunat dana PUAP 2011 yang disalurkan kepada 73 gabungan kelompok tani (Gapoktan) di Kabupaten Subang. usep memotong dana dari Kementerian Pertanian itu Rp20 - 40 juta dari Rp 100 juta yang seharusnya diterima setiap Gapoktan. Jadi Usep tukang sunat.

Dari dana yang dicadangkan Rp 7,3 miliar untuk Gapoktan yang disalurkan hanya Rp 6,9 miliar, karena ada empat Gapoktan yang menolak menerimanya. Karena tidak mau disunat.

Tim penyidik menyimpulkan, dari dana sebesar Rp6,9 miliar itu Usep, Theo, dan Yayan diduga mengkorupsi Rp 800 juta. Tapi, berdasarkan penghitungan tim audit BPKP, nilai kerugian negara Rp931 juta. Mang Usep ternyata demen nyunat.

Bila diamati kronologi Permainan Korupsi yang diperankan oleh Anggota DPRD Subang dari FPKS tersebut, terlihat begitu Sistematis dan mengikuti alur Birokrasi mengikuti persyaratan dan ketentuan dalam penyaluran bantuan. Yaitu dengan membentuk terlebih dahulu Lembaga Perhimpunan Petani dan Nelayan Sejahtera Indonesia (PPNSI) yang dipimpinnya.

Kemudian dilanjutkan dengan membentuk Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) yang Usulan Nama-nama anggotanya juga beliau sudah tentukan untuk selanjutnya bisa masuk dalam proses permohonan bantuan, yang kemudian bantuan tersebut bisa Cair dikeluarkan melalui Departemen Pertanian (Mentrinya dari PKS).

Namun sayang dalam Penyalurannya yang seharusnya tujuan nya utk meningkatkan kesejahteraan kelompok tani, tapi pada prakteknya sunat atau diselewengkan

Sebelumnya, dedengkot PKS, Luthfi Hasa Ishak, yang menjadi Presiden PKS, tertangkap basah bersama Fathanah oleh KPK diduga meminta uang dan perempuan. Mantan Presiden PKS itu, Luthfi sekarang ditahan di Guntur, dan menghadapi pasal berlapis yang terkait dugaan korupsi import daging sapi.

Korupsi memang tidak mengeanal keadaan, ruang dan waktu , begitupun status seseorang, Apakah politisi, Akademisi, Dosen atau bahkan label ustad sekalipun tidak ada bedanya klo soal sahwat yang satu ini. Karena begitu menggiurkan .

Betapa tidak, Korupsi dan suap adalah cara instant dan cepat untuk mendapatkan harta berlimpah : orang yang tadi nya kere pun akan cepat menjadi kaya dengan korupsi dan makan suap , orang yang tadinya ngajar cuma pake vesva butut pun akan bisa membeli Alvard dan pajero, orang yang dulu cuma pake jam tangan casio tanah abang , bisa membeli Rolex dengan cara ini. Begitu instant nya cara mendapatkan harta banyak dengan proses yang cepat sehingga banyak tergiur dan menyukainya. Tidak peduli harus menabrak atau melanggar norma2 aqidah. Asal tidak ketahuan dianggap halal.

Sementar Orang kecil atau rakyat boleh saja teriak2 susah tentang harga daging yang tingi dan tidak pernah turun lagi, begitu pun harga bawang merah dan putih yang masih melejit dipasar, dan yang terbaru harga cabe yang mulai ikut2an naik. Semua ini datang silih berganti seenak nya saja , seolah tidak ada yang bisa mengontrol dan mengatur. Lalu apa kerjaan mentri2 terkait dengan pangan di Negri ini. Seperti kebo dungu yang membiarkan saja sawahnya di makani tikus.

Inilah hasil nya klo Jabatan /Kekuasan yang seharusnya dijadikan Amanah untuk rakyat banyak , tapi di khianati dan diselewengkan hanya untuk mensejahterakan kelompok dan golongan saja.

Link berita  dibawah ini

http://pasundanekspres.co.id/pasundan/8423-usep-akhirnya-menyerahkan-diri

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Stanley, Keindahan Sisi Selatan Hongkong …

Moris Hk | | 29 August 2014 | 14:46

Kisah Hidup Pramugari yang Selamat dari …

Harja Saputra | | 29 August 2014 | 12:24

Jose Mujica, Dihormati Meskipun Tidak Punya …

Putu Djuanta | | 29 August 2014 | 14:30

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 10 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 13 jam lalu

Jokowi Mengkhianati Rakyat Jika Tidak …

Felix | 14 jam lalu

Ganteng-Ganteng Hakim MK …

Balya Nur | 15 jam lalu

Cara Unik Jokowi Cabut Subsidi BBM, …

Rizal Amri | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

BBM Naik Kenapa Takut? …

Mike Reyssent | 8 jam lalu

Kasus Florence : Salahkah Bahasa …

Mania Telo | 8 jam lalu

Waspada, Demam Berdarah Mulai Jangkiti …

Weedy Koshino | 8 jam lalu

Dilarang Berenang di Laut Mati …

Andre Jayaprana | 8 jam lalu

Udah Ngapain Aja untuk Menghadapi Masyarakat …

Zuhri Muhammad | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: