Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Fajarbaru

menulis untuk melawan proses amnesia sejarah

Tragedi Lapas Sleman, Pesan untuk Para Pendukung Hukum Rimba

OPINI | 26 March 2013 | 21:02 Dibaca: 2539   Komentar: 32   8

13642815151624399447

“….Mereka yang mendukung penyerangan lapas ibarat KANCIL yang bersorak ketika SINGA menerkam SERIGALA. Tinggal menunggu waktu saja sampai mereka akan jadi santapan berikutnya….”

Untaian kata-kata di atas merupakan sebuah komentar yang saya copas dari kolom komentar sebuah artikel berita di Kompas.Com. Komentar ini merupakan salah satu dari komentar sanggahan dari ratusan komentar yang mendukung penyerangan Lapas Kelas IIB Cebongan, Sleman yang seolah-olah pantas dibenarkan.

Komentar-komentar pembaca yang sepakat dengan tindakan inkonstitusional ini tampak terlihat emosional dan irasional. Hal ini mungkin saja disebabkan akumulasi kekecewaan akut akan fenomena kekerasan yang dilakukan mereka yang dijuluki preman selama ini. Irasionalitasnya  terletak di sini: mengutuk tindakan premanisme serentak mendukung tindakan premanisme lainnya! Mengutuk para preman, tetapi mendukung para preman bersenjata yang menyerang Lapas yang merupakan salah satu simbol penegakan hukum di negeri ini. Entah apa yang ada di hati para komentator sehingga begitu mudahnya mengumbar kata-kata yang sangat tidak simpatik melalui komentar-komentar yang sama sadisnya dengan tindakan para preman bersenjata itu.

Selain itu, komentar-komentar “bernada puas” tersebut bisa saja mengekspresikan akumulasi kekecewan akut akan lemahnya penegakan hukum di Indonesia. Vonis-vonis hukuman yang terkadang tidak sesuai dengan berat-ringannya kasus oleh karena berbagai kepentingan para penegak hukum yang bermain di dalamnya membuat mereka menjadi gemas sekaligus geram. Dan ketika empat tahanan kemudian dieksekusi dengan hukum rimba, kegemasan dan kegeraman mereka seolah-olah mendapatkan kanalisasinya.

Hal ini menjadi jelas ketika muncul komentar-komentar yang merindukan dihidupkannya kembali PETRUS pada zaman Orde Baru yang jelas-jelas kontroversial dan tidak dapat dibenarkan berdasarkan azas apapun. Seolah-olah bahwa dengan dihidupkannya kembali PETRUS seperti yang diperankan oleh ke-17 eksekutor gelap tersebut dapat memutuskan mata rantai kejahatan.

Padahal semakin direpresi melalui tindakan kekerasan/premanisme ala PETRUS semakin menimbulkan teror dan horor bukan hanya bagi para pelaku kejahatan tetapi juga bagi seluruh rakyat. Efek teror dan horor ini kemudian dianggap sebagai “syok terapi” bagi rakyat agar tidak macam-macam termasuk tidak boleh macam-macam dengan mereka yang mempunyai kuasa dan senjata! Bagaimana rasanya hidup di bawah bayang-bayang ketakutan diberondong senjata tidak dipikirkan. Yang terpenting buat salah, door dan habislah perkara. Euforia akan PETRUS ini sebenarnya mau menunjukkan bahwa bangsa ini sedang sakit jiwa akut karena nurani dan nalar tidak lagi dikedepankan. Semua yang mendukung euforia ini di bawah sadarnya ingin menjadi psikopat karena semuanya tidak akan mempercai hukum lagi tetapi main hakim sendiri.

Bagi yang senang dan mendukung tindakan keji eksekutor gelap yang sampai detik ini belum diungkap identitasnya ini penting untuk mengingat kata-kata Sang Komentar ini:

“….Mereka yang mendukung penyerangan lapas ibarat KANCIL yang bersorak ketika SINGA menerkam SERIGALA. Tinggal menunggu waktu saja sampai mereka akan jadi santapan berikutnya….”

Terkait:

Tragedi Hukum Paling Memalukan

Tragedi Lapas Sleman Klimaks Pelecehan Hukum

Tragedi Lapas Sleman Ujian Berat Polri

Petrus Zaman Orba Vs Petrus Zaman Reformasi

Tragedi Lapas Sleman Hanya Sebuah Gunung Es

Tragedi Lapas Sleman Masalah Nasional?

Tragedi lapas Sleman dan Rasisme yang Berkembang

Tragedi Lapas Sleman dan Opini Publik

Terima kasih bagi teman-teman yang telah dan mau berpartisipasi memberikan opini dari berbagai sudut pandang dan pertimbangan melalui kolom komentar ini. Semua komentar akan saya baca, cerna, dan tanggapi dalam artikel lainnya..

“berbeda pendapat itu diberi ruang dan dihargai, asal tetap mengutamakan dialog yang mengedepankan akal sehat dan sopan santun”


salam damai selalu

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | | 23 November 2014 | 12:04

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 9 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 17 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 19 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


HIGHLIGHT

Di bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 12 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Mabate Wae | 12 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 12 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 12 jam lalu

Peniti Community, Wadah Kompasianer …

Isson Khairul | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: