Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Rizky F Chaniago

Tak akan lelah berpikir, tak akan lelah menulis dan tak akan lelah berbicara.

Eksekusi Ala Rambo di Lapas Cebongan

REP | 24 March 2013 | 11:06 Dibaca: 2445   Komentar: 0   13

Masuk akal saja bila peristiwa ini oleh sebagian orang dinilai membuat gempar jagad hukum di Indonesia, negeri yang memproklamirkan dirinya sebagai negara hukum. Bagaimana tidak ? Baru saja semalam dititip di Lembaga Pemasyarakatan Cebongan Sleman Yogyakarta, ke-4 orang yang diduga melakukan pengeroyokan terhadap Santoso, anggota kopasus Kandang Menjangan Kartasura, masing-masing Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, Adrianus Candra Galaga, Yohanes Juan Mambait dan Gameliel Yermiayant Rohi Riwu sudah keburu dieksekusi pada dini hari Sabtu 23/3.

Tidak tanggung-tanggung, tanpa melalui proses peradilan dan bukan oleh jaksa selaku eksekutor dalam peradilan pidana, melainkan eksekusi mati menggunakan hukum rimba ala “ Rambo “ oleh Orang Tak di-Kenal (OTK). Eksekusi ‘ala Rambo’ itu dilakukan 17 (tujuh belas) orang yang sebagiannya bersenjatakan AK-47 setelah lebih dahulu melumpuhkan Petugas Penjaga Malam di Lapas Cebongan. Para pelaku menggunakan penutup wajah datang memasuki kompleks Lapas dengan cara melompati pagar kemudian memaksakan petugas penjaga yang memegang kunci agar menunjukan ruang tahanan di mana ke-4 orang itu ditahan, dan langsung ditembak di tempat. Usai beraksi, para eksekutor itu masih memaksakan petugas penjaga menunjukan ruang kerja Kepala Lapas, Sukamto Harto, kemudian diambilnya kamera CCTV dan 2 (dua) alat perekam, bahkan masih sempat pula merusak salah satu kamera yang dipasang di ruang porter. Lebih menghebohkan lagi, aksi brutal itu begitu cepat, kurang lebih hanya berlangsung selama 15 menit.

Tentu saja Decky Sahetapy bersama ke-3 temannya sama sekali tidak menduga kalau aksi pengeroyokannya terhadap Santoso pada hari Selasa 19/3 di Hugo’s Café Jln Adisutjipto Maguwoharjo Sleman itu membawa petaka bagi dirinya bahkan hingga memisahkan ruh dari jasadnya masing-masing.

Walhasil, akibat pembantaian ke-4 warganya ini, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya pun ikut-ikutan dibuat masygul. Gubernur Frans langsung mengontak Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, meminta bantuannya memberikan perhatian agar warga NTT yang berdomisili di Yogyakarta bisa tetap merasa aman serta melaksanakan aktivitas rutinnya dengan tenang, dan jenazah Sahetapy bersama ke-3 temannya dapat dikirimkan kembali ke kampung halamannya di Kupang NTT. Begitu pula sebaliknya terhadap warga NTT yang saat ini berada di Yogyakarta dihimbau tetap tenang dan tidak terpancing emosi karena peristiwa penembakan itu sudah ditangani oleh pihak yang berwajib.

Di balik kemasygulan sebagai sesama anak bangsa kita tentu tak bisa menduga apalagi sampai menuduh siapa-siapa saja pelaku di balik drama pembantaian Decky dkk.

Tetapi pertanyaannya, mengapa eksekusi ala Rambo ini masih sering mau dipertontonkan di depan publik lagi pula ke-4 orang yang diduga pelaku pengeroyokan anggota kopassus itu sudah ditahan dan tentu akan melewati proses hukum yang niscaya bakal dikenakan sangsi hukum yang setimpal ?

Ataukah ini memang pertanda bahwa hukum benar-benar sama sekali tidak bisa dipercayai lagi sebagai alat untuk menciptakan keseimbangan neraca di dalam pergaulan dan kehidupan masyarakat ?

Wallahu’alambissawab.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Beginilah, Bila Sesama Tunanetra Saling …

Gapey Sandy | | 23 May 2015 | 07:51

Kisah Penghapusan Skripsi di Perguruan …

Muhammad Armand | | 23 May 2015 | 07:07

Kompasiana-”Dayakan Indonesia” …

Kompasiana | | 11 May 2015 | 17:09

Keyboard Komputer yang Kita Pakai …

Herman R. Soetisna | | 23 May 2015 | 05:55

Blog Competition: Kotaku Kota Cerdas! …

Kompasiana | | 27 April 2015 | 01:52


TRENDING ARTICLES

Favorit Bule, PSK Eksotis Indonesia dibayar …

Riana Dewie | 5 jam lalu

Dihantui Rasa Bersalah ,Tehnisi QZ8501 Bunuh …

Tjiptadinata Effend... | 6 jam lalu

Deadline FIFA Seminggu Lagi, PSSI justru …

Achmad Suwefi | 7 jam lalu

Belajar dari Jokowi memilih 9 Wanita …

Imam Kodri | 7 jam lalu

Jokowi Merekrut Orang Gila Agar Bisa Tetap …

Ahmad Maulana S | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: