Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Ryan Eka Permana Sakti

Researcher at Indonesian Research Center for Anti-Money Laundering / Combating Financing of Terrorism (IRCA)| Student selengkapnya

Korupsi, Revolusi dan Generasi Penjembatan

OPINI | 12 March 2013 | 21:22 Dibaca: 180   Komentar: 0   0

Tidak ada sejarah sebuah negara dapat lahir, tumbuh dan berkembang menjadi negera yang kokoh secara finansial, keamanan, sosial-masyarakat, dan politik, karena korupsi. Korupsi tidak hanya disebut sebagai kejahatan luar biasa, namun sekaligus disebut sebagai kutukan yang diciptakan oleh tirani yang rakus akan harta dan kekuasaan. Tidak banyak negara-negara berhasil melalui masa-masa sulit kepemimpinan sebuah rezim yang sangat busuk di dalamnya karena praktek korupsi terjadi secara masif dan menahun. Negara itu akan terus terinfeksi oleh virus korupsi yang menjangkiti seluruh organ negara. Karena pemimpin yang meninggalkan bangsanya dengan kesengsaraan akibat perilaku khianat atas sumpahnya saat diangkat, meninggalkan dampak negatif dari apa yang telah diperbuatnya.

Bukanlah hal yang aneh apabila negara-negara yang pemimpinnya korup sulit menjadi maju. Daron Acemoglu dan Jim Robinson telah membuat sebuah perbandingan antara Inggris Raya dan Mesir, dengan melihat bagaimana kedua negara tersebut berkembang semenjak abad ke-17. Acemoglu dan Robinson mengatakan di dalam bukunya yang berjudul Why Nation Fail, bahwa Inggris menjadi lebih kaya dan makmur karena pada tahun 1688, Inggris melakukan sebuah upaya revolusi politik dan perekonomian bangsanya. Rakyat menuntut hak-hak politik mereka atas negara serta hak ekonomi mereka agar terus berkembang, hingga kemudian munculah revolusi industri.

Rakyat Inggris mendobrak batas-batas tirani, ekslusifitas dan korupnya para pemimpinya, dengan menghentak semua sisi kehidupan mereka, menutup celah terjadinya korupsi besar-besaran sejak abad ke-17. Namun, Mesir lupa untuk melakukan hal yang sama, dan akhirnya sejak saat itulah Mesir dipimpin oleh pemimpin tiran dalam jangka waktu yang lama. Hingga pada tahun 2011 lalu berhasil melakukan revolusi secara besar-besaran. Namun dampak infeksi korupsi itu sendiri masih terjadi, menjadi suatu tantangan besar bagi mereka yang memimpin Mesir hari ini.

Indonesia. Dipimpin oleh mereka yang ada di posisinya bertahun-tahun lamannya. Diawali dari Soekarno hingga Soeharto yang selama 32 tahun memimpin negeri ini. Soeharto memimpin 32 tahun dan alhasil lebih dari 32 Miliyar Dollar Amerika uang negara ia korupsi. Meskipun terakhir aparat penegak hukum kita dapat mengembalikan aset-aset yang ia curi senilai 32 Milliyar Dollar Amerika tersebut, namun banyak para praktisi dan ahli yang meyakini masih banyak aset-aset hasil korupsinya yang belum dapat dikembalikan untuk negara. Dibanyak literatur terkait korupsi dan pencucian uang, Soherato bahkan masuk sebagai orang nomor satu terbanyak di dunia yang mengkorupsi uang negaranya sendiri saat menjabat.

Ia mengkoyak konstitusi, mengancam mitra kerjanya, memberikan tekanan pada rakyat yang ingin mengkritisi kinerjanya, membeli keadilan demi kepentingan sedikit orang disekitarnya, banyak orang yang diculik dan tidak diketahui keberadaanya dan kini kami generasi muda harus mewarisi dampak dari apa yang ia lakukan.

Generasi di atas kami sebagian masih mewarisi praktek-praktek birokrasi yang korup, tidak prikeberpihakan pada golongan, menindas yang lemah, lupa bahwa kami akan menjadi penerus mereka. Lalu kemudian muncul pendapat bahwa harus ada pemotongan generasi. Semua kepemimpinan akan diberikan pada para idealis-idealis muda. Apakah hal tersebut relevan dan masuk akal?

Para pemuda sudah lelah mendengarkan keluhan-keluhan masyarakat di media, bahwa mereka tidak dapat fasilitas kesehatan, mereka tidak mendapat bantuan bagi kehidupan mereka, pendidikan tidak terjangkau. Kelelahan ini bukan semata karena tidak peduli. Para generasi muda ini ada dipersimpangan yang sulit untuk bergerak.

Mengambil dan/atau mengubah kebijakan hal yang tidak mungkin, menggantikan peran pemerintah itu sulit, mengkritik tak didengar. Lantas harus bagaimana para pemuda ini mengambil sikap?

Saya pikir bangsa ini membutuhkan jembatan lintas generasi. Pemuda hari ini jangan lagi menyebut diri sebagai generasi muda. Kita adalah generasi penjembatan antara generasi tua dan muda, yaitu mereka yang akan segera berubah menjadi seperti kita dalam 5-10 tahun ke depan. Kita namakan diri sebagai generasi penjembatan untuk memperjuangkan nasib-nasib pemuda-pemudi yang akan muncul dalam periode tersebut.

Korupsi, kolusi, nepotisme, premanisme, kejahatan-kejahatan harus kita upayakan hilang. Kita menjadikan diri sebagai entitas yang semata mempersiapkan kehidupan yang lebih baik. Bayangkan apa yang akan terjadi 5-10 tahun ke depan, saat hari ini kita sudah memperjuangkan untuk membersihkan negeri ini dari banyaknya kenistaan sifat manusia tersebut. Maka adik-adik kita tidak perlu memutar demi menyeberangi sungai yang tidak deras airnya namun memang cukup jauh jaraknya. Karena kita hadir sebagai jembatan bagi mereka. Begitu banyak yang dapat dan telah dilakukan oleh generasi kita saat ini. Mereka membangun rumah-rumah singgah dan belajar, menciptakan lapangan kerja melalui wirausaha kreatif dan mandiri, memberdayagunakan masyarakat non-produktif untuk tetap bekerja, mendidik anak-anak di pelosok Indonesia agar mereka terus dapat menempuh pendidikan hingga tinggi, dan banyak cara-cara yang dilakukan.

Bukan hal mustahil bagi orang-orang tangguh, kreatif dan hebat seperti generasi kita saat ini. Melunturkan egoisme diri. Seperti layaknya masyarakat di negara-negara lain, yang berani melakukan revolusi, maka revolusi bagi kita bukan saat 1998 pecah, namun revolusi senyap yang akan kita lakukan melalui cara-cara lainnya. Mereka dapat hentikan dampak-dampak korupsi sejak berabad-abad lalu, dan generasi hari ini, sangatlah maju. Hari ini mungkin Soeharto dan pemimpin-pemimpin korup lainnya telah mati, namun bukan berarti tugas kita terhenti. Karena pemimpin-pemimpin negeri ini sudah harus terganti, cepat atau lambat. Dan kitalah yang mempersiapkan semua mimpi dan cita itu.

Ditulis oleh Ryan Eka Permana Sakti | Peneliti pada Indonesian Research Center for Anti-Money Laundering and Combating Financing of Terrorism (IRCA) | FH UI 2009 | Aktivis Dakwah Serambi FHUI |

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mereka Meninggalkan Ego demi Kesehatan …

Mohamad Nurfahmi Bu... | | 31 October 2014 | 00:51

Rokok Elektronik, Solusi Stop Merokok yang …

Gaganawati | | 31 October 2014 | 01:19

Profit Samsung Anjlok 73,9%, Apple Naik …

Didik Djunaedi | | 31 October 2014 | 07:17

Ihwal Pornografi dan Debat Kusir Sesudahnya …

Sugiyanto Hadi | | 31 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Kabinet Kerja Jokowi-JK, Menepis Isu …

Tasch Taufan | 9 jam lalu

Saat Tukang Sate Satukan Para Pendusta …

Ardi Winata Tobing | 11 jam lalu

Jokowi-JK Tolak Wacana Pimpinan DPR …

Erwin Alwazir | 11 jam lalu

Pengampunan Berisiko (Kasus Gambar Porno …

Julianto Simanjunta... | 13 jam lalu

Mantan Pembantu Mendadak PD, Berkat Sudah …

Seneng | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | 8 jam lalu

Ketika Lakon Itu Kembali Dimainkan …

Sarie | 8 jam lalu

Negeri Suka Tandingan …

Didi Eko Ristanto | 9 jam lalu

Hasil Evaluasi Timnas U-19: SKILL, Salah …

Achmad Suwefi | 9 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: