Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Yulius Benyamin Seran

Membaca adalah cara saya mengenal pemikiran seorang penulis. Sedangkan menulis adalah cara saya menemukan ide selengkapnya

Hercules & Asas Praduga Tidak Bersalah

REP | 10 March 2013 | 03:26 Dibaca: 1387   Komentar: 6   0

Ketua Umum Organisasi Masyarakat Gerakan Rakyat Indonesia Baru (GRIB), Hercules Rozario Marshal ditangkap bersama puluhan pemuda, Jumat 8/3/2013.  Menurut kata berita di berbagai media baik eletronik maupun cetak, Hercules dan anak buahnya melakukan pemerasan terhadap salah satu pengusaha.

Dalam keterangan pers yang disampaikan oleh Kasat Resmob Polda Metro Jaya AKBP Herry Heryawan, dikatakan “mereka (red, Hercules, cs) melakukan pemerasan ke salah satu pengusaha” dan seterusnya (silahkan disimak di http://www.youtube.com/watch?v=iHZqiz6Jx6A). Dalam jangka waktu 1 X 24 jam, nama baik, harkat, martabat dan derajat seorang Ketum GRIB yang begitu disegani dan dihormati oleh para anggota dan simpatisan GRIB, telah distigmanisasi lewat pemberitaan yang terlanjur heboh, sebagai seorang pemeras.  Benarkah, Hercules adalah seorang pemeras?

Secara pribadi, saya tidak begitu kenal terhadap kepribadian Hercules,  namun karena namanya sering dikaitkan dengan berbagai aksi premanisme di Jakarta, hingga nama kawasan Tanah Abang yang sudah ada sebelum lahirnya Hercules pun selalu dilekatkan di belakang nama Hercules, membuat saya dan kita semua menjadi kenal namanya saja. Penggalan opini hukum yang sedang saya bagikan ini, mengajak seluruh masyarakat pecinta keadilan untuk merenung sejenak dan temukan jawaban atas pertanyaan, Masih adakah Asas Praduga tak bersalah untuk seorang Hercules?

Pertanyaan ini muncul bukan tanpa alasan, mari kita analisa bersama!

Seandainya, ada seorang pengusaha telah melaporkan secara sah menurut hukum (KUHAP), kepada petugas kepolisian yang berwenang, bahwa dia telah menjadi korban pemerasan yang dilakukan oleh Hercules cs, maka atas dasar laporan tersebut sesungguhnya penyidik sudah memiliki alasan hukum untuk segera melayangkan surat pemanggilan resmi kepada Hercules, cs untuk menghadap  ke Polda Metro Jaya demi dimintai keterangannya.



Namun, justru yang terjadi adalah petugas kepolisian dari Polres Jakarta Barat dikabarkan melakukan apel di lokasi dimana terjadi pemerasan dimaksud. Apel yang dilakukan tersebut tentu tidak ada yang salah, apalagi sudah merupakan rutinitas dalam rangka pemerantasan premanisme.

Akan tetapi, ketika alasan “pemerasan” diangkat ke publik pasca penangkapan terhadap Hercules, maka kata “pemerasan” menjadi tema sentral yang menarik untuk dianalisa lebih lanjut, dalam opini sederhana ini.

Berikut adalah catatan kronologis penangkapan versi AKBP Herry Heryawan,  yang intinya dikatakan bahwa, waktu itu petugas sedang apel bersama di lokasi ruko balmon telep yang rawan terjadi aksi yang meresahkan masyarakat sebagai tindakan prefentif, kelompok ini merasa tidak puas dan di depan peserta apel mereka mecahin kaca menunjukkan ketidaksenangannya, ada mobil anggota polisi yang dipukulin, ada juga mereka membawa senjata tajam yang ditunjukan di depan para peserta apel, kemudian terjadi sedikit ketegangan, kemudian petugas melakukan upaya paksa penangkapan terhadap Hercules dan 43 anak buahnya. (silahkan kelik disini:http://www.youtube.com/watch?v=iHZqiz6Jx6A)

Menurut hemat saya, apabila kronologis kejadiannya seperti yang disampaikan di atas, maka alasan penangkapan terhadap Hercules yang logis yuridis dan lebih mendekati logika hukum adalah “kerena Hercules tertangkap tangan sedang melakukan tindakan kekerasan, atau intimidasi”.  Sedangkan, alasan “melakukan pemerasan” lebih tepat digunakan apabila pada saat petugas menerima laporan, kemudian merapat ke TKP dan mendapatkan Hercules seketika itu sedang berada di areal ruko dan sedang melakukan pemerasan terhadap korban atau pelapor.

Apalagi, Hercules dalam keterangan persnya, usai diperiksa di Polda Metro Jaya mengatakan “karena di lokasi itu rumah saya disitu, jadi saya pulang dari kerja, saya mau ke rumah saya, sebelum ada apel itu, pak kapolsek sudah telepon saya dan saya sudah bicara sama kasat resmob, bahwa bapak-bapak dari polres mau ada apel, saya bilang oke gak masalah, kalau memang dari polres mau ada apel disitu nda ada apa-apa, saya mau pulang ke rumah saya, nah disitu ada salah satu orang/pihak menejemen disitu perempuan, namanya ibu candra, aparat kan lagi lagi ada apel kan, dia tangannya begini-begini-begini, saya marahin dia, saya omelin dia, kamu ngapain kalau memang bapak-bapak dari polres mau apel, biarin aja ngapain kamu so, seolah-olah kamu mau ngaturkan. nah itu itu persolan, habis itu saya minta maaf  sama kanit resmob polres, minta maaf atas saya marahin itu, trus kami salaman, saya suruh apel lanjut,  saya pulang ke rumah trus dari situ bubar,,,,,, dst

Apabila kita mencermati kronologis penangkapan versi Maun Hercules tersebut di atas, ada dua fakta hukum yang tidak dapat dipungkiri. Fakta pertama, bahwa rumah kediaman Hercules berada satu lokasi dengan ruko yang menjadi objek pemerasan. Artinya, Hercules berada di lokasi apel karena memang beliau tinggalnya di lokasi tersebut sehingga tidak dapat dimaknai secara situasional bahwa Hercules datang untuk membubarkan apel tersebut. Fakta kedua, Hercules tidak melakukan pemerasan seperti yang dipublikasikan. Jika, Hercules diduga telah melakukan tindak pidana pemerasan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 368 KUHP, jo Pasal 425 KUHP, mengapa Penyidik Polda Metro Jaya tidak melakukan pemanggilan terlebih dahulu, atau dengan melakukan penyamaran dan penggrebekan pada saat Hercules sedang melakukan yang namanya pemerasan tadi.

Pada akhirnya, alasan “pemerasan” dalam upaya paksa penangkapan terhadap diri Hercules yang dilakukan oleh petugas gabungan tersebut, saya berasumsi tidak patut dikomsumsi oleh publik, kecuali pada akhirnya terbukti melalui sebuah proses peradilan pidana, yang didukung dengan alat bukti yang cukup, serta memenuhi unsur-unsur pemerasan sebagaimana disebutkan dalam Pasal 368, 425 KUHP dan yang paling terpenting adalah telah ada putusan pengadilan yang menyatakan bahwa Hercules bersalah melakukan tindak pidana pemerasan secara sah dan meyakinkan serta telah berkekuatan hukum tetap.

Apabila pada akhirnya, Hercules tidak terbukti melakukan tindak pidana pemerasan sebagaimana yang telah dipublikasikan, maka Hercules dapat memulihkan nama baiknya sebagai seorang Ketua Umum GRIB yang telah dilecehkan melalui berbagai pemberitaan miring yang menyebut dirinya melakukan pemerasan. Alangkah lebih hormat, apabila pernyataan dan keterangan yang disampaikan kepada masyarakat luas melalui media, didahului dengan kata “diduga” telah melakukan tindak pidana pemerasan.

Jadi, sebelum Pengadilan Negeri Jakarta Barat memutuskan bahwa Hercules Rozario Marshal bersalah melakukan tindak pidana pemerasan secara sah dan meyakinkan serta telah berkekuatan hukum tetap, tidak seorang pun berwenang menyatakan Hercules adalah pemeras. Sedangkan, soal kepemilikan senjata api ilegal, intimidasi, pengrusakkan barang, melawan petugas yang sah, hingga tuduhan premanisme adalah bentuk kejahatan yang memiliki dimensi dan karakteristik yang berbeda dan perlu pembuktian secara hukum. Oleh karenanya, nama baik seorang Hercules sudah sepatutnya dipayungi dengan Asas Presumption of innocence demi tegaknya HAM di bumi Pertiwi Indonesia.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Suasana Jalan Thamrin Jakarta Pagi Ini …

Teberatu | | 20 October 2014 | 08:00

Eks Petinggi GAM Soal Pemerintahan Jokowi …

Zulfikar Akbar | | 20 October 2014 | 07:46

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Harapan kepada SBY Lebih Besar Dibanding …

Eddy Mesakh | | 20 October 2014 | 09:48

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Ramalan Musni Umar Pak Jokowi RI 1 Jadi …

Musni Umar | 4 jam lalu

Jokowi Dilantik, Pendukungnya Dapat Apa? …

Ellen Maringka | 4 jam lalu

Ucapan “Makasih SBY “Jadi …

Febrialdi | 11 jam lalu

Jokowi (Berusaha) Melepaskan Diri dari …

Thamrin Dahlan | 18 jam lalu

Lebih Awal Satu Menit Tak Boleh Masuk Ruang …

Gaganawati | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

Antara Sinetron dan Novelnya …

Mauliah Mulkin | 7 jam lalu

Keheningan Ceruk Airmata Ratu Ibu Bangkalan …

Husni Anshori | 7 jam lalu

[Cermin] Tentang Keimanan …

Achmad Yusuf | 7 jam lalu

Mengunjungi Candi Sukuh dan Candi Cetho di …

G T | 8 jam lalu

Televisi Raffi Ahmad Nagita Slavina …

Rahmat Derryawan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: