Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Priyo Handoko

Dosen Fak Syari'ah IAIN Sunan Ampel Surabaya

Tragedi Kematian terhadap Mahasiswa Perguruan Tinggi Kedinasan di Bawah Kementerian Dalam Negari

REP | 07 March 2013 | 17:54 Dibaca: 369   Komentar: 0   0

DR.H.RM PRIYO HANDOKO SS,SH,M.Hum

DOSEN ILMU HUKUM PROGRAM DOKTOR PASCA SARJANA IAIN SUNAN AMPEL

Ketika penulis pulang dari kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya, ditengah perjalanan penulis melihat acara Kabar Siang pada TV ONE yang sedang mempertontonkan/menayangkan salah satu kegiatan Perguruan Tinggi Kedinasan di bawah Kementerian Dalam Negeri yang terletak di Sulawesi Utara. Sungguh terkejut sampai merinding penulis melihat tayangan tersebut. Dalam acara tersebut salah satu Mahasiswa yang mengikuti kegiatan tenggelam di sebuah empang/kolam besar sampai menghembuskan nafas terakhir dalam rangka mengikuti kegiatan yang diselanggarakan pihak kampus. Kejadian tersebut terjadi pada tanggal 25 Januari 2013 yang secara kebetulan ada warga masyarakat merekan dengan video ponselnya dan pada gilirannya dapat ditayangkan dalam acara TV ONE Kabar Siang Kamis 7 Maret 2013 pukul 12.14 Wib.

Sejak tahun 2000 sampai dengan 2013 ini sebenarnya kampus tersebut sudah mengalami kejadian serupa (yang mengakibatkan Mahasiswanya mati) beberapa kali dan sampai menjadi perhatian public dan sangat kontroversial. Setelah sekian lama tidak ada kabar kematian dari kampus tersebut penulis sangat terkejut mendengar dari TV ONE tadi siang masih saja terjadi tragedi kematian dalam dunia pendidikan. Sungguh sangat ironis kampus sebagai lambaga pendidikan yang bertanggtung jawab mencerdaskan bangsa dalam proses belajar mengajar terjadi kekerasan sampai dengan mengakibatkan kematian mahasiswanya.

Pendidikan Kedinasan di bawah Kementerian Dalam Negeri tidak didoktrin untuk menghadapi musuh yang mengancam kedaulatan Negara. Lembaga Pendidikan Kedinasan yang dididik untuk mengadapi musuh yang mengancam kedaulatan Negara sudah ditangani oleh Kementerian lain. Apabila cara melaksanakan pendidikan dalam lambaga yang bernaung di bawah Kementerian Dalam Negeri tersebut kasar dan sadis sampai dengan mengakibatkan kematian, maka lembaga tersebut sudah menyimpang dari tujuan pendidikan nasional.” Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Dari beberapa kali terjadi tragedi kematian pada Lembaga Pendidikan Kedinasan di bawah Kementerian Dalam Negeri ini, maka masyarakat berserta pemerintah perlu meninjau ulang eksestensi dari lembaga pendidikan tersebut. Patut dipertahankan atau tidak keberadaan lembaga pendidikan semacam itu, kirana perlu mendapat jawaban yang tegas dari masyarakat luas yang tentunya pemerintah harus mengevaluasi perlu atau tidaknya keberadaan lembaga seperti itu. Sejarah sudah mencatat bahwa Perguruan Tinggi dibawah Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama sudah banyak mengeluarkan alumnusnya yang dapat memimpin bangsa ini. Andaikata tidak ada lembaga pendikan kedinasan seperti itu, maka penulis yakin Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama siap mendidik bangsa untuk menyiapkan pemimpin Negara ini.

handoko@rmpriyohandoko.com

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 6 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 9 jam lalu

Lagu Anak Kita yang Merupakan Plagiat …

Gustaaf Kusno | 10 jam lalu

Edisi Khusus: Kompas 100 Halaman dalam …

Tubagus Encep | 11 jam lalu

Ahok Narsis di Puncak Keseruan Acara …

Seneng Utami | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Perempuan Berkabut Musim …

Budhi Wiryawan | 7 jam lalu

Kado Berwarna Biru Dari Alex …

Agustina | 7 jam lalu

Cerita dari Kotamobagu, Kota Terkecil di …

Ferdinand Mokodompi... | 7 jam lalu

Rakyat Miskin Tidak Boleh Sakit …

Emilia . | 8 jam lalu

Tak Ada Tionghoa Kristen atau Islam, Semua …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: