Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Sutomo Paguci

Pewarta warga mukim di Padang | Advokat | Nonpartisan | Menulis sebagai rekreasi

KPK Bakal Kebanjiran Kasus LHI

OPINI | 01 March 2013 | 09:39 Dibaca: 2697   Komentar: 48   12

Bangsa ini barangkali perlu berterima kasih karena ada media seperti Majalah Tempo yang berani luar biasa melakukan investigasi terhadap kasus-kasus korupsi kelas kakap yang dilakukan petinggi swasta, pejabat pemerintah, legislator, dan petinggi partai.

Satu diantara yang masih hangat diberitakan Majalah Tempo (Edisi 25 Februari - 3 Maret 2013) adalah dugaan pidana gratifikasi Rp.2 miliar sebagai fee yang diterima Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sekaligus anggota Komisi I DPR RI Luthfi Hasan Ishaaq (LHI), melalui perantara Ahmad Fathanah (AF), dari PT Cipta Inti Permindo Yudi Setiawan.

Uang Rp.2 miliar itu telah diserahkan oleh Yudi kepada AF dan besar kemungkinan telah diterima oleh LHI. Bukti serah terima uang ini menurut pengakuan Yudi ada dibuat dalam bentuk tertulis (kwitansi). Jadi, secara hukum sudah memenuhi dua syarat alat bukti, yakni bukti surat (kwitansi) dan saksi-saksi (AF dan Yudi). Tinggal lagi KPK bergerak menyidik dan mengumpulkan alat bukti tersebut.

Uang yang diduga diterima LHI melalui AF tersebut sebagai fee atas bantuan LHI melobi Bank Jabar dan Banten (BJB) melalui Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, yang juga kader PKS. Melalui sambungan telepon Yudi-Heryawan terjadi tawaran dari Gubernur Jabar tersebut pada Yudi, yakni janji Gubernur untuk mempertemukan Yudi dengan Komisaris BJB. Sampai kemudian mengucurkan kredit BJB pada PT Cipta Inti Permindo.

Pengucuran kredit BJB pada PT Cipta Inti Permindo tersebut luar biasa seperti sulap. Yang diminta oleh PT Cipta hanya Rp.76 miliar namun yang dikucurkan oleh BJB, dikasih atau membengkak jadi Rp.250 miliar! Jika dugaan kongkalingkon ini benar, artinya, LHI-AF ikut terlibat dalam pembobolan BJB. Keduanya dibantu oleh Ahmad Heryawan.

Tidak cukup sampai di situ, masih menurut laporan Majalah Tempo, LHI melalui perantara AF juga menerima sedikitnya Rp.16,284 miliar sebagai fee proyek di Departemen Pertanian. Ada lagi fee untuk proyek kopi 2013 disepakati sebesar Rp.1,562 miliar, namun masih ada kekurangan fee Rp.300 juta dari jumlah itu yang belum dibayar. Kemudian, ada lagi uang fee sebesar Rp.950 juta dengan bukti cek BJB. Menurut Yudi, dana yang diterima LHI melalui AF tersebut baru sebagian, masih ada dana-dana lain.

Hanya dari satu sumber saja, yakni PT Cipta Inti Permindo, LHI melalui AF diduga telah menerima gratifikasi setidaknya Rp.20 miliar lebih. Bayangkan, hanya dari satu sumber. Bagaimana dengan kemungkinan sumber-sumber lain.

Karena itu, KPK sebaiknya tidak berhenti pada kasus suap PT Indoguna sebesar Rp.1 miliar pada LHI melalui perantara AF. Melainkan juga semua kasus-kasus lain yang melibatkan AF dan LHI, yang ceritanya telah terungkap ke publik. Toh, laporan Budget Goverment Watch berikut bukti-bukti yang disertakan terkait kasus-kasus LHI ini sudah cukup jadi dasar KPK untuk menindaklanjutinya.

Sebagian kasus (pembobolan BJB) memang telah ditangani Kejagung, namun itu tak masalah. Kasus ini bisa ditarik KPK jika diperlukan karena tersangkanya sama, atau, dibiarkan Kejagung yang menangani kasus ini dengan supervisi KPK.

Dalam artikel lain bertajuk “Kasus Sapi: Adakah Fulus Haram Mengucur ke PKS?” saya mengulas kemungkinan ada dana haram yang bersumber dari korupsi dan pencucian uang yang diterima PKS. Sehubungan dengan itu, akan lebih baik jika pembuktian oleh penyidik dan penuntut umum KPK terhadap tersangka AF dan LHI, juga meliputi kemungkinan adanya aliran dana haram ke PKS.

Pembuktian kemungkinan aliran dana ke partai demikian sangat penting untuk pembersihan sumber pendanaan partai ke depan, apalagi momennya pas di tahun politik menuju 2014 ini. Dimana partai-partai sedang berlomba mencari dana untuk perhelatan pemilu 2014.

(SP)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menengok Harga BBM dan Cara …

Tjiptadinata Effend... | | 28 August 2014 | 18:04

BBM Menguji Dua Kapasitas Kepemimpinan …

Jusman Dalle | | 28 August 2014 | 15:41

Foto Dicuri, Om Dedes Descodes Ngetop …

Widianto.h Didiet | | 28 August 2014 | 17:02

Masih Soal Final Piala Dunia 2014 …

Ahmad Khadafi | | 28 August 2014 | 16:28

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Mafia Migas dibalik Isyu BBM …

Hendra Budiman | 5 jam lalu

Pelecehan Seksual pun Terjadi Pada Pria di …

Nyayu Fatimah Zahro... | 11 jam lalu

Jokowi dan “Jebakan Batman” SBY …

Mania Telo | 11 jam lalu

Kota Jogja Terhina Gara-gara Florence …

Iswanto Junior | 14 jam lalu

Dulu Saat Masih Dinas, Kakek Ini Keras …

Posma Siahaan | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Membangun ‘Candu’ Budaya …

Irman Syah | 7 jam lalu

Bahasa Asing Bisa Menambah Kecerdasan Anak …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Festival Film Indonesia 2014 …

Wurry Parluten | 8 jam lalu

Dhimas Juara, dan Menemukan Jalannya …

Thamrin Sonata | 9 jam lalu

Jatah Kursi Parlemen untuk Jurnalis Senior …

Hendrik Riyanto | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: