Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Palti Hutabarat

Hanya ingin berbagi reportase dan opini. Semoga bermanfaat bagi semua kompasianer. Staf Perkantas Riau. Inisiator Jaringan selengkapnya

Rasyid Tidak Bersalah?

OPINI | 20 February 2013 | 04:13 Dibaca: 1795   Komentar: 0   1

Sidang kedua tersangka tabrakan maut Rasyid Rajasa, menghadirkan beberapa saksi. Empat saksi kunci yang didengarkan kesaksiannya, yakni Frans Joner Sirait (sopir Daihatsu Luxio), Enung dan Eman (orangtua korban meninggal atas nama Raihan) serta Supriyanti (penumpang korban luka).

Dari keterangan saksi, kuasa hukum Rasyid, Ananta Budiartika, menyebut kecelakaan di Tol Jagorawi yang menewaskan dua orang, bukan hanya kesalahan kliennya saja. Dia menyimpulkan kelalaian dari pihak lain.

“Ini kelalaian, bukan kelalaian pribadi, termasuk pihak lain juga, ini kelalaian semua pihak,” ujarnya seusai sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Senin (18/2/2013).

Kesimpulan ini diambil karena pada persidangan, Kuasa hukum Rasyid lainnya, Riri Purbasari Dewi, dalam persidangan memang sempat menanyakan terkait latar belakang mobil Daihatsu Luxio milik Frans. Dia menanyakan soal izin trayek angkutan Daihatsu Luxio tersebut serta modifikasi posisi bangku tempat duduk yang dilakukan oleh Frans.

“Enggak ada (izin trayek dan izin memodifikasi bangku mobil),” jawab Frans sambil tertunduk (kompas.com).

Kuasa Hukum Rasyid sepertinya mencoba mencari celah dari kesalahan Frans yang tidak punya izin trayek dan izin modifikasi. Karena kesalahan itu, Kuasa Hukum Rasyid yakin bahwa kelalaian itu juga menjadi penyebab adanya korban meninggal. Jika hal ini berhasil, maka Rasyid akan terlepas dari jeratan hukum maksimal atau bahkan bebas.

Masih berdasarkan kompas.com, Rasyid di persidangan juga telah membantah bahwa dia telah mengantuk waktu mengendarai mobil. Hal ini dikatakannya untuk membantah tuduhan Frans yang mendengar Rasyid mengaku mengantuk pada saat kejadian.

“Saat itu saya tidak mengatakan mengantuk. Saat itu yang saya katakan, saya bertanggung jawab,” ujar Rasyid.

Anehnya, Pengadilan yang seharusnya bersikap netral malah membuat pernyataan yang membela tersangka. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan humas Pengadilan Negeri Jakarta Timur Janiko MH Girsang.

“Bantahannya Rasyid (soal tidak mengantuk) juga fakta persidangan. Ini dijadikan hakim membuat keputusan,” ujarnya.

Rasyid seperti mendapat dukungan bukan hanya dari Kuasa Hukum, tetapi juga pihak pengadilan. Bukan maksud menuduh yang tidak-tidak, tetapi pernyataan Janiko tadi menunjukkan kecenderungan membela Rasyid. Padahal jika mau membuat pernyataan ada baiknya Janiko tidak menonjolkan bantahan Rasyid.

Satu hal yang paling menyedihkan dari persidangan ini adalah tidak adanya pengakuan bersalah dari Rasyid secara langsung. Meskipun dia mengaku tidak mengantuk, tetapi dia tetap saja melakukan kelalaian dalam mengemudi yang menyebabkan nyawa menghilang. Tak perlu melakukan pembelaan atau celah lain untuk lari dari tanggung jawab.

Bantahan Rasyid yang menyatakan dia tidak mengantuk saat mengemudi sebenarnya tidak tepat dan bisa dijadikan alasan mempeberat hukumannya. Saya saja dalam kecepatan 60 Km/jam pernah menabrak mobil di depan karena mengantuk. Jadi mustahil terjadi kecelakaan jika pengemudi tidak mengantuk. Apalagi Rasyid semalaman tidak tidur.

Entah apa yang akan terus dilakukan Rasyid dan kuasa hukumnya di persidangan yang selanjutnya. Tetapi saya berharap Rasyid mau bertanggung jawab bukan hanya dari segi materi tapi juga dari segi hukum. Toh, dia telah berjanji akan bertanggun jawab.

Sulit mengatakan Rasyid tidak bersalah dalam kasus tabrakan ini. Karena jika dia sendiri tidak merasa bersalah, maka tidak perlu dia mengalami traumatik yang berkepanjangan.

Salam.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Dahlan Iskan, Sosok Tepat Menteri Pertanian …

Felix | | 21 August 2014 | 09:47

Trik Licik Money Changer Abal-abal di Bali! …

Weedy Koshino | | 20 August 2014 | 23:31

ISIS Bunuh Wartawan Amerika dan Ancam Obama …

Ansara | | 21 August 2014 | 10:03

I See All Evil, I Hear All Evil, I Report …

Agustulastyo | | 21 August 2014 | 12:32

Haruskah Semua Pihak Menerima Putusan MK? …

Kompasiana | | 21 August 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Pelajaran dari Sengketa di MK …

Jusman Dalle | 5 jam lalu

WC Umum Tak Kalah Penting dengan Dapur Umum …

Prabu Bolodowo | 6 jam lalu

Hebat, Indonesia Paling Menjanjikan Sedunia! …

Firdaus Hidayat | 7 jam lalu

Jangan Sembarangan Pelihara Ayam di Amerika …

Usi Saba Kota | 7 jam lalu

Menanti Komitmen Prabowo …

Adrian Susanto | 8 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: