Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Ninoy N Karundeng

Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words - Saya selengkapnya

8 Kesalahan KPK Tangkap Luthfi Hasan Presiden PKS Hingga Abraham Samad Ngumpet

OPINI | 03 February 2013 | 08:26 Dibaca: 7906   Komentar: 103   14

Kabar ditangkapnya Presiden PKS Hasan Luthfi Ishaaq menyiratkan bebarapa hal yang sangat menarik. Presiden PKS adalah lambang ketenangan dan kesempurnaan sebuah partai dakwah. Maka berita apapun yang menyangkut Presiden PKS - kata presiden dipilih untuk meninggikan derajat ketua umum partai, juga antisipasi jika tidak menjadi presiden sudah menjadi presiden partai - harus bersifat clean, clear and just, bersih, jelas dan adil. Nah, ada tercatat 8 kesalahan besar KPK menangkap Lufthfi Hasan ini.

Maka ketika Luthfi Hasan digelandang dan ditahan KPK atas tuduhan korupsi, publik dan kader PKS taklid serta merta terkaget-kaget. Pertanyaan di masyarakat adalah apakah mungkin manusia zuhud, sederhana dan pendakwah seperti Luthfi Hasan melakukan tindakan korupsi?

Satu, berita media massa mengenai penangkapan Lufhfi Hasan Ishaaq yang dramatis menunjukkan ketidakadilan. Presiden PKS ini jelas didzolimi oleh KPK akibat perbuatan melakukan korupsi, karena korupsi adalah hak bagi pemimpin partai manapun termasuk PKS. KPK pun melakukan perbuatan melawan hukum dengan melakukan perbuatan tidak menyenangkan terhadap Presiden PKS yang memiliki kekebalan hukum di mata kader PKS - namanya juga presiden.

Dua, KPK jelas berbuat salah dengan menangkap Lufhfi Hasan dalam kasus daging sapi impor yang nilai korupsinya cuma Rp 40 milyar. Seharusnya menurut logika PKS, Presiden PKS tidak perlu ditangkap dan ditahan karena masih ada koruptor lain seperti Andi Mallarangeng yang tidak ditahan padahal nilai korupsinya ratusan milyar bahkan trilyun rupiah.

Tiga, KPK jelas melakukan tebang pilih dengan melepaskan Maharani sebagai lady escort yang menyertai Ahmad Fathanah. Dengan dilepaskannya Maharani maka menurut kader PKS, ini menunjukkan sikap tebang pilih. Juga pelepasan Maharani yang ditengarai sebagai lady escort anggota jaringan gratifikasi seks menjadi tidak terungkap ke permukaan. Perlu diketahui bahwa para anggota jaringan lady escort untuk tujuan gratifikasi seks sangat kentara namun sulit dibuktikan karena menyangkut daging mentah, bukan daging sapi mentah.

Empat, KPK telah berbuat salah dengan menangkap Presiden PKS. Seharusnya sesuai prosedur tan protap PKS, Suswono dulu yang ditangkap baru Presiden PKS. Harus ada jenjang penangkapan dari yang kecil ke yang besar. Analoginya adalah menangkap Deddy Kusdinar dulu sebagai Direktur Jenderal baru menteri Andi Mallarangeng. Ini juga kesalahan dan kedzoliman karena tidak memberi kesempatan baginya untuk menghilangkan barang bukti.

Lima, KPK mengenakan pakaian khusus KPK yang ukurannya terlalu kecil. KPK seharusnya menyediakan untuk Presiden PKS pakaian khusus tahanan KPK yang lebih besar dengan logo yang lebih besar pula, agar KPK tidak bisa bersembunyi dari kesalahan jika suatu saat tidak terbukti koruptor Presiden PKS tidak terbukti. Dan PKS jelas akan menuntut semua pihak termasuk KPK.

Enam, KPK jelas telah melakukan pelanggaran terhadap para koruptor, termasuk Luthfi Hasan Ishaaq dengan menggunakan nama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Seharusnya bukan KPK namanya namun KPDK (Komisi Pemberantasan Dugaan Korupsi), karena menggunakan kata ‘korupsi’ bagi para koruptor yang belum terbukti korupsi dan belum memiliki dan berketetapan hukum tetap. Seharusnya azas praduga tak bersalah harus ditegakkan untuk para koruptor.

Tujuh, KPK tidak jantan dengan menangkap Presiden PKS tanpa berani menangkap betina Maharani. Akibatnya Abraham Samad sesungguhnya merasa malu tidak berani menangkap dan menahan Maharani yang seksi, muda dan berintegritas tinggi, bertolak belakang dengan Luthfi Hasan Ishaaq, yang laki-laki, tua dan tanpa integritas karena korupsi. Karena itu Ketua KPK Abraham Samad sampai ngumpet segala.

Delapan, penangkapan Presiden PKS jelas konspirasi besar untuk menjatuhkan PKS. Maka jelas karena yang menangkap Lufhfi Hasan Ishaaq adalah KPK, maka KPK terlibat langsung konspirasi ini. KPK wajib dituntut kalau perlu dibubarkan karena melakukan konspirasi. Apalagi tuduhan konspirasi itu disampaikan oleh Presiden PKS yang baru yang sangat zuhud, sempurna, dan rendah hati serta tidak sombong seperti Anis Matta. Jadi tuduhan konspirasi Anis Matta ini pasti benar karena yang ngomong adalah Presiden PKS.

Itulah yang dipikirkan oleh para kader PKS menyangkut berita penangkapan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq. Sungguh tidak adil dan kejam KPK terhadap PKS. Untuk itu maka pantas Abraham Samad, Ketua KPK ngumpet bersembunyi menahan malu karena menangkap LHI. Bukti LHI tidak bersalah adalah dia tertawa-tawa meskipun ditangkap KPK.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Getar Aura Mistis di Sudut Pantai Baron …

Teguh Hariawan | | 21 September 2014 | 07:00

Biang Macet Kota Bogor …

Cucum Suminar | | 21 September 2014 | 07:16

Kompasiana - Yamaha Nangkring Heboh …

Rahmat Hadi | | 20 September 2014 | 21:49

Bingung Mau Buka Usaha Apa? Ini Caranya …

Yos Asmat Saputra | | 21 September 2014 | 06:39

[Daftar Online] Nobar Film “Tabula …

Kompasiana | | 21 September 2014 | 10:33


TRENDING ARTICLES

Pak SBY, Presiden RI dengan Kemampuan Bahasa …

Samandayu | 7 jam lalu

Setelah Ahok, Prabowo Ditinggal PPP dan PAN, …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

MK Setuju Sikap Gerindra yang Akan …

Galaxi2014 | 10 jam lalu

Ini Tanggapan Pelatih Valencia B tentang …

Djarwopapua | 23 jam lalu

Kalau Tidak Mau Dirujuk, BPJS-nya Besok …

Posma Siahaan | 20 September 2014 13:00


HIGHLIGHT

Cinta Cenat Cenut di Usia Matang Manggis …

Fidiawati | 7 jam lalu

Cognitive Neuroscience: Entrance Gate of …

Wahyu Riska Elsa Pr... | 7 jam lalu

Dari Masa ke Masa? …

Fajar Ayu | 7 jam lalu

Budak Gadget …

Yahya Farida | 7 jam lalu

Dharmasraya dan Potensinya Menjadi …

Zulfadli Adha.sp | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: