Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Ninoy N Karundeng

Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words - Saya selengkapnya

Luthfi Hasan, Maharani dan Gratifikasi Seks

OPINI | 01 February 2013 | 09:15 Dibaca: 3312   Komentar: 8   2

KPK melepaskan mahasiswi sebuah PTS di Jakarta Selatan dalam rangkaian penangkaptanganan para tersangka kasus impor daging sapi mentah yang melibatkan Lutfi Hasan Ishaaq. Maharani ditangkap bersama dengan para tersangka lain. Namun setelah menjalani pemeriksaan maka Maharani dilepaskan oleh KPK. Kenapa KPK melepaskan Maharani sementara Maharani berada dan terlibat dalam kasus penyuapan ini? Apakah ada indikasi gratifikasi seks dalam kasus Lutfi Hasan Ishaaq Presiden PKS ini sehingga justru KPK memilih cuci tangan? Ada apa dengan KPK yang melepaskan Maharani?

Juru Bicara KPK dalam berbagai kesempatan menyampaikan sulitnya membuktikan gratifikasi seks. Modus operandi pemberian gratifikasi seks kepada para pejabat seperti anggota DPR, pejabat pemerintah sungguh memrihatinkan. Adalah Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD pun angkat bicara mengenai gratifikasi seks yang bahkan melibatkan ‘pekerja seks komersial, istri simpanan, mahasiswi dan pelajar’ yang dijadikan umpan bagi tercapainya niat untuk memenangkan proyek.

Luasnya bidang kesempatan menjadi ‘broker seks untuk proyek’ bagi kalangan muda, seperti Maharani yang ditangkap di Hotel Le Meridien menjadikan profesi ini sungguh menggiurkan. Di tangan Maharani sebagai escort lady atau lady escort, ditemukan uang sebesar Rp 10 juta. Uang potongan dari Rp 1 milyar untuk tersangka Luthfi Hasan Ishaaq. Seharusnya KPK tetap mendalami dan tidak melepaskan Maharani begitu saja. Tertangkap tangannya Maharani bisa dijadikan pintu masuk untuk mengungkap keterlibatan banyak orang lebih jauh berkaitan dengan dugaan gratifikasi seks.

Sebagaimana diketahui, para pelaksana gratifikasi seks yang bermain hanyalah kelompok itu-itu saja. Maharani dipastikan mengetahui para ‘lady escort’ lainnnya. Dunia lady escort sangat rapi dan sulit untuk masuk ke dalam kelompok itu. Mungkin juga KPK melepaskan Maharani sebagai taktik KPK untuk menjadikan Maharani sebagai justice collaborator. Publik sebenarnya menuntut dan memiliki keinginantahuan lebih jauh keterlibatan Maharani yang ikut tertangkap tangan. Namun KPK ternyata tidak memberikan keterangan lebih. Selepas dilepaskan Maharani, Maharani sudah tidak bisa diketahui keberadaannya. Persis sama dengan Rani dalam kasus Nazaruddin.

Atau KPK justru melepaskannya karena kesulitan untuk membuktikan gratifikasi seks sebagaimana disebutkan oleh Johan Budi dan juga Mahfud MD. Gratifikasi seks adalah keniscayaan dan sangat tampak namun sulit dibuktikan. Sudah tertangkap tangan pun Maharani dalam kasus suap impor daging sapi, bukan daging mentah lainnya, yang melibatkan Luthfi Hasan Ishaaq, Maharani tetap dilepaskan.

Memang susah membuktikan gratifikasi seks ini. Mungkin gratifikasi seks lebih sulit pembuktiannya karena melibatkan daging mentah yang hidup, bukan daging sapi mentah yang mati. Publik kehilangan kesempatan mengungkap kasus gratifikasi seks dengan dilepasnya Maharani. Bisa dimaklumi juru bicara KPK dan Ketua KPK menyebut sulitnya pembuktian gratifikasi seks. Tak hanya mereka pejabat sekelas Mahfud MD pun mengakui kesulitan pembuktian gratifikasi seks. Selamat datang gratifikasi seks di ranah korupsi Indonesia. Maharani selamat datang…

Tags: pks freez kpk

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Bajaj” Kini Tak Hanya Bajaj, …

Hazmi Srondol | | 19 September 2014 | 20:47

Ekonomi Kemaritiman Jokowi-JK, Peluang bagi …

Munir A.s | | 19 September 2014 | 20:48

Bedah Buku “38 Wanita Indonesia Bisa“ di …

Gaganawati | | 19 September 2014 | 20:22

Kiat Manjakan Istri agar Bangga pada …

Mas Ukik | | 19 September 2014 | 20:36

Rekomendasikan Nominasi “Kompasiana …

Kompasiana | | 10 September 2014 | 07:02


TRENDING ARTICLES

ISIS Tak Berani Menyentuh Perusahaan yang …

Andi Firmansyah | 9 jam lalu

Mencoba Rasa Makanan yang Berbeda, Coba Ini …

Ryu Kiseki | 10 jam lalu

Fatin, Akankah Go Internasional? …

Orang Mars | 10 jam lalu

Timnas U23 sebagai Ajang Taruhan… …

Muhidin Pakguru | 13 jam lalu

Wajar, Walau Menang Atas Malaysia, Peringkat …

Achmad Suwefi | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Kini Giliran Sepakbola Wanita Papua yang …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Andromax Z, Gw Banget! …

Denny Sindi Pratama | 8 jam lalu

Wow! Perusahaan yang Enggak Mau Daftarin …

Mawalu | 8 jam lalu

Tidak Rasional Mengakui Jokowi-Jk Menang …

Muhibbuddin Abdulmu... | 8 jam lalu

Surat Dari Anak Petani untuk Bupati Sinjai …

Damang Averroes Al-... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: