Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Agus Sutondo

Aku Tetap Sayang dan Cinta Indonesia

Kematian Soeharto dan Tragedi Tampomas II

OPINI | 25 January 2013 | 16:57 Dibaca: 1429   Komentar: 0   0

13591083991728092855

Cerita ini dimulai pada hari ini 32 tahun yang lalu atau tepatnya tanggal 25 Januari 1981, Kapal Tampomas II berlayar dari Jakarta menuju Sulawesi dengan membawa 1054 penumpang terdaftar dan 82 kru kapal serta membawa puluhan kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat. Dalam kondisi badai dimalam hari, beberapa mesin mengalami kebocoran bahan bakar, diduga percikan api timbul dari puntung rokok yang masuk kipas ventilasi maka timbullah kebakaran hebat. sampai keesokan harinya api tidak bisa dipadamkan dan situasi makin tidak terkendali karena penumpang panik ingin menyelamatkan diri masing-masing.

Pada tanggal 27 Januari terjadi ledakan dan membuat air laut masuk keruang mesin yang membuat kapal menjadi miring 45 derajat dan tenggelam sejak 30 jam dari percikan api pertama menjalar. Saat peristiwa Tampomas II terbakar dan tenggelam, umur penulis saat itu baru 14 tahun, Penulis hanya dapat melihat pemandangan yang sangat merindingkan bulu roma tersebut melalui layar monitor Televisi Republik Indonesia yang kebetulan waktu itu hanya ada TVRI saja.

Beredar pula saat itu sebuah kaset yang tidak di jual bebas tentang tragedi mengerikan tersebut……terdengar jerit tangis memilukan dan teriakan Allah Akbar dari seluruh penumpang yang panik, dalam kaset itu juga terdengar suara kapten Kapal Tampomas II yang memberitahukan kepada seluruh penumpang agar bersiap-siap untuk menyelamatkan diri !!! Mengapa kaset tersebut tidak boleh di jual bebas tentu menimbulkan tanda tanya besar ?

Bila anda membaca buku tentang Kapal Tampomas II, kejadiannya lebih tragis lagi……mereka terpanggang di atas Kapal yang terbakar itu, bahkan sebagian dari mereka ada yang sampai memaki Kapal lain yang ingin menolong tapi kesulitan mendekati karena ombak yang besar “PERGI JANGAN TONTON KEMATIAN KAMI”

Lalu diantara hiruk pikuk kepanikan terdengar suara memilukan hati !!!, ” Mama……jangan tinggalkan ita…..! ita takut mama, enggak mau loncat, !! pekik gadis cilik anita pada ibunya yang menggapai-gapaikan tangannya di permukaan air, beberapa menit kemudian ibu muda itu sudah tidak nampak lagi, ia terhempas pada dinding Kapal Tampomas II yang ketika itu sekarat di renggut api, kemudian lenyap di ayun gelombang entah kemana, ita masih mencoba-coba mencari ibunya yang barusan masih nampak melambaikan tangannya. Akhirnya gadis kecil tersebut nekat meloncat, namun jangkauan tenaganya tidak mencapai permukaan laut, ia terjerembab di geladak yang membara, sekejab ita masih meronta, kemudian seluruh tubuhnya menghitam.

Sementara di saat mereka terpanggang Pemerintah Rezim Orde Baru mengeluarkan versi berita bahwa semua baik-baik saja dan sudah tertangani…….SONTOLOYO, apalagi berdasarkan penyelidikan semua kesalahan di tudingkan kepada para awak kapal, ada kesan bahwa kasus ini dengan sengaja di tutup-tutupi oleh Pemerintah saat itu. Tak ada pejabat terkait yang bertanggung jawab, padahal aroma Korupsi dalam pembelian Kapal itu santer tercium, namun tidak ada yang dapat berbuat apa-apa. Era Orde Baru yang menerapkan sistem presidensil yang keras membuat semua bukti tidak dapat di peroleh, dan pihak-pihak terkait saling lempar tanggung jawab.

Akhirnya terungkap juga, ada apa dengan Kapal Tampomas II, ternyata Kapal Tampomas II adalah Kapal bekas buatan Jepang yang sudah berumur lebih dari 25 tahun, hasil investigasi kapal tersebut adalah kapal bekas yang dipoles dan dijual dengan harga dua kali lipatnya. Kapal ini di beli oleh PT.PANN ( Pengembangan Armada Niaga nasional ) dari pihak Jepang, Comodo Marine.Co.SA seharga US$ 8.3 Juta kemudian PT.PELNI ( Pelayaran Nasional Indonesia ) membeli secara mengangsur selama sepuluh tahun kepada PT.PANN, berbagai pihak heran akan mahalnya harga Kapal ini, mengingat pernah di tawarkan ke Perusahaan Pelayaran Swasta lain hanya seharga US$ 3.6 Juta. berbagai pihak termasuk Jepang sendiri telah menyatakan Kapal ini afkir karena telah berumur 25 tahun.

Teringat tahun 1990, saat penulis pernah melintasi perairan masalembo, tepat sembilan tahun sejak tragedi tenggelamnya kapal Tampomas II. Semua penumpang kapal Tidar berdiri, tak ada penumpang yang bersuara, mereka semua berdoa sambil memandang deburan ombak yang pernah jadi saksi tenggelamnya Kapal Tampomas II tahun 1981. Kapal tidar yang membawa kami menuju ujung pandang seakan berhenti dan mengerti bahwa di perairan masalembo ini pernah terjadi peristiwa tragis dalam sejarah pelayaran Indonesia yakni tenggelamnya Kapal Tampomas II. Dalam peristiwa tersebut korban meninggal sebanyak 431 orang, dengan rincian 143 orang ditemukan jasadnya, 288 orang tenggelam bersama kapalnya dan 753 orang berhasil diselamatkan.

Sumber lain menyebutkan angka korban yang tewas di perkirakan jauh lebih besar hingga 666 Orang, perkiraan ini berdasarkan banyaknya penumpang, karena sudah menjadi kebiasaan dan rahasia umum bahwa penumpang gelap yang naik bisa mencapai ratusan orang sehingga diduga yang meninggal dunia juga lebih dari yang diperkirakan, harap maklum waktu itu republik ini masih tabu kalau bicara keterbukaan.

Ada sebuah pertanda yang bisa menjadi renungan buat kita semua, tanggal 27 Januari 1981 jam 12.45 siang, Kapal Tampomas II Tenggelam begitu juga tepat pada tanggal 27 Januari 2008 jam 01.10 siang, Mantan Pemimpin rezim Orde Baru Presiden Republik Indonesia Soeharto, meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Tanggal dan jam yang hampir tepat seakan menjadi tanda bahwasanya dibalik kematian Soeharto, masyarakat juga harus mengenang bahwa tepat 27 Tahun yang lalu ada sebuah tragedi yang tidak bisa dilupakan dalam sejarah buruk pelayaran Indonesia, Tenggelamnya Kapal Tampomas II yang sampai hari ini masih menjadi misteri, siapa sebenarnya yang paling bertanggung jawab akibat tragedi tersebut karena Aksi cuci tangan besar-besaran pemerintah pada saat itu sangat melukai perasaan banyak orang, terlebih keluarga para korban.

Untuk mereka semua yang telah tiada akibat tenggelamnya kapal Tampomas II, marilah kita tundukkan kepala, semoga arwahnya di terima di sisi TUHAN Yang Maha Esa……..Amin

Berita Terkait :

* Dibawah Bayangan Pohon Beringin

* Tes DNA Makam Menteri Orba Akan Dibongkar

* Bangkitlah Menuju Indonesia Yang Berdaulat

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 5 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 6 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 7 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Mencari Azan ke Kampung Segambut …

Rita Kunrat | 8 jam lalu

Wonderful Indonesia: Menelusuri Jejak …

Casmudi | 8 jam lalu

Memanfaatkan Halaman Rumah untuk Tanaman …

Akhmad Sujadi | 8 jam lalu

Jangan-jangan Jokowi (juga) Kurang Makan …

Eddy Mesakh | 8 jam lalu

Susi yang Bikin Heran …

Mbah Mupeang | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: