Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Philip Ayus

menjaga kewarasan lewat tulisan | twitter: @tweetspiring.

Diperkosa: Menikmati? Mending Mati!

OPINI | 15 January 2013 | 14:42 Dibaca: 3333   Komentar: 81   23

Rape is NOT a joke! (foto: Times of India)
Rape is NOT a joke! (foto: Times of India)

Dari semua tindak kejahatan, kejahatan seksual boleh dibilang merupakan kejahatan yang paling tidak bisa dimaklumi. Penipuan, pencurian, perampokan, dan bahkan pembunuhan, kesemuanya itu bisa saja dilakukan karena terpaksa, misalnya karena desakan kebutuhan rumah tangga.

Namun tidak demikian halnya dengan kejahatan seksual, baik itu “sekedar” meraba/mencolek maupun pemerkosaan. Dalam kejahatan seksual, sang pelaku hampir dapat dipastikan tidak memiliki motif keterpaksaan ketika melakukannya.

Seorang pemerkosa, misalnya, tak bisa membela diri dengan mengatakan bahwa ia “terpaksa” memperkosa karena melihat korban yang berpakaian minim. Ia takkan menerima konsekuensi apapun dari siapapun jika tidak memperkosa, sehingga tak mungkin ada keterpaksaan di sana.

Oleh sebab itu juga, pemikiran beberapa orang termasuk mantan Gubernur DKI Fauzi Bowo dan Ketua DPR Marzuki Alie yang hendak “meringankan beban” pemerkosa dengan mempersalahkan pakaian yang dikenakan korban termasuk dalam kategori sesat pikir.

Yang lebih sesat lagi adalah mengatakan bahwa korban dan pelaku sama-sama menikmati (kepuasan seksual). Tragisnya, pemikiran “super-sesat” ini justru bersarang di otak pejabat tinggi kita, yakni Mendikbud M Nuh dan calon Hakim Agung MA Daming Sunusi. Itu belum termasuk Anggota Komisi III DPR yang ikut tergelak ketika mendengar lontaran yang dimaksudkan sebagai candaan Daming tersebut.

Tanpa bermaksud menuduh, mungkin saja mereka pernah menonton film-film porno yang menggunakan plot pemerkosaan sehingga berpikiran seperti itu. Tapi, itu hanya ada dalam film, bukan dalam kehidupan nyata.

Tak ada satupun korban pelecehan seksual dan atau pemerkosaan yang menikmati bencana yang menimpa mereka.

Berita terbaru yang saya baca hari ini mengisahkan tentang Anna, seorang karyawati yang menjadi korban perampokan di dalam angkutan kota di Bekasi, yang kemudian memilih untuk melompat keluar dengan resiko kematian karena takut diperkosa.

Bagi korban atau calon korban kejahatan seksual, wahai pejabat dan wakil rakyat yang terhormat, lebih baik mati daripada diperkosa. Mereka tidak menikmati, melainkan mending mati!

—-

ikuti saya di @Tweetspiring

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Pengalaman Jadi Pengamen Pada 1968 – 2013 …

Mas Ukik | | 23 April 2014 | 21:14

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 12 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 14 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 15 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 15 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: