Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Sutomo Paguci

Pewarta warga mukim di Padang | Advokat | Nonpartisan | Menulis sebagai rekreasi

Mengeluarkan Norma Agama dari Hukum

OPINI | 12 January 2013 | 12:15 Dibaca: 421   Komentar: 30   5

Mungkinkah norma agama dalam pengertian legal formal (formalistik) dapat menekan korupsi di suatu negara/daerah? Barangkali saja iya. Namun fakta yang terjadi sekarang justru sebaliknya. Negara-negara terbersih di dunia dari korupsi bukanlah negara agama melainkan negara-negara sekuler, sila lihat di sumber ini. Finlandia, Singapore, dan New Zealand adalah tiga besar negara paling bersih dari korupsi se-jagad.

Negara-negara agama (atau menjadikan Islam sebagai agama resmi) seperti Arab Saudi, Libya, dan Malaysia kalah telak. Kalau diperkecil skopnya lagi taroklah kita ambil contoh Provinsi Nangroe Anceh Darussalam (NAD) yang menerapkan syariat Islam di daerahnya. Apakah NAD bersih cling dari korupsi?

Mari kita lihat fakta. Tahun 2010 NAD tidak masuk 5 besar provinsi paling bersih dari korupsi se-Indonesia berdasarkan survei Transparency Internasional Indonesia di sini. Bahkan untuk level kota terbersih dari korupsi, Banda Aceh cuma nangkring di peringkat 33/50 kota paling korup se-Indonesia pertengahan 2012 lalu, seperti di sumber ini. Hanya kota Lhokseumawe di NAD yang berada di peringkat 10 besar, berdasarkan sumber yang sama. Pertanyaan sarkastisnya: dikemanakan syariat Islam?!

Taroklah ada yang memberi argumen bahwa syariat Islam di NAD hanya menyentuh norma hukum level Qanun (Perda). Tidak menyentuh level korupsi yang diatur dalam undang-undang. Oke. Akan tetapi tetap saja daerahnya berdasarkan syariat Islam, yang nota bene mengatur perilaku sehari-hari warganya agar sesuai dengan syariat Islam—korupsi (maling) jelas tidak sesuai dengan syariat Islam, bukan? Sekalipun tidak diatur dalam Qanun.

Di level dunia pun demikian. Ini membuktikan dengan sendirinya bahwa penerapan syariat agama secara formalistik tidak berbanding lurus dengan rendahnya kejahatan terutama korupsi di suatu negara. Korupsi merupakan kejahatan yang mesti diperangi dengan rasional dalam segala segi sistem: substansi hukum, struktur hukum, dan budaya hukum. Ketiga subsistem hukum ini mesti bahu-membahu berkelindan saling mendukung.

Jadi mimpi sebagian orang bahwa syariat agama sebagai solusi dari segala kebobrokan masyarakat dan negara tidak ketemu faktanya dalam realitas sehari-hari. Sama saja. Jika sudah masuk kekuasaan akan cenderung korup. Yang mampu keluar dari jerat korupsi adalah sistem hukum yang kuat seperti dicontohkan negara-negara sekuler.

Negara sekuler memang hebat!^_^

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jakarta Community Tampil Semarak di Asean …

Tjiptadinata Effend... | | 02 September 2014 | 19:52

Modus Baru Curi Mobil: Bius Supir …

Ifani | | 02 September 2014 | 18:44

Beranikah Pemerintah Selanjutnya …

Dhita A | | 02 September 2014 | 19:16

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 8 jam lalu

Bebek Betutu Ubud Pak Mangku …

Febi Liana | 10 jam lalu

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 12 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 13 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Perubahan, Dimulai dengan Kesadaran bahwa …

Fidelia Divanika Ku... | 7 jam lalu

Kekuatan Jokowi di Balik Manuver SBY di …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Melamun: Bermimpi tanpa Tidur …

Delu Pingge | 8 jam lalu

Kisah Bus Surat …

Setiyo Hadi | 8 jam lalu

Jalur Lambat Jebres Tidak Beres …

Kun Prastowo | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: