Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Handoyo El Jeffry

Bila ingin mengenal seseorang, bacalah tulisannya. Bila ingin membaca seseorang, kenalilah tulisannya. Bila ingin menulis selengkapnya

Vonis Angie dan Filosofi “Hukum Kentut” dalam Korupsi

OPINI | 11 January 2013 | 21:43 Dibaca: 1579   Komentar: 29   8

13579152181218950634

sumber image: www.nafaspembaharuan.blogspot.com

“Kejahatan terorganisir akan mengalahkan kebenaran tak terorganisir” (Ali ibn Abi Thalib).

Benarkah vonis hakim atas Angie adalah pertanda kemenangan koruptor atas supremasi hukum? Atau kemenangan segelintir orang atas mayoritas? Atau kemenangan kebenaran legal formal-tekstual atas atas kebenaran normatif-material-substansial? Atau saripatinya, kemenangan kejahatan atas kebenaran? Angie divonis 4,5 tahun penjara plus denda Rp. 250 juta. Jauh lebih ringan tuntutan jaksa 12 tahun penjara plus denda Rp. 500 juta, plus uang pengganti Rp. 32 miliar. Dua pertiga tuntutan penjara lepas, Rp. 32 miliar uang negara bablas.

Di ranah legal-formal, putusan hukum (mungkin) sudah adil, meski batasan keadilan tak pernah berujung bagi dua pihak yang bersengketa, dalam hal ini, koruptor versus negara yang diwakili jaksa. Namun di ranah material-substansial, putusan ini (mungkin) masih jauh dari adil, terutama bagi rakyat yang berkepentingan dalam “perang besar” menghancurkan korupsi. Kini kita justru terjebak dalam penjara lingkaran setan “hukum dunia” dengan pasal-pasal dan ayat-ayat tekstual sebagai jerujinya.

Miliaran uang negara, yang notabene uang rakyat hilang hanya karena kekalahan jaksa melawan “jurus bela diri” Angie dalam “pertarungan kebenaran” hukum di meja pengadilan. Penjara gagal menjadi penjera. Penjahat dan “penasehat”nya berhasil memainkan jurus bela diri. Kedua pihak sama-sama benar. Vonis jatuh berpija landasan hukum sah, undang-undang. Lalu jika begitu, siapa yang salah?

Mencari siapa salah dalam praktik penegakan hukum terkait kasus korupsi di negeri ini, sama sulitnya dengan mencari jawaban dari big puzzle korupsi, ibarat mencari sebatang jarum di balik tumpukan jerami. Korupsi, dengan daya hancurnya yang luar biasa bagi tatanan kehidupan bisa dirasakan. Tapi untuk mengurai dan membuktikan di meja pengadilan, mendadak semuanya samar-samar menghilang bak siluman.

Vonis bagi Angie, benar dari kaca mata Angie dan kuasa hukumnya Teuku Nasrullah. Kalau tidak benar mustahil mereka menang. Vonis ini adalah tuah “jurus bela diri” kedua Angie di meja “pertarungan kebenaran” dalam eksepsi di sidang 13 September 2012, taushiah versi Nasrullah lewat kisah khalifah Ali ibn Abi Thalib. “Kebenaran materil harus dibuktikan oleh kebenaran formil. Ketika keduanya tak sejalan, maka tegaknya kebenaran formil harus diutamakan.”

Dalam praktik hukum di dunia, kebenaran legal-formal adalah dasar pijakan. Asas praduga tak bersalah, jangan harap menjebloskan pencuri ayam ke penjara atau menagih denda tanpa bukti dan saksi kuat, sah dan meyakinkan. Kendatipun kita haqqul yaqin wallahi warosulihi, pencurinya adalah tetangga sebelah. Seorang penjahat keji akan bisa melanggang tanpa bukti di meja pengadilan akan kejahatan dan kekejiannya. Ketika pencuri ayam dan penjahat melenggang, siapa yang salah, pelaku atau korban? Ketika keadilan mati, siapa salah, tradisi, sistem atau hukum?

Boleh jadi, kisah tragis kekalahan sengketa di peradilan itulah yang menginspirasi khalifah Ali dengan kalimat, “Kejahatan terorganisir akan mengalahkan kebenaran tak terorganisir.” Atau, “Kejahatan orang berilmu (pengetahuan) akan mengalahkan kebenaran (atau kebaikan) orang awam-bodoh.” Di negeri ini banyak orang berilmu tinggi (formal-agama), namun ironisnya, justru paling jago dalam kejahatan korupsi. Sarjana dan ulama, produk lembaga pendidikan universitas dan pondok pesantren yang seharusnya menjadi motor peradaban, justru menjadi horor kebiadaban.

Habiskah harapan kita pada supremasi hukum yang menjamin tegaknya keadilan di negeri ini? Tentu tidak, karena kita yakin masih ada (hati) nurani dalam dada di antara 250 juta manusia Indonesia. Lalu apa relevansinya dalam hukum, sementara di kalangan ahli hukum (termasuk advokat-pengacara) meyakini tak ada tempat bagi nurani di arena “pertarungan kebenaran” meja pengadilan-hukum negara? Naluri dasar manusia sebagai makhluk pencari laba. Menguntungkan, digunakan, tak menguntungkan, dibuang.

Nasrullah adalah cermin kita, bagaimana nurani dan agama di satu sisi tak “diakui” sebagai ruh penegakan hukum, tapi di sisi lain diperalat untuk memenangi perkara hukum. Apa relevansi taushiah, tasbih dan mushaf Al Qur’an di persidangan? Apa relevansi air mata dan anak-anak pula? Semua jadi relevan ketika berurusan dengan hati nurani, agama dan emosi. Lalu pak hakim (dan kita) “terpancing” (atau tersadar?). Hati nurani terketuk, emosi tersentuh, prihatin hingga simpati, Angie tak layak dihukum berat, bila perlu dibebaskan demi kemanusiaan!

Kini, nilai-nilai etika-nurani, ruh utama hukum agama “gagal libat” dalam legalistik-formalistik hukum negara. Mengurai vonis Angie dan korupsi, tak akan ketemu titik simpul pasti. Dilematis, mendua, ambiguitas dan bias. Sama saja mengurai insiden (maaf) kentut tak bersuara di ruangan tertutup dalam kerumunan manusia. Bau busuk menyengat, tapi zatnya tak terlihat. Dengan aromanya yang khas, kita haqqul yaqin bahwa kentut tengah menyebar di udara. Kita juga haqqul yaqin, bahwa pelakunya pasti salah satu di antara 100 orang. Tapi bagaimana menangkap yang 1% tanpa keliru menuduh yang 99%?

Tak ada bukti dan saksi, mustahil menemukan pelakunya. Tak ada pasal hukum, ancaman pidana atau denda dalam hukum negara. Mustahil negara melarang warganya kentut. Tak ada ancaman dosa dalam hukum agama. Mustahil agama melarang umatnya kentut. Dan sepanjang sejarah peradaban manusia, nyaris mustahil ada orang mengakui “kejahatan” kentut, karena efek buruknya bagi citra. Padahal dari sebuah “insiden” kentut, bisa berfek saling tuduh hingga gaduh, ricuh, dan bisa jadi berbuntut saling bunuh.

Hukum tidak menjamah ranah “perkentutan.” Ia berada di ranah NEN: norma-etika-nurani. Manusia beretika tak akan berani kentut di sembarang tempat. Manusia bernorma akan mencari cara untuk menjaga citra. Dan kalau “insiden” terlanjur terjadi, dengan altruisme-pengorbanannya, manusia bernurani akan berani mengakui “kejahatan” organ tubuhnya, meski beresiko buruk terhadap citra diri dan masa depannya, demi menghindari fitnah yang berakibat permusuhan, perpecahan dan pertikaian.

Filosofi “Hukum Kentut” semoga memahamkan kita akan “pertarungan kebenaran” di meja pengadilan, wabil khusus kasus korupsi dengan sample vonis Angie. Tanpa norma-etika-nurani, hukum dunia mustahil sampai ke fitrah tujuannya, keadilan. Adakah muslim yang meragukan Al Qur’an sebagai kitab hukum paripurna, rujukan solusi atas perkara akhirat dan dunia? Namun, (semua) kitab hukum di dunia hanya akan tinggal blank text belaka, tanpa (ke)sadar(an) hukum penggunanya. Penjara, sanksi, denda, ganti rugi hanyalah karma adil atas kejahatan dalam satuan salah dan dosa.

Untuk memahami khazanah dosa, mungkin kita perlu meminjam kacamata Mahatma Gandhi dengan 7 dosa sosial manusia. Worship without sacrifice (agama tanpa pengorbanan), education without character (pendidikan tanpa watak), science without humanity (pengetahuan tanpa kemanusiaan), wealth without work (kaya tanpa karya), commerce without morality (niaga tanpa etika), politics without principle (politik tanpa prinsip), pleasure without conscience (kesenangan tanpa nurani). Mungkin darinya kita akan mendapat jawaban dari Vonis Angie dan misteri korupsi di negeri ini. Wallahu a’lam.

Salam…

El Jeffry

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jakarta Community Tampil Semarak di Asean …

Tjiptadinata Effend... | | 02 September 2014 | 19:52

Modus Baru Curi Mobil: Bius Supir …

Ifani | | 02 September 2014 | 18:44

Beranikah Pemerintah Selanjutnya …

Dhita A | | 02 September 2014 | 19:16

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 8 jam lalu

Bebek Betutu Ubud Pak Mangku …

Febi Liana | 10 jam lalu

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 12 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 13 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Perubahan, Dimulai dengan Kesadaran bahwa …

Fidelia Divanika Ku... | 7 jam lalu

Kekuatan Jokowi di Balik Manuver SBY di …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Melamun: Bermimpi tanpa Tidur …

Delu Pingge | 8 jam lalu

Kisah Bus Surat …

Setiyo Hadi | 8 jam lalu

Jalur Lambat Jebres Tidak Beres …

Kun Prastowo | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: