Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Musri Nauli

Saya mencatat peristiwa disekitar saya yang sering diperlakukan tidak adil. Dari kegelisahan saya, saya bisa selengkapnya

Tidak Tahu Menurut Hukum (Fictie Hukum)

OPINI | 11 December 2012 | 19:12 Dibaca: 1320   Komentar: 0   0

Lagi-lagi jagat politik dihebohkan dengan pernyataan Presiden “banyak kasus korupsi terjadi akibat ketidakpahaman jajaran Pemerintah terhadap peraturan perundang-undangan.

Pernyataan ini cukup serius sehingga harus diberi atensi penting untuk dibahas agar tidak tersesat “paradigma” penguasa untuk membenarkan perbuatannya.

Dalam periode waktu menjelang pernyataan yang disampaikan oleh Presiden, maka dengan mudah publik akan membaca sebagai langkah politik “pembenaran” yang telah disampaikan oleh Andi Alfian Mallangeng (AM). Presiden diberi informasi yang “kurang akurat” atau pembenaran “laporan” dari AM yang mengabarkan setelah ditetapkan sebagai tersangka dan kemudian menghadap Presiden untuk “mengundurkan diri”. AM “mengadukan” setelah ditetapkan sebagai tersangka dan “mengaku” tidak tahu berbagai ketentuan perundang-undangan sehingga kemudian ditetapkan sebagai tersangka. Dan dengan informasi yang “kurang akurat”, “sesat” kemudian menyampaikan dimuka publik menjelang Hari Anti Korupsi.

Secara prinsip dalam ilmu hukum, tidak dapat dibenarkan seseorang “tidak tahu” apabila diterapkannya sebuah ketentuan hukum. Dengan berlakunya ketentuan sebuah peraturan perundang-undangan, maka setiap warga negara harus “dianggap tahu” sehingga tidak dapat mengelak untuk diterapkan suatu perundang-undangan dengan alasan “tidak tahu”. Asas ini kemudian dikenal dengan istilah Asas Fictie Hukum. Artinya Asas berlakunya hukum yang menganggap setiap orang mengetahui adanya sesuatu Undang-Undang. Sehingga, tidak ada alasan seseorang membebaskan diri dari Undang-Undang dengan pernyataan tidak mengetahui adanya Undang-Undang tersebut.

Bahkan didalam UU No. 4 Tahun 2004 telah tegas dinyatakan, sebuah produk hukum selain berlakunya setelah ditetapkan oleh pejabat yang berwenang, kemudian diundangkan dalam Lembaran Negara dan Penjelasannya sudah dimuat dalam Tambahan lembaran negara, maka semua orang dianggap sudah mengetahuinya dan isi peraturan itu sudah mengikat umum (fictie hukum).

Dalam berbagai literatur disebutkan, fiksi hukum juga diakui. Didalam pasal 3 KUH Perdata yang berbunyi “Anak yang berasal dari seorang perempuan yang hamil, dinyatakan sebagai telah lahir, sekadar kepentingannya menghendakinya. Jika ia dilahirkan mati, ia dianggap sebagai tidak pernah ada”.

Dalam diskusi di kalangan ahli hukum, fiksi ini tidak merugikan kepentingan siapapun. Dia harus dianggap ada sehingga tidak membahayakan kepentingan siapapun.

Dengan demikian, maka dengan mudah orang mengatakan bahwa fiksi perundang-undangan itu bukanlah fiksi sebenarnya melainkan dirumuskan belaka sebagai fiksi.

Dalam sistem hukum yang menganut hukum tertulis/civil law (sistem Eropa kontinental), asas seperti “Ignorare Legis est lata Culpa” atau fiksi hukum yang memberikan amanat bahwa setiap orang dianggap telah mengetahui adanya suatu Undang-Undang yang telah diundangkan. Asas ini kemudian menjadi pengetahuan penting dan diterapkan dalam sistem hukum Eropa Kontinental yang mengagungkan hukum yang bersifat tertulis/ Civil law.

Dengan mengggunakan pendekatan sistem hukum Eropa kontinental/civil law, maka asas ini diterapkan.

Dengan asas inilah, maka terhadap pejabat yang “mengelak” tidak mengetahui “sebuah peraturan perundang-undangan dengan alasan tidak tahu” maka sebenarnya sungguh-sungguh tidak tepat. Dan dengan mudah dan lantang kemudian Abrahama Samad membantahnya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Di Yogyakarta Antri 4 Jam Demi Segelas …

Hendra Wardhana | | 28 August 2014 | 16:35

Ahok: Pro Transportasi Publik atau …

Ilyani Sudardjat | | 28 August 2014 | 12:43

Kompasianer Ini Berbagi Ilmu Pajak …

Gapey Sandy | | 28 August 2014 | 14:56

Ice Bucket Challenge Versi Gaza …

Asri Alfa | | 28 August 2014 | 16:16

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Dulu Saat Masih Dinas, Kakek Ini Keras …

Posma Siahaan | 6 jam lalu

Rieke Diah Pitaloka Tetap Tolak Kenaikan …

Solehuddin Dori | 10 jam lalu

Ahok Nggak Boleh Gitu, Gerindra Juga Jangan …

Revaputra Sugito | 10 jam lalu

Tomi & Icuk Sugiarto Nepotisme! …

Asep Rizal | 11 jam lalu

Sebab SBY dan Jokowi Tak Bicarakan BBM di …

Pebriano Bagindo | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Kabinet Ramping Jokowi: Cukup 20 Menteri …

Roes Haryanto | 8 jam lalu

Listrik dari Sampah, Mungkinkah? …

Annie Moengiel | 8 jam lalu

Sensasi Rasa Es Krim Goreng …

Topik Irawan | 8 jam lalu

Indonesia Abad ke-9 Masehi …

Ahmad Farid Mubarok | 8 jam lalu

Catatan Harian: Prioritas di Kereta Wanita …

Nyayu Fatimah Zahro... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: