Back to Kompasiana
Artikel

Hukum

Ajinatha

Kaum Proletar buruh para Kapitalis yang kebetulan saja hobby menulis..

Hambalang, “Posil Sejarah” Penjarahan Uang Negara

OPINI | 21 November 2012 | 07:55 Dibaca: 383   Komentar: 6   3

Pemerintahan SBY dan Partai Demokrat sebagai partai penguasa, kurang lebih satu setengah tahun lagi akan mengakhiri kekuasaannya. Ada beberapa monumen yang cukup monumental dan fenomenal adalah Kasus Century, Kasus Wisma Atlet dan juga Kasus Hambalang. Kasus-kasus ini akan menjadi monumen sebagai jejak kekuasaan yang arogan.

Kekentalan SBY dan Partai Demokrat adalah sesuatu yang sangat melekat dan tidak bisa dipisahkan. Bicara tentang SBY, tentu saja bicara tentang Demokrat, begitu juga sebaliknya. Citra Demokrat adalah juga menyangkut citra SBY, buruk citra Demokrat maka buruk pula Citra SBY. Euphoria kemenangan Partai Demokrat pada dua Pemilu (2004 dan 2009), dirayakan dengan salah oleh kader partai Demokrat, sehingga banyak kader Demokrat yang diduga tersangkut kasus korupsi.

Kasus Wisma Atlet, Kasus Hambalang yang menyeret para kader Demokrat akan menjadi monumen abadi partai demokrat. Pada monumen itulah akan disematkan nama-nama kader partai demokrat yang tersangkut korupsi. Sebagai partai pemenang dua kali pemilu ternyata disikapi dengan arogan oleh kader demokrat, sehingga sebagai partai penguasa dianggap bisa melakukan apa saja, termasuklah kejahatan korupsi.

Siapa yang bisa menuntaskan kasus Wisma Atlet, Kasus Century juga Kasus Hambalang. ? Rasanya tidak ada yang bisa menuntaskan, karena katanya sebuah proses hukum haruslah ditunjang dengan kelengkapan alat bukti, lantas kalau tidak cukup alat bukti maka tidaklah bisa dilakukan proses hukumnya. Celah hukum seperti inilah yang sudah dimanfaatkan untuk menunda berbagai kasus tersebut diatas, sehingga pada akhirnya kasus-kasus ini hanya akan menjadi monumen sejarah kasus korupsi partai penguasa.

Yang sudah nyata adalah, Proyek pembangunan Fasilitas Olah Raga Hambalang yang akan menjadi Monumen kegagalan Kemenpora dalam melaksanakan amanah rakyat, bahkan komplek bangunan tersebut akan segera menjadi “Posil” sejarah konspirasi penjarahan uang negara. Monumen-monumen tersebut diatas akan menjadi catatan sejarah buruk partai demokrat, juga Pemerintahan SBY.

Siapa pun yang berikutnya berkuasa, atau partai apa pun yang nantinya menjadi partai berkuasa, hendaknya berkaca dari cerminan yang buruk dari apa yang sudah ditinggalkan partai Demokrat dan Pemerintahan SBY. Menjadi partai penguasa tidaklah patut arogan dalam menikmati kekuasaan, tidak juga harus bertindak semena-mena atas nama kekuasaan.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gayatri, Sang “Doktor Cilik” Itu Telah …

Randy Ghalib | | 24 October 2014 | 12:25

Ide Fadli Zon Bangun Perpustakaan & …

Hazmi Srondol | | 24 October 2014 | 08:54

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Tindak Pidana di Indonesia Masih Tinggi, Ini …

Joko Ade Nursiyono | | 24 October 2014 | 08:14

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Jokowi Tunda Tentukan Kabinet: Pamer …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Jokowi Marahin Wartawan …

Ifani | 6 jam lalu

Pelacur Berisi, Berintuisi di Dalam Selimut …

Seneng | 9 jam lalu

Jokowi Ngetest DPR …

Herry B Sancoko | 11 jam lalu

Jika Tak Lulus CPNS, Kahiyang Akan Jaga …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: